Saturday, September 30, 2017

SURYA

I take it so serious. "Jahadu" sebuah istilah yang aku suka, yang artinya jihad, berjuang.

Rasanya tak mungkin aku berangkat naik kereta jam 5 pagi dari Bandung.  Sampai di Gambir, jam 8.30? Hhmm...Naik mobil travel, dengan kondisi jalanan yang unpredictable? Akhirnya kuputuskan menginap semalam di Jakarta, di sekitar tempat acara. The whole day, Jumat, aku excited bukan main. Hei, bahkan sejak Kamis malam aku sudah merasakan hormon endhorphinku meningkat. Makan banyak, bercerita banyak, tersenyum banyak. Ya Allah, inilah sebuah kekuatan dari kata "mimpi".

Pagi ini, oh, aku tidak bisa tidur lagi setelah sholat shubuh (ups, sebuah kebiasaan jelekku). Tempat acara tepat di seberang jalan dari tempat aku menginap. Aku mencari penginapan sedekat mungkin dengan "target". Alhasil aku tiba on time. Bahkan satpam belum mengijinkan aku masuk.

O, ternyata aku tidak sendiri. Mereka lebih duluan datang. Empat orang wanita muda mengerubungi sebuah meja bundar berdaun meja dari marmer putih. Aku mendekat ke mereka.

"Mba, peserta seminar juga?" sapaku.

"Iya" jawab mereka hampir serentak. Sama denganku tampaknya, semuanya berwajah sumringah. Kami berkenalan, bersalaman.

"Lia".

"Lisa".

Kekuranganku, selesai mereka menyebutkan nama, kata nama mereka langsung menguap dari kepalaku. Kecuali satu.

"Surya".

Seorang perempuan muda, usia mahasiswi, menyalamiku. Dia sedang berlutut di lantai di samping meja bundar. Dia menjulurkan tangannya dengan mantap, dari kerendahan, ke arahku yang berdiri. Aku tidak mempermasalahkan mengapa dia tidak berdiri menyambut tanganku, tangan perempuan "jelita" (jelang lima puluh tahun). Mungkin dia sedang membenahi isi tasnya.

Selesai chit chat singkat aku mengundurkan diri dari kelompok sumringah itu.

"Silakan, masuk ke ruang acara, di lantai tujuh", tiba-tiba satpam memgumumkan. Kami berjalan beriringan, berlima. Eh, berenam, ada satu gadis lagi. Aku berjalan agak duluan. Kumasuki lift yang dioperasikan seorang satpam (betapa mewahnya hidup di negeriku; naik lift saja ada petugas tukang pencet tombol lift). Empat orang rombongan sumringah, menyusul di belakangku.

Begitu aku membalikkan badan menunggu rombongan itu, aku merasa tercekat. Salah satu anggota dari kelompok empat itu berjalan mantap. Dengan posisi tetap berlutut? Bukan. Dia bisa berjalan normal, tidak menggunakan tangan sebagai penyangga tubuhnya. Dia memakai sepatu, terlihat mengintip dari balik baju "gamis"nya yang hanya sepanjang lututku. Dia tak punya tulang tungkai. Berdiri di sampingku, tingginya hanya sepinggangku.

Dia berjalan di depanku, sekarang. Kami menuju meja pendaftaran.

"Nama Mba, siapa?" tanya panitia.

"Surya".

Ibu panitia membantu mencari namanya di daftar hadir, kemudian menyodorkan lembar kertas ke hadapan mukanya. Kertas itu sekarang ada tepat di bawah dagunya, yang menyentuh tepi meja. Dia menandatanganinya dengan ceria.

Aku hanya bisa memandang terpana. Malu.  Aku lirik dia yang berjalan gagah, ketika menuju meja minuman, sementara aku menandatangani daftar absen. Kupikir aku adalah manusia paling jaya pagi ini. Ternyata tidak. Dia lebih perkasa daripada aku. Mimpi kami mungkin sama besar, tetapi dia melakukannya dengan resource yang lebih hemat. Bukankah dia lebih "beruntung" daripada aku? Semoga Surya benar-benar menjadi pelita bagi orang-orang di sekitarnya.

