Saturday, November 11, 2017

SU`UDZON ALA AUSTRALIA

"Would you please open your bag", pinta kasir supermarket kepadaku. Aku dengan senyum memperlihatkan buku buku dalam tas ranselku.

"OK", katanya dengan mimik robot. Aku memasang kembali ritsleting backpack-ku, membayar belanjaan, mengangkat kantong belanjaan, kemudian melenggang pergi.

Menjadi objek inspeksi itu terjadi sejak awal aku tinggal di Melbourne. Tetapi itu hanya terjadi di supermaket di area kampusku. Kemana lagi aku akan berbelanja harian kalau bukan ke supermarket terdekat, demi menghemat waktuku.

Pada mulanya aku merasa diperiksa itu adalah hal yang biasa sebagaimana aku harus memasuki mall atau kantor megah di Jakarta. Sampai kemudian soal membuka tas itu menjadi gossip di kalangan kami mahasiswa muslim Indonesia.

"Kalau ke Coles kampus, sering diperiksa nggak, tas yang dibawa?" tanya Ani.

"Hampir selalu", jawabku enteng, tidak menganggap itu masalah.

"Mba Lisa coba perhatikan deh. Kalo bule, hampir selalu dibiarkan saja lewat tanpa diperiksa", Wida nimbrung dalam chit chat kami, sambil makan di ruang makan kampus.

"Iya Mba." Ani menambahi. "Aku sih nggak masalah diperiksa. Tetapi suatu hari aku sadar, bule-bule atau cewek- cewek chinese, bisa lewat kasir tanpa diperiksa. Aku koq jadi menghubung hubungkan ini dengan jilbab kita ya?" Kami bertiga saling pandang, serius.

Ketika akan berangkat ke Australia, dalam kelas persiapan bahasa Inggris, salah satu guru kami meyakinkan kami bahwa "You will be OK with your hijab". Bagi kami, muslimah berjilbab, kalimat itu cukup menyokong ketenangan kami dalam belajar. Masa iya sih, pemerintah Australia yang menawarkan beasiswa untuk ratusan Indonesians setiap tahunnya, berani mengambil risiko rusaknya hubungan diplomatik gara-gara jilbab.

Namun, beberapa peristiwa tak nyaman memang terjadi. Salah satu sohibku, berjilbab, dipukul seorang laki laki Ozzi ketika sedang berjalan kaki ke kampus. Konflik itu akhirnya diselesaikan dengan didiamkan, walau kami mahasiswa Indonesia di Monash Uni, sudah melaporkan itu secara resmi ke Konsulat Indonesia.

Di kelas, seorang dosenku pernah berkomentar di depan kelas sebelum ujian, "If you cannot answer the questions, you can ask your God". Ada yang mewakili nuansa kata "God" di kelas itu, secara terang benderang. Siapa lagi kalau bukan aku, sebagai satu satunya siswi yang berhijab di kelas itu.

Lain kelas, seorang dosen menerangkan tentang aspek sosial politik dalam bisnis bahwa "People can kill each other because of their religion". Lagi lagi aku merasa dia menujukan kalimat itu kepada kami, muslim di kelas itu.

"Mba Lisa dengar nggak apa yang si Rudy sampaikan tadi?Tentang religion?" Aku mengangguk lesu, sedih dan jengkel. Professor, yang wawasannya sudah luas sekalipun, seperti itu prasangkanya terhadap Islam yang nota bene dalam kelas MBA itu diwakili secara kasat mata oleh diriku dan Ani.

Namun demikian ada yang menarik ketika terjadi bom Kuningan 2004. Ketika itu aku baru tahun pertama di Melbourne. Keesokan hari setelah bom kuningan berdentum, Direktur Monash Uni langsung membuat edaran via email ke seluruh mahasiswa Indonesia yang sekolah di Monash, bahwa kami berada dalam lingkungan yang aman. Tidak perlu merasa khawatir dengan keamanan mahasiswa Indonesia di kampus Monash. Usut punya usut ternyata ada beberapa orang mahasiswa Indonesia yang tidak berani ke kampus setelah peristiwa bom itu.

Demikianlah sekelumit pengalamanku berhadapan dengan prasangka atau su`udzon Australia terhadap Islam. Semoga keberadaan kami para muslimah berhijab di kelas-kelas universitas dunia, di mana saja di muka bumi Allah ini, bisa menjadi secercah dakwah atau syiar Islam. Aamiin.

