SAPU LIDI
"Uwo, nenek ini koq bisa terbang pakai sapu lidi"? keponakan menyorongkan sebuah buku bergambar kepadaku. Pada gambar itu ada seorang nenek berbaju hitam, bertopi hitam model tumpeng, rambutnya panjang terurai diterbangkan angin mengarah ke belakang, sementara sapu yang ditungganginya bergerak melawan arah.
Aku jadi teringat bahwa nenek terbang pada gambar itu sebenarnya adalah karakter yang sudah lama kukenal. Bukankah itu karakter jahat yang ada dalam cerita Nirmala di majalah Bobo? Aku agak bingung mencari jawaban pertanyaan Olin keponakanku. Dulu aku mengartikan itu apa? Lebih tepatnya bagaimana Papa atau Mama dulu mempersepsikan orang yang bisa terbang dengan sapu lidi itu?
" O, nenek ini adalah orang jahat." Bagiku, pertanyaannya adalah serius dan aku serius pula menjawabnya. Katakter jahat perlu diperkenalkan. Tetapi akhirnya kebaikanlah yang menang.
"Jahat bagaimana?" tanyanya lagi. Saatnya untuk menerangkan apa itu kejahatan kepada dia yang berumur 5 tahun.
"Nenek ini suka meminta barang barang dengan memaksa. Kalau tidak dikasih dia akan langsung mengambil barang itu lalu terbang cepat dengan sapu lidinya." Olin melihat ke wajahku mencari pemahaman. "Misal dia mengambil mobilan olin. Boleh nggak mobilan Olin diambil?"
"Gak boleh. Ini kan punya Olin." jawabnya tegas. "Tetapi Uwo, koq sapu lidi itu bisa disuruh terbang untuk melarikan mobilan Olin?"
"Sapu lidi itu mulanya adalah sapu lidi yang tidak mengerti. Dia mau saja disuruh bersama berbuat jahat. Tetapi lama lama sapu lidi itu sadar, membantu orang untuk berbuat jahat, juga berarti jahat." Aku berhenti sejenak melihat ke wajahnya. Wajah itu sedang berkonsentrasi melihat si nenek terbang itu. Tidak ada pertanyaan. So far berarti dia mengerti.
"Akhirnya sapu lidi itu nggak mau lagi terbang." Aku mengakhiri penjelasanku.
"Jadi si nenek jahat ini tidak bisa terbang lagi? Ditangkap polisi?" Wajah lugu itu mendongak melihat ke arahku.
"Ya." jawabku puas. Tidak ada pertanyaan lanjutan.
Bandung, 24 Okt 2015
Lisa Tinaria
Friday, March 31, 2017
Friday, March 24, 2017
PENGGORENGAN
Pagi tadi aku sempat mengoreng pisang raja bulu (begitu tukang sayur menamainya). Aku ingat dengan kegiatan menggoreng ini dan beberapa alat untuk menggoreng di kosku karena adanya tugas menulis. Selama ini aku tidak begitu peduli dengannya. Yang ada di benakku selama ini hanyalah outputnya yaitu telur bebek didadar, sambal goreng cabe rawit merah, capcay atau tumis bayam dan tempe digoreng lalu dimakan ketika panas. Sekarang aku ingin bercerita tentang peralatan yang banyak membantu dalam hidupku itu.
Suatu hari aku melihat teman kosku menggoreng sesuatu lengkap dengan api di dalam penggorengan!! Waduh, kami berdua kaget dan dia segera mematikan kompor. Untung sang makanan masih selamat. Tampaknya ini terjadi karena tempat pengorengan yang dipakai adalah pan untuk mendadar telur. Terlalu kecil sehingga minyak goreng tumpah dan memicu menjalarnya api ke dalam pan.
Namun, setelah kuperhatikan tukang capcay memasak dengan wajan yang agak besar, juga lengkap dengan suguhan api di dalam wajan, aku jadi bertanya-tanya, jadi apa ya penyebab masuknya api itu? Okelah, akhirnya aku mulai memilih bahwa untuk deep frying, alias menggoreng dengan minyak yang banyak, aku tidak memakai pan dadar.
Peralatan berikutnya adalah wajan yang agak besar dengan bahan aluminium agak tipis. Saking ringannya ini wajan, aku pernah hampir celaka ketika memakainya. Wajan ini koq sepertinya, lebih berat kupingnya daripada badan atau loyangnya sehingga ketika ditaruh di kompor, tersenggol sedikit saja bisa miring atau jatuh.