Jakarta, Gedung Kompas Gramedia,
1 Oktober 2016
Lisa Tinaria

Sunday, August 20, 2017

BAHASA BANGSAKU

Bangsaku dengan umur 72 tahun adalah bangsa dengan kemampuan berbahasa level tertentu. Masih sulit membedakan mana bus pariwisata, mana pula pariwisata.  Lalu apa pula beda rumah makan dan restoran? Pernah melihat kata `security` di punggung baju seseorang bukan? Apa artinya itu? Para pemasar properti, sering memakai kata `dikontrakan` ketimbang `dikontrakkan`. Keduanya ternyata jauh beda artinya. Beda antara yang tersirat dengan yang tersurat juga terdapat pada kata `marketing`.

Mari kita bergeser ke isi tulisan. Kadang bangsaku kerepotan dalam memilih koma atau titik, dalam menulis, sehingga bisa menimbulkan salah pengertian. Bisa juga mengakibatkan "kehabisan nafas". Nanti, akan diterangkan tentang hal ini. Lantas, lebih dalam lagi, yaitu tentang pokok pikiran. Apa pula itu? Paragraf?

"Aakhkhhh... Pening palak awak ditanya macam itu!" kata Abang yang dari Medan.

Marilah kita urai beberapa kecenderungan berbahasa di atas.

Pariwisata adalah sebuah  kotak ukuran sangat besar, berjendela banyak, beroda minimal empat. Kotak tersebut bisa "menggelinding" cepat, karena memiliki mesin dan mesin tersebut dikendalikan oleh seseorang yang disebut sopir. Beberapa merek terkenal dari kotak beroda tersebut berasal dari Eropa.

Demikianlah pengertian pariwisata, jika diartikan secara membabi buta dikaitkan dengan keberadaan kata itu di bagian atas depan sebuah bis besar. Seharusnya kotak besar beroda tersebut diberi judul `Bis Pariwisata`.

Restoran diambil dari bahasa Inggris `restaurant`. Artinya rumah makan. Kalau ada di billboard sebuah bangunan, tulisan `restoran dan rumah makan` kemungkinan ada dua usaha di sana, atau satu usaha dimiliki dua orang. Atau...atau... Menurutku, satu kata saja cukup : rumah makan atau restoran (bukan pakai kata `dan`).

Security adalah seseorang dengan baju model safari berwarna biru tua atau hitam. Biasanya baju itu berlengan panjang. Tugas orang tersebut adalah menjaga keamanan di sebuah lingkungan biasanya kantor atau mall. Orang ini mudah dikenali dari tulisan `security` di bagian punggung bajunya.

Security juga berarti tempat mangkal atau tempat istirahat orang yang menjaga keamanan tersebut (bingung nggak sih, pembaca?).

Istilah yang tepat adalah `security personnel`. Security artinya sebuah kondisi di mana terdapat keamanan. Security bukan orang, bukan pula pos jaga satpam.

Marketing adalah kata yang sering disandingkan dengan kata `dicari`. Biasanya paduan dua kata itu ada di iklan lowongan kerja. Berarti `marketing` artinya orang? Bukan. Markerting adalah kegiatan untuk mempromosikan suatu barang atau jasa. Orangnya disebut `marketer`. Nah, sekarang kata ini berjodoh dengan kata `dicari`. Yang dibutuhkan adalah seorang marketer untuk melakujan kegiatan marketing.
Bagaimana pula dengan iklan "Dikontrakan sebuah rumah"?

Coba resapi arti kalimat berikut,  "Pendapat A dikontrakan dengan pendapat si B pada acara debat yang dihadiri para petinggi partai itu".

Coba pula rasakan kalimat ini,  "Di kontrakannya yang sempit dia memelihara ayam, burung merpati, kelinci dan kucing".

Pada akhirnya, "Rumahnya di Bekasi dikontrakkan, kemudian dia menyewa apartemen di daerah Pramuka".

Manakah yang di antara ketiga contoh di atas yang cocok artinya dengan `menyewakan rumah`?  Perhatikan kata dasarnya. Secara berurut,  pada ketiga kalimat di atas, kata dasar adalah : kontra, kontrakan dan kontrak. Tiga kata dengan arti yang berbeda.

Sekarang kita beralih ke konten tulisan. Pernahkah teman-teman menemukan meme seperti ini,  "Menurut kabar burung, kamu sakit. Menurut kabar, burung kamu sakit". Sebuah tanda koma bisa mengubah segalanya, pengertian kalimat secara keseluruhan.