Bandung, 13 01 2016
Lisa Tinaria
KERUPUK

Anik mengusap peluh di keningnya yang hitam. Sudah sejak matahari terbit dia berada di bawah matahari. Tadi ketika sang surya baru mengintip, sejuk masih terasa. Sekarang, menjelang tengah hari, panas menyengat punggungnya.

Dibaliknya kerupuk singkong di atas tampah besar, satu per satu. Ada sekitar dua puluhan tampah berjejer rapi di halaman depan rumah beratap seng tua itu. Anik mengernyit ke arah matahari. "Hampir jam sebelas", katanya bergumam sendiri. Dia membalikkan badan, kembali memghadap jemuran kerupuk. Masih tujuh tampah lagi yang belum dibalik.

Lambat dia bangkit dari posisi berjongkok. Berkelebat di pikirannya peer matetimatika yang belum tuntas, singkong di dapur yang belum dikuliti, yang berarti belum diparut, belum dibumbui, belum dibentuk bundar tipis, belum dikukus, belum..., belum..., segala belum. Dia memegang keningnya merasakan denyut di pelipisnya.

"Mbok, aku siap siap ke sekolah", Anik menemui ibunya yang lusuh, di dapur berlantai tanah. Udara di dapur terasa lebih panas, karena asap kayu bakar terkungkung di bawah atap seng.  Si perempuan paruh baya yang penuh kerut itu menoleh kepada anak gadisnya yang terbakar matahari itu. Dia sedang duduk di atas dingklik mencetak kerupuk singkok; menipiskan adonan singkong pada cetakan seng bundar. Sementara tangannya sesekali membuka tutup dandang, memeriksa apakah adonan singkong tercetak bundar dalam dandang, sudah matang.

"Ya Nduk, kamu sekolah dulu". Tangan kanannya tiba tiba mengeluarkan sebagian kayu dari tungku. Api besar hampir menjilat kain sarungnya yang sudah tak jelas warnanya. "Nasi dingin ada Mbok sisihkan tadi pagi. Kamu belum makan tadi kan? Ada kerupuk dan sambal trasi."

Sambal selalu ada. Warnanya mengarah hitam karena dibuat dari cabe rawit yang sudah kering yang hampir dibuang penjualnya. Krupuk selalu tersedia. Hari ini kerupuk dari singkong yang diparut. Ada juga variasi singkong yang diiris begitu saja, tipis, diberi garam, dan digoreng balado. Jika ada kelebihan uang dari berjualan kerupuk, ada harapan akan ada lauk ikan asin kecil kecil yang digoreng kering. Menu paling jarang adalah dadar telur. Bagaimanapun kerupuk adalah menu utama, untuk menyiasati sisa kerupuk yang tak terjual.

Dua beranak itu saling memandang beberapa detik. "Uang ujianmu, nanti akan si Mbok carikan pinjaman di pasar. Insyaallah ada sore ini."

Mata Anik terasa panas. Lusa hari pertama ujian akhir di SMPnya dan bu Puput, wali kelasnya memberi waktu sampai besok untuk pendaftaran ujian.  "Ya Allah, beri aku kesempatan" Anik membatin. Tersayat.

Si Mbok cepat membalik mukanya ke arah dandang. Dia tak ingin anak gadisnya melihat tetesan air di pipinya. Wajah almarhum suaminya, uang ujian, kerupuk singkong, atap bocor di ruang tengah, rok sekolah Anik yang kependekan,  bergantian melintas di benaknya. "Ya Allah, berikan kesempatan itu", doa seorang si Mbok.

Anik sudah memegang piring kaleng berisi nasi dingin, sambal kehitaman dan kerupuk singkong bundar. Dia mengambil satu dingklik lagi dan duduk di dapur, takzim menghadap si Mbok.  Nasi  dan lauk kerupuk  itu disuapnya dengan lahap, lahap yang sama selama lima tahun terakhir. Pemandangan itu hampir menimbulkan air di sudut mata si Mbok. "Hari ini dan besok dan besok, itu `pilihan` lauk yang ada", batinnya bangga bisa memberi makan anaknya.