Di sebuah perusahaan, konon terjadi kericuhan gara-gara kalimat  ini, "Kewajiban Pajak Penghasilan  25 1 milyar". Ini adalah message via WA dari Bagian Keuangan. Direksi sampai  harus menanyakan ulang ke beberapa pihak kebenaran angka 251 milyar tersebut. Usut punya usut, ternyata kewajiban Pajak Penghasilan (pasal) 25, (adalah) 1 milyar. Hanya 1 milyar, bukan 251 milyar.

 Masih tentang koma, penulis pernah menemukan satu paragraf yang berisi beberapa kalimat tunggal, tetapi kalimat tersebut dipisahkan dengan tanda koma. Mungkinkah penulisnya berpikir bahwa satu paragraf hanya boleh ada satu kalimat? Akibatnya kalimat tersebut menjadi sangat panjang. Pembacanya kehabisan nafas ketika membacanya dengan bersuara.

Satu paragraf, semestinya dibatasi oleh satu pokok pikiran, bukan oleh satu kalimat (yang kepanjangan). Satu pokok pikiran atau satu ide, dapat diuraikan dengan beberapa kalimat tunggal, atau beberapa kalimat majemuk. Contohnya,  pada paragraf ini.

Ngomong-ngomong, apakah pokok pikiran pada paragraf di atas? Alamak, semakin ke sini, semakin susah tampaknya diskusi tentang menulis. Bisa-bisa orang yang awalnya bersemangat 45 untuk menulis, jadi mundur teratur ketika diberi pertanyaan itu.

Akhirnya, untuk menjawab semua "kegalauan" di atas itulah, salah satu sebab KMO hadir. Beberapa tugas tersebut  di antaranya adalah membuat orang yang sudah berniat belajar menulis, mau mempraktikkan `menulis` itu setiap hari. Mungkin KMO juga punya tugas untuk menjadi mentor "one by one" agar benar-benar dapat memperbaiki kemampuan menulis anggotanya. Betapa beratnya tugas KMO.

Akhirnya, dengan segala keterbatasan berbahasa tulis, bangsaku tetaplah  bangsa dengan segala keindahan yang disematkan pada negerinya. Keindahan yang membekas  pada banyak foto dan tulisan. Kecantikan pada warna warna. Bahkan seorang Syahrir dalam bukunya "Out of Exile" menyatakan "I thought nothing, even felt nothing", ketika menyaksikan keindahan alam dari atas kapal, dalam perjalanan pengasingannya ke Banda Neira.

Kepada para anggota KMO, tetaplah menulis dengan manis, tentang banyak hal. Tentang anak bangsa,  juga tentang negeri yang penuh warna.

Bandung, 20 08 2017
Lisa Tinaria

Wednesday, August 16, 2017

DELMAN PULANG KANTOR

DELMAN PULANG KANTOR

"Make a wish", batinku. Aku memandangi dengan masygul benda bising yang bergerak cepat menjauhi tempatku berdiri. Derik roda kereta yang bergulir, berpadu dengan ketukan ladam di jalanan beton, bunyi pecut dan yang paling dominan, bunyi klenengan, kalung  sang kuda. Bunyi itu mengalahkan suara motor dan mobil yang lalu lalang di sekitarku. Suara indah itu mengingatkanku pada masa kecilku : naik delman di Padang.

Aku mendengar bunyi neng nong neng nong itu menjauh. "Insyaallah lain kali", kataku pada diri sendiri sambil melambaikan tangan kepada tukang ojek di seberang tempatku berdiri.

"Jam berapa biasanya delman itu lewat", kataku agak berteriak kepada si bapak tukang ojek yang mulai menginjak gas motornya.

"Sekitar jam lima lewat".

Ah, jam segitu aku baru keluar kantor. Tetapi, just make a wish.

----

Aku mengeluarkan gulungan uang kecil dari kantung depan tasku.

"Berapa, Pak?", tanyaku sambil memandang puas pada dua gelas kosong bekas tempat air kelapa muda, di meja di hadapanku.

Tiba-tiba "neng nong neng nong", berisik yang indah, menjelang dari jalan di bagian arah kananku. Dia menuju ke bagian arah kiriku. Refleks, aku balik kanan dan menyambut si delman dengan lambaian tangan, menghentikan.

"Saya ikut", teriakku girang bukan alang kepalang. Dalam hitungan detik aku kembali ke si penjual air kelapa muda, menyerahkan uang, kemudian meloncat ke atas delman diiringi tuter dari mobil yang terhenti sejenak di belakang sang delman. Cahaya lampu suasana maghrib, menyinari wajahku yang sumringah. Hendaknya pak sopir mengerti itu sehingga tak membunyikan klakson mobilnya. Aahh...

Sore tadi adalah sekitar sebulan sejak aku berkata "insyaallah" tentang delman itu.

Aku tersenyum puas pada sang kusir, seorang pemuda awal dua puluhan. Dia berani menghentikan kudanya untuk penumpang tak biasa seperti aku, yang menghentikannya di pertigaan yang sibuk.

Entah dari soal apa percakapan dimulai hingga sampailah pada soal jual beli kuda. Perjalananku singkat saja, tetapi sesuatu yang baru kutemukan.

"Ada kuda poni", katanya. "Beberapa hari yang lalu baru datang dua ekor dari Jawa Tengah. Harganya sekitar 17 juta dua ekor".

"Ha?!" aku ternganga.

"Semuanya, saya punya enam ekor sekarang".

"Untuk apa kuda itu?" tanyaku lugu.

"Untuk disewa di tempat wisata".

O, aku ingat di dekat kantorku ada kuda sewaan yang ditunggangi anak-anak. Si pawang kuda mengiringi kudanya dengan berjalan terbirit birit, di samping sang kuda yang berjalan santai.

"Ini saya juga sering mangkal di Gazibu. Besok juga ada karnaval. Ini delman, dihias".  Ya, besok adalah tanggal 17 Agustus 2017.

Aku mendengarkan dengan takzim ceritanya. Di belakangku sekarang ada sorot lampu. Baru aku sadar. Mobil itu mengiri kami dengan sabar. Jalan hanya pas untuk dua mobil sementara kendaraan cukup ramai. Aku - entahlah karena apa - tersenyum kepada sang sopir yang tak terlihat. Sekian menit berlalu, sampai akhirnya mobil itu menyalip kami.

Beberapa ruko, rumah penduduk, warung, gang, tempat cucian mobil, tempat pembuangan runtuhan bangunan, kulewati dengan delman itu.

"Saya, punya dua kereta ini", tambah  pemuda kusir, ketika aku melewati sepetak dua hamparan sawah.

Hamparan hijau  dan delman yang kutumpangi, bagiku, adalah paduan yang sesunguhnya. Bukankah begini kira-kira suasana berkendara di kampungku seabad yang lalu? Aku meluaskan pandang pada latar belakang sawah tersebut. Kerlip lampu di lereng perbukitan Kabupaten Bandung, dan bayangan pegunungan nun jauh di sana - dalam remang maghrib - membuatku terdiam sejenak. Tak lama aku bisa bermenung seperti itu.

"Saya turun di sini", kataku segera sadar. Delman hampir melewati jembatan kecil tempat aku biasa menyeberang kanal menuju perumahan tempatku tinggal.

Perjalanan itu tak jauh, kurang dari satu kilometer dari simpang Jalan Kuningan - Jalan Cibodas, menuju arah Parakan Saat. Namun memori yang tersimpan, akan sama langgengnya dengan memori naik delman di masa kecilku.

Akankah  tahun depan, aku masih bisa menikmati hamparan sawah berlatar pebukitan itu, dari atas delman? Entahlah. Mungkin sawah itu sudah berubah jadi perumahan. Mungkin kuda poni sudah semakin jarang. Mungkin juga kereta yang ditarik kuda, sudah tak ada orang yang membuatnya. Mungkin...

Bandung, 16 08 2017
Lisa Tinaria

Saturday, April 1, 2017

SUPERMAN

"Lisa, nanti kita akan bikin kemunitas menulis di Perusahaan kita. Nah, untuk Kantor Pusat, Lisa mau kan jadi mentornya?" Ini pesan dari Vita. Organisasinya yang mengurus segala sesuatu tentang lomba menulis untuk kalangan internal, sampai akhirnya muncul namaku sebagai salah satu pemenang. Salah satu konsekwensi aku jadi pemenang adalah pertanyaan di atas.