"Anik pamit Mbok" Anik sudah berjalan mengambil tas kresek, tempat membawa bukunya. Si Mbok bangkit dari dingklik dan susah payah meluruskan punggung. Dia berjalan terbungkuk ke pintu depan mengiringi putrinya. Anik mencium tangan kasar keriput, yang setiap hari memarut singkong itu. Mata keduanya beradu pandang. "Doakan Anik ya Mbok, bisa ujian".

Si Mbok mengusap punggung anaknya, tak mampu berkata. Anik berjalan menjauhi rumah sementara  si Mbok cepat membalik punggung. Sekarang si Mbok punya waktu bebas. Bebas dari belenggu penglihatan anaknya.  Bebas untuk menangis terguguk. "Ya Razak, ya Razak, ..." permintaan tak terkatakan mengalir di hati si Mbok. Perih sekaligus membebaskan.

Bandung, 3 Nov 2015.
Lisa Tinaria
MALAS

Ada sebuah pekerjaan yang aku heran, aku malas mengerjakannya. Sepanjang bisa ditunda, aku akan mencari alasan untuk itu. Karena pikiran negatif terhadap pekerjaan itu, aku mencukupkan mengerjakannya seminggu sekali saja. Lalu aku masih berusaha memilah milah mana yang tidak harus kukerjakan minggu ini. Alias mana bagian yang bisa kutunda lagi, kutunda lagi.  Aku jadi procrastinator untuk soal ini. Pekerjaan apa itu? Menyetrika!

Otakku lebih sering mengatakan bahwa kegiatan itu sebenarnya adalah "sauna" sambil baberes. Lucunya adikku punya cara berpikir yang sama. Kalau sedang desperate dengan setrikaannya dia pasang status "sauna sambil nyetrika"! Untuk membenarkan kebiasaannya, adikku punya beberapa stategi: pilih bahan jilbab yang bahannya  model kusut sekalian, seperti kulit jagung. Rok, ada yang licin, yang kalau menjemurnya digantung rapi, memang tidak kusut. Baju yang banyak dijual sekarang, bahan jersey, eee.... ternyata gak perlu perlu amat disetrika. Baju tidur, cukup dilipat rapi. See.....cukup bermanfaat strategi yang dilakukannya.

Sedangkan aku juga berusaha sehemat mungkin dalam menyetrika, walaupun tidak seefisien adikku. Aku punya rok lipit untuk ke kantor. Ini tidak perlu disetrika. Repot malah kalau berusaha menyetrikanya. Baju tidur dan baju rumah, idem. Sayangnya jilbabku tetap saja harus disetrika, karena bahannya bukan bahan kulit jagung. Bajuku kebanyakan dari katun. Baju bahan jersey, menurutku panas.

Untuk waktu menyetrika, agar tidak "sauna  sauna banget" aku pilih malam, setelah sholat magrib, hanya hari minggu. Aku membuka jendela dan pintu kamarku selama menyetrika. Lalu aku menyelingi menyetrika dengan minum air dingin glek... glek...glek... bergelas gelas.  Aku pilih pakaian wajib dulu: baju seragam kantor. Lalu baju kantor non seragam. Terakhir baju weekendku. Di sinilah aku mulai tawar menawar. Jika persediaan baju santaiku masih ada, menyetrika aku cukupkan sampai di sini.  Celakanya, ada baju yang ingin kupakai tetapi belum kusetrika. Jadilah aku harus menyetrika dadakan sebelum keluar rumah.

Soal menyetrika kepepet waktu ini ada cerita horor pula. Aku pernah balik lagi ke rumah setelah sampai di kantor. Aku ragu apakah sudah mencabut kabel setrika. Dengan berpeluh aku bergegas pulang, membuka kunci pagar dengan berisik, menaiki tangga, membuka pintu kamar, dan,...setrika sudah dicabut! Aku juga pernah menelepon teman kosku untuk meminta dia mengintip ke kamarku lewat jendela apakah kabel setrika sudah tergantung di jeruji besi jendela. Ya, SOPku memang menggantung kabel setrika di sana setelah selesai menyetrika. Alhamdulilah, si kabel sudah bertengger di sana. Pernah terjadi teman yang kumintai tolong sedang jogging ! Untunglah dia hampir selesai.