"Siaaaaap" langsung kujawab pertanyaan itu. Tampaknya inilah dunia yang kucari: menjadi penulis dan menjadi mentor di komunitas menulis.

Aku mulai membayangkan akan ada pertemuan online dan mungkin copy darat di mana aku akan mengajar, memotivasi, mengoreksi tulisan. Senangnya.

Waktunya kapan? Kupatut - patut diriku. Pertemuan tatap muka tiada lain tiada bukan, hanya bisa kulakukan di luar hari kerja alias weekend. Lantas pertemuan online-nya kapan? Tampaknya aku belum punya gambaran.

"Lisa, saya itu nyetir delapan jam sehari". Aku bertemu Kang Benny di acara workshop kepenulisan yang diselenggarakan Gramedia, minggu lalu. Pembagian waktu menjadi salah satu bahasan kami ketika membincangkan persistensi menulis. Kang Benny, menjelaskan sekilas kegiatan hariannya. Kesimpulannya  beliau punya waktu menjalankan peran sebagai  mentor di group menulis yang aku jadi anggotanya, setelah lewat tengah malam.

Aku langsung membayangkan tawaran Vita tentang "jabatan" sebagai pembina komunitas menulis di kantor. Aku mulai mengukur diri. Jam 8 tet aku sdh harus duduk di belakang mejaku. Aku tipikal pekerja yang fokus di kantor pada jam kerja untuk meminimalisir bekerja di hari Sabtu (walau kadang itu harus terjadi juga). Berarti selama jam kerja aku tidak bisa berfungsi sebagai mentor menulis. Biasanya aku bekerja hingga adzan magrib. Setelah sholat maghrib, baru aku pulang.

Sesampai di rumah aku mempersiapkan makan malam, makan, ngobrol sebentar, mandi, mencuci, sholat, tilawah, dan, dan akhirnya ? Oh, sudah lewat jam sembilan malam. Inilah saatnya aku bisa menulis atau membaca berita di sosmed. Nonton TV? Sudah lama aku tak punya TV. Tujuannya adalah agar aku efektif dalam mengatur waktu.

Melewati jam 10, mataku mulai lima watt. Kadang aku bisa bertahan sampai jam sebelas dengan konsekwensi aku ngantuk berat setelah shubuh. Pagi hari aku sudah bersiap ke kantor, termasuk mempersiapkan sarapan dan kadang bekal makan siang. Lalu, kapan aku bisa jadi mentor menulis?

Cita citaku sebagai penulis sudah kutulis di langit. Rasanya malu kalau aku menghapusnya. Konsekwensinya sudah pula kuhitung, termasuk alokasi waktu harian dan mingguanku. Namun, ketika membandingkan diriku dengan Kang Benny, aku agak sangsi dengan kemampuanku. Tampaknya Kang Benny mirip Superman dalam hal ini.

Bandung, 08 10 2016
Lisa Tinaria
BANGUN KESIANGAN

Bangun kesiangan, memang aku niatkan. Nah, gawat kan? Ya, tetapi khusus hari libur saja. Sejujurnya, apa pun alasannya,  sengaja bangun siang tidaklah baik.

Jika weekend tiba, aku terbiasa bangun terlambat. Tubuhku sudah tahu,  jam berapa bangun di hari kerja dan jam berapa ketika weekend.  Pada dasarnya ini adalah kompensasi atas ketatnya jadwalku di hari kerja. Demi mengakali rutinitasku agar berlangsung seefektif mungkin, aku niatkan tidak menonton TV. Dan cara yang paling jitu untuk tidak terganggu TV adalah dengan tidak memilikinya!

Konsep bangun siang ini dipakai juga oleh adikku yang jadi wanita pekerja di Jakarta. Tentu jadwal hidupnya di kota yang lebih kejam dari ibu tiri itu, jauh lebih ketat. Konsekwensinya dia sangat kesal kalau dibangunkan pagi di hari weekend. Dia cenderung menghindari kegiatan di pagi hari weekend, seperti olahraga. Membeli sarapan pun tidak. Dia langsung "have brunch" (singkatan atau gabungan dari breakfast and luch). menjelang siang.

Kami selalu mudik ke Padang ketika Lebaran. Hhhmm...liburan yang nikmat di kota dengan "slow pace of life", plus makanan unik yang kami masak bersama.