Kadang aku merenung, sampai kapan aku akan membenci menyetrika. Anehnya aku tak hendak pula meminta si bibik yang membersihkan rumah,untuk menyetrika bajuku. Atau menyerahkan saja bajuku kepada laundry kiloan yang sedang marak bisnisnya saat ini. Otakku jelas mengatakan bahwa menyetrika itu tetaplah bermanfaat. Jelas penampilanku jadi tidak lusuh. Kalo selesai menyetrika, aku senang melihat tumpukan baju yang terlipat rapi.  Tetapi ada satu hal yang aku lalai. Aku belum pernah berdoa KHUSUS untuk dihilangkannya sifat malas menyetrika, walaupun doa anti malas selalu kulantunkan setiap dhuha. Ya, Allah ampuni aku yang selama ini menyepelekan pekerjaan menyetrika. Lindungi aku dari sifat malas khusus dalam menyetrika ini ya Allah.

Bandung, 12 Oktober 2015
Lisa Tinaria
BUTUH BUKU?

Membutuhkan buku (.pdf) berkaitan dengan subjek / bidang atau topik apa?
Buka browser dan ketik:
www.pdfdrive.net
Anda akan mendapatkan akses ke jutaan buku yang Anda butuhkan, gratis.
Download tak terbatas

Anda dapat menelusuri berdasarkan judul atau pengarang, dll.
Saat ini 291.655.787 buku tersedia secara gratis dan setiap menit, sekitar 50 buku baru ditambahkan ke database.
Semua unduhan gratis😊.
Sebarkan pesan ini ....
DI ANTARA DUA PILIHAN - Kandang Babi

"We cannot live in pigpen" (kita tidak bisa hidup di kandang babi), begitu kesimpulan dari pembicara tamu dalam sebuah Oprah Show. Nunik berkerut kening juga mendengar perumpamaan yang dimengertinya itu. Sampai sebegitu kesalnya si pembicara sehingga mengungkapkan statement yang agak kasar itu? Oprah kelihatan mengangguk anggukan kepala menunjukkan persetujuannya atas wejangan sang tamu.

Bahasan dalam acara Oprah ketika itu adalah bagaimana cara menata kehidupan dalam sebuah rumah tangga dilihat dari perspektif barang barang yang ada dalam sebuah rumah. Kunci katanya adalah "menata hidup" bukan "menata rumah". Nunik tak beranjak dari kursinya demi menyelesaikan tontotan itu. "Ini gue banget" batinnya dalam hati.

Permasalahannya dimulai ketika sebuah keluarga hidup dalam sebuah rumah secara bersesakan sehingga tidak ada space lagi bagi anggota keluarga itu untuk berkumpul secara face to face, secara rutin, setiap hari. Rumah mereka bukanlah tipe kecil untuk ukuran Amerika. Keluarga yang digambarkan di acara itu adalah keluarga menengah dengan mobil keluarga dan rumah dengan halaman rumput di depannya.

Si konsultan rumah tangga atau konsultan belanja atau konsultan barang barang, entah apa dia pas disebut memasuki rumah yang dijadikan objek. Dia menunjuk ini itu barang barang di setiap sudut rumah. Di atas lemari yang sudah tinggi besar masih ada kardus kardus. Di bawah kitchen set, penuh dengan peralatan masak dan peralatan makan yang entah dipakai entah tidak. Di ruang tidur anak, mainan berserakan. Di garasi jangan ditanya. Semua peralatan pertukangan dan perbengkelan ada di situ. Sambil menunjuk nunjuk dia bertanya kepada sang empunya rumah "What is it for?" atau "Why do you buy this". Si Ibu menjawab terbata bata. Bingung. Sang suami bungkam, karena dia tak tahu jawabnya.

Adegan berikutnya sungguh menakjubkan bagi Nunik. Keluarga itu -  bapak, ibu dan anak anak - disuruh oleh sang konsultan untuk memilih barang barang di antara milik mereka, yang tidak akan dipakai lagi atau jarang dipakai. Dan apa yang terjadi? Berkardus kardus barang, centang perenang diletakkan di halaman rumput di depan rumah. Rupanya halaman rumput itu tak cukup luas sehingga, barang barang diletakkan di trotoar.

"Can you see" kata si pembicara menunjuk tumpukan barang di depan rumah. Keluarga yang sedang jadi tontonan itu hanya diam, semakin ciut.
Tak berapa lama kemudian datang sebuah mobil yang menurut keterangan Oprah adalah mobil dari organinasi charity, semacam organisasi sosial yang menyalurkan barang barang bekas layak pakai.