Suatu pagi, bertahun tahun yang lalu, ketika kami sedang tidur di pagi hari, terdengar ketukan di pintu kamar. "Lisa, Imon, bangun, sudah jam enam lewat ini". Suara Papa memecah keheningan pagi itu. Kami memang berencana pulang ke kampung pada hari lebaran ke tiga. Tetapi kan...?

 "Jam berapa ini? " adikku bergumam tak jelas, sambil turun tempat tidur. Mataku mulai terbuka. Dia membuka pintu kamar dan di pintu berdiri Papa sudah dengan pakaian rapi.

"Ayo siap siap" Papa dengan perintahnya. Papa selalu always on time.

"Tetapi kita kan rencananya berangkat jam setengah delapan?" komplain Imon pada Papa.

"Jangan terlambat" kalimat Papa memang biasa kayak kalimat panitia Opspek.

Imon kembali ke tempat tidur, duduk ditepinya. "Apa artinya uang, kalau waktu bangun kita sama aja ketika di Jakarta dengan ketika liburan di Padang" sungutnya. Aku mengiyakannya sambil malas mendudukkan badan.

"Iya, kita sudah keluar uang banyak untuk membeli tidur siang ini" kataku mengompori.

"Emangnya Papa ngejar apa sih" Imon masih kesal. "Rumah gadang gak akan lari" Imon mengerutu sesukanya.

"Hhmm...."  aku mengiyakan sekenanya. Entah dari mana dia dapat argumen tentang rumah gadang itu. Ada ada saja.

"Nanti kubilang ke Papa" katanya bangkit, berdiri.

Benar, kami semua berdiri di teras rumah, akan berangkat, ketika Imon mulai angkat suara.

"Pa, besok kami jangan dibangunkan pagi pagi ya, walaupun besok kita juga mau jalan jalan". Imon langsung to the point. "Tidur larut malam, bangun siang. kan mahal bagi kami. Masak sama aja, jadwal bangun di Jakarta dengan jadwal di Padang. Alangkah nggak berharganya uang".

"Hayo kita berangkat"

"Ha!? Papa denger nggak siiiih....." gerutu Imon sambil tersandung batu di jalan setapak menuju pintu pagar. Untung dia tidak jatuh. Papa melenggang santai, duluan.

Begitulah, beda generasi. beda pandang tentang bangun siang.

Bandung, 16 Okt 2015
Lisa Tinaria

Friday, March 31, 2017

SAPU LIDI

"Uwo, nenek ini koq bisa terbang pakai sapu lidi"? keponakan menyorongkan sebuah buku bergambar kepadaku. Pada gambar itu ada seorang nenek berbaju hitam, bertopi hitam model tumpeng, rambutnya panjang terurai diterbangkan angin mengarah ke belakang, sementara sapu yang ditungganginya bergerak melawan arah.
Aku jadi teringat bahwa nenek terbang pada gambar itu sebenarnya adalah  karakter yang sudah lama kukenal. Bukankah  itu karakter jahat yang ada dalam cerita Nirmala di majalah Bobo?  Aku agak bingung mencari jawaban pertanyaan Olin keponakanku. Dulu aku mengartikan itu apa? Lebih tepatnya bagaimana Papa atau Mama dulu mempersepsikan orang yang bisa terbang dengan sapu lidi itu?

" O, nenek ini adalah orang jahat." Bagiku, pertanyaannya adalah serius dan aku serius pula menjawabnya. Katakter jahat perlu diperkenalkan. Tetapi akhirnya kebaikanlah yang menang.

"Jahat bagaimana?" tanyanya lagi. Saatnya untuk menerangkan apa itu kejahatan kepada dia yang berumur 5 tahun.

"Nenek ini suka meminta barang barang dengan memaksa. Kalau tidak dikasih dia akan langsung mengambil barang itu lalu terbang cepat dengan sapu lidinya." Olin melihat ke wajahku mencari pemahaman. "Misal dia mengambil mobilan olin. Boleh nggak  mobilan Olin diambil?"

"Gak boleh. Ini kan punya Olin." jawabnya tegas. "Tetapi Uwo, koq sapu lidi itu bisa disuruh terbang untuk melarikan mobilan Olin?"