Sekarang shot beralih ke dalam rumah. Lagi lagi membuat Nunik ternganga. Rumah itu menjadi lapang, lebih terang, dengan udara lebih mengalir. Keluarga yang jadi "terdakwa" itu sekarang duduk bersama di ruang keluarga dengan wajah lebih cerah. Mereka ditanyai perasaan mereka tentang suasana baru rumah mereka. Semua memberi komentar dengan senyum.

"Demikianlah pemirsa. Kita sering kali tidak mampu memilih ketika belanja. Mana yang dibutuhkan mana yang diinginkan. Setelah barang barang menumpuk, kita juga merasa sayang untuk membuang barang yang sudah tidak kita pakai. Padahal barang barang yang banyak itu telah menyita tempat di rumah Anda. Membuat sumpek, sesak, dan menganggu hubungan dalam keluarga. Tidak perlu ragu apakah akan mempertahankan atau membuang barang. Tetapkan pilihan. Buang atau serahkan barang barang yang jarang atau tak terpakai kepada orang yang membutuhkan. Manusia tidak bisa hidup di kandang babi." Sang pembicara menutup penjelasannya dengan kata kata tegas.

Nunik memasuki kamarnya yang seperti kapal pecah. Di atas lemari ada koper penuh berisi baju. Di salah satu  sudut terdapat tiga kardus bekas kardus rokok. Di bawah tempat tidurnya penuh berjejer kardus bekas mie instan. Di sudut lain tersusun tinggi kotak sepatu. Gantungan bajunya di dinding diganduli beberapa baju dan jaket serta topi. "Aku tak mau hidup di kandang babi". Nunik membatin. Akhirnya sampai juga dia pada  keputusan untuk menyerahkan sebagian barang barang itu ke Mbok Yah.

Bandung, 08 01 2016 -  Lisa Tinaria
DEADLINE

Deadline apa yang paling lekat dengan diriku sekarang dan paling sering aku hadapi dalam hidupku? Deadline laporan keuangan! Betapa deadline itu pernah membuatku jadi seperti orang gila.

Kejadiannya ketika aku bekerja di Kantor Wilayah Pos Sumbagsel di Palembang. Setiap bulan ada deadline pengiriman laporan. Biasanya ini controlable, karena ada prosedur tertentu yang tidak perlu dilakukan. Tetapi deadline laporan di bulan Juni dan Desember, benar benar melelahkan. Prosedur lengkap harus dilalui dan batas waktu pengiriman semakin awal.

Demi memenuhi deadline itu, kami sudah membuat program kerja sebulan sebelumnya. Mengidentifikasi angka angka bermasalah dan meminta pertanggungjawaban pejabat terkait angka itu adalah salah satu cara untuk percepatan penyusunan laporan. Cara lainnya adalah dengan mendatangi beberapa kantor pos di area kerja Sumbagsel, yang cenderung lambat mengirimkan laporan ke Kantor Wilayah.
Ketika datang, kami meminta soft copy dan hard copynya. Ada kalanya kami singgah hanya untuk memgambil laporan itu, lantas melanjutkan perjalanan ke kantorpos lain. Wilayah kerja Kantor Wilayah Sumbagsel cukup luas sehingga pengaturan perjalanan yang notabene lewat darat,  juga ketat.

Ada kalanya kedatanganku beserta tim, juga untuk menutup pembukuan. Ketika itu ada sebuah kantor yang tenaga kerja akuntansinya belum mampu melakukan penutupan akhir tahun. Aku ingat kami melewatkan malam tahun baru di Kantor Pos Muarabungo Jambi. Kantor terletak di tengah kota, di seberang alun alun. Ketika orang ramai berdangdut ria dan memggelar pesta kembang api di alun alun, kami sedang khusyuk memcari selisih pembukuan.

"Nasib ya nasib" kata temanku, sambil memelototi buku lusuh bertulisan tangan yang banyak coretan.  Mulutnya jadi mancung karena tak ridho dengan acara kembang api di seberang kantor.

Pekerjaan aneh yang kami lakukan di malam tahun baru itu tak terelakkan karena keesokan harinya kami sudah harus pindah ke kantorpos lain.

Setelah bahan baku laporan terkumpul dari seluruh kantorpos, mulailah tahapan pengolahan data di Kantor Wilayah. Waktu yang tersedia paling banyak tiga hari, karena batas pengiriman laporan soft copy adalah tanggal 5. Dalam waktu sangat singkat itu kami berubah jadi kelelawar.

Biasanya kami bekerja hingga larut malam. Pernah kejadian aku pulang kantor ketika adzan shubuh berkumandang! Ini gara gara pada malam harinya,  setelah magrib, listrik byar pet dan kantor kami hanya punya genset kecil. Tidak cukup untuk kami -sepuluh orang - bekerja dengan desktop secara serentak.  Mengenaskan memang. Akhirnya kami sepakat pulang dulu untuk mandi dan istirahat, sambil menunggu listrik hidup kembali. Alhasil kami mulai kembali bekerja jam sepuluh malam, hingga pagi.

Ada kejadian yang membuat aku miris. Ketika aku pulang ke tempat kos, setelah magrib, aku bertemu dengan tetanggaku, seorang bapak.

"Baru pulang ya Mbak" sapanya ramah.

Ketika berangkat jam sepuluh malam, kembali ke kantor, aku bertemu dia lagi.
"Berangkat lagi ya Mbak" katanya padaku.

Ketika pulang esok shubuh, aku turun dari becak. lagi lagi bertemu dia! Tetapi dia tak memyapaku.  Tampaknya dia bengong melihatku. Entahlah apa pikiran si bapak itu tentang aku.

Bandung, 27 Oktober 2015
Lisa Tinaria
HUTAN

Jika melakukan perjalanan darat di Jawa dan Sumatera, maka perbedaan utamanya bagiku adalah hutannya.  Selama berdinas di Wilayah Pos Sumatera Bagian Selatan yang meliputi lima propinsi, aku sering melakukan perjalanan menyusuri jalan lintas Sumatera, baik jalan nasional, maupun jalan propinsi.

Pernahkah teman teman menemukan rambu lalu lintas bergambar harimau? Itu kutemukan di daerah Jambi. "Masih ada harimau di sini Pak?" tanyaku pada sopir kantor kami.

"Ya, masih ada yang suka melintas di jalan ini kalau malam hari." Aku agak bergidik mendengar jawabannya, karena beberapa kali kami masih berjalan hingga jam sepuluh malam di daerah Jambi.

Hutan yang rapat, rumah penduduk yang jarang, jalan yang lurus dan mulus, memberikan sensasi tersendiri bagiku ketika melalukan perjalanan dari kota kabupaten satu ke kota kabupaten lainnya. Jumlah mobil yang lewat tidaklah sepadat yang di Jawa. Semua itu bagiku merupakan penghibur  dalam perjalanan.

Ketika sesekali membuka jendela mobil, aku merasakan udara hutan  yang berangin di tengah siang yang terik. Harum pepohonan. Sesekali terdengar suara binatang, serangga,  yang seperti berteriak nyaring.  Serangga apakah itu? Jika menjelang sore, udara menjadi sejuk. Bayang pepohonan memanjang di satu sisi jalan. Senja tiba. Merah mentari, tak terhalang awan, menyeruak di sela lebatnya pohon.

Sepuluh tahun terakhir aku berdinas di Pulau Jawa dan beberapa kali melalukan perjalanan darat dengan kereta api. Walau lebatnya hutan tak seperti yang di Sumatera, sesekali aku masih merasakan bau bumi. Aku masih ingat perjalanan siang hari dengan kereta api ke Semarang. Iringan gerbong kereta membelah hamparan sawah kuning kehijauan yang sangat luas. Di tengah hamparan sawah itu ada jalan kecil lurus  menuju perkampungan. Tampak sekelompok rumah di ujung pandanganku. Dan hei... di latar belakang perkampungan itu tampak hutan. Hijau kebiruan di kejauhan. Tempatnya agak menaik membentuk perbukitan.

Mataku akhirnya terpuaskan juga. Hutan. Baiklah sekarang kusenangkan mata ini melihat pemandangan hijau kebiruan itu.  Bukankah sawah akan menjadi perumahan dan pabrik? Lantas hutan menjadi ladang terbuka yang tak lagi lebat berpepohonan? Sekian tahun lagi?

Bandung, 24 Okt 2015
Lisa Tinaria