"Sapu lidi itu mulanya adalah sapu lidi yang tidak mengerti. Dia mau saja disuruh bersama berbuat jahat. Tetapi lama lama sapu lidi itu sadar, membantu orang untuk berbuat jahat, juga berarti jahat." Aku berhenti sejenak melihat ke wajahnya. Wajah itu sedang berkonsentrasi melihat si nenek terbang itu. Tidak ada pertanyaan. So far berarti dia mengerti.

"Akhirnya sapu lidi itu nggak mau lagi terbang." Aku mengakhiri penjelasanku.

"Jadi si nenek jahat ini tidak bisa terbang lagi? Ditangkap polisi?" Wajah lugu itu mendongak melihat ke arahku.

"Ya." jawabku puas. Tidak ada pertanyaan lanjutan.

Bandung, 24 Okt 2015
Lisa Tinaria

Friday, March 24, 2017

PENGGORENGAN

Pagi tadi aku sempat mengoreng pisang raja bulu (begitu tukang sayur menamainya). Aku ingat dengan kegiatan menggoreng ini dan  beberapa alat untuk menggoreng di kosku karena adanya tugas menulis. Selama ini aku tidak begitu peduli dengannya. Yang ada di benakku selama ini hanyalah outputnya yaitu  telur bebek didadar, sambal goreng cabe rawit merah, capcay atau tumis bayam dan tempe digoreng lalu dimakan ketika panas. Sekarang aku ingin bercerita tentang peralatan yang banyak membantu dalam hidupku itu.

Suatu hari aku melihat teman kosku menggoreng sesuatu lengkap dengan api di dalam penggorengan!! Waduh, kami berdua kaget dan dia segera mematikan kompor. Untung sang makanan masih selamat. Tampaknya ini terjadi karena tempat pengorengan yang dipakai adalah pan untuk mendadar telur. Terlalu kecil sehingga minyak goreng tumpah dan memicu menjalarnya api ke dalam pan.

Namun, setelah kuperhatikan tukang capcay memasak dengan wajan yang agak besar, juga lengkap dengan suguhan api di dalam wajan, aku jadi bertanya-tanya, jadi apa ya penyebab masuknya api itu? Okelah, akhirnya aku mulai memilih bahwa untuk deep frying, alias menggoreng dengan minyak yang banyak, aku tidak memakai pan dadar.

Peralatan berikutnya adalah wajan yang agak besar dengan bahan aluminium agak tipis. Saking ringannya ini wajan, aku pernah hampir celaka ketika memakainya. Wajan ini koq sepertinya, lebih berat kupingnya daripada badan atau loyangnya sehingga ketika ditaruh di kompor, tersenggol sedikit saja bisa miring atau jatuh.

Suatu hari aku menggoreng di wajan ini. Setelah makanan matang, aku memunggirkannya dengan menggesernya dengan sendok ke bibir wajan. Dan, si wajan jadi berat ke pinggir. Ketika itulah dia kemudian oleng dengan menumpahkan minyak panas ke lantai tepat di depan kakiku! Alhamdulillah badanku tidak terkena minyak panas. Berdasarkan pengalaman itu, aku juga kemudian menetapkan bahwa meminggirkan makanan harus dengan memegang si kuping wajan.

Yang ke tiga adalah pan juga dengan ukuran besar dan bahan yang berat. Kupikir menggoreng dengan ini,  lebih safe karena luas  dan steady di atas kompor karena bahannya berat. Apa yang terjadi? Suatu hari aku memasak rendang. Aku harus mengaduk rendang setengah jadi berkali kali dalam waktu hampir dua jam. Aku pikir aku bisa mengaduknya dengan santai, cukup memakai satu tangan saja yaitu tangan kanan untuk mengaduk. Ternyata setiap diaduk, pan bergeser. Selidik punya selidik, ini karena pantat pan yang datar yang diletakkan di atas tungku yang berbahan besi bentuk silinder. Hampir saja rendang itu tumpah ketika aku ceroboh di awalnya. Akhirnya setiap mengaduk, gagang pan harus kupegang dengan tangan yang satunya.

Demikianlah kisah tentang alat penggorengan yang sering kupakai. Aku termasuk sering memasak karena itu salah satu hobiku.

Bandung, 19 11 2016
Lisa Tinaria