Suatu hari aku menggoreng di wajan ini. Setelah makanan matang, aku memunggirkannya dengan menggesernya dengan sendok ke bibir wajan. Dan, si wajan jadi berat ke pinggir. Ketika itulah dia kemudian oleng dengan menumpahkan minyak panas ke lantai tepat di depan kakiku! Alhamdulillah badanku tidak terkena minyak panas. Berdasarkan pengalaman itu, aku juga kemudian menetapkan bahwa meminggirkan makanan harus dengan memegang si kuping wajan.
Yang ke tiga adalah pan juga dengan ukuran besar dan bahan yang berat. Kupikir menggoreng dengan ini, lebih safe karena luas dan steady di atas kompor karena bahannya berat. Apa yang terjadi? Suatu hari aku memasak rendang. Aku harus mengaduk rendang setengah jadi berkali kali dalam waktu hampir dua jam. Aku pikir aku bisa mengaduknya dengan santai, cukup memakai satu tangan saja yaitu tangan kanan untuk mengaduk. Ternyata setiap diaduk, pan bergeser. Selidik punya selidik, ini karena pantat pan yang datar yang diletakkan di atas tungku yang berbahan besi bentuk silinder. Hampir saja rendang itu tumpah ketika aku ceroboh di awalnya. Akhirnya setiap mengaduk, gagang pan harus kupegang dengan tangan yang satunya.
Demikianlah kisah tentang alat penggorengan yang sering kupakai. Aku termasuk sering memasak karena itu salah satu hobiku.
Bandung, 19 11 2016
Lisa Tinaria
Pagi tadi aku sempat mengoreng pisang raja bulu (begitu tukang sayur menamainya). Aku ingat dengan kegiatan menggoreng ini dan beberapa alat untuk menggoreng di kosku karena adanya tugas menulis. Selama ini aku tidak begitu peduli dengannya. Yang ada di benakku selama ini hanyalah outputnya yaitu telur bebek didadar, sambal goreng cabe rawit merah, capcay atau tumis bayam dan tempe digoreng lalu dimakan ketika panas. Sekarang aku ingin bercerita tentang peralatan yang banyak membantu dalam hidupku itu.
Suatu hari aku melihat teman kosku menggoreng sesuatu lengkap dengan api di dalam penggorengan!! Waduh, kami berdua kaget dan dia segera mematikan kompor. Untung sang makanan masih selamat. Tampaknya ini terjadi karena tempat pengorengan yang dipakai adalah pan untuk mendadar telur. Terlalu kecil sehingga minyak goreng tumpah dan memicu menjalarnya api ke dalam pan.
Namun, setelah kuperhatikan tukang capcay memasak dengan wajan yang agak besar, juga lengkap dengan suguhan api di dalam wajan, aku jadi bertanya-tanya, jadi apa ya penyebab masuknya api itu? Okelah, akhirnya aku mulai memilih bahwa untuk deep frying, alias menggoreng dengan minyak yang banyak, aku tidak memakai pan dadar.
Peralatan berikutnya adalah wajan yang agak besar dengan bahan aluminium agak tipis. Saking ringannya ini wajan, aku pernah hampir celaka ketika memakainya. Wajan ini koq sepertinya, lebih berat kupingnya daripada badan atau loyangnya sehingga ketika ditaruh di kompor, tersenggol sedikit saja bisa miring atau jatuh.
Suatu hari aku menggoreng di wajan ini. Setelah makanan matang, aku memunggirkannya dengan menggesernya dengan sendok ke bibir wajan. Dan, si wajan jadi berat ke pinggir. Ketika itulah dia kemudian oleng dengan menumpahkan minyak panas ke lantai tepat di depan kakiku! Alhamdulillah badanku tidak terkena minyak panas. Berdasarkan pengalaman itu, aku juga kemudian menetapkan bahwa meminggirkan makanan harus dengan memegang si kuping wajan.
Yang ke tiga adalah pan juga dengan ukuran besar dan bahan yang berat. Kupikir menggoreng dengan ini, lebih safe karena luas dan steady di atas kompor karena bahannya berat. Apa yang terjadi? Suatu hari aku memasak rendang. Aku harus mengaduk rendang setengah jadi berkali kali dalam waktu hampir dua jam. Aku pikir aku bisa mengaduknya dengan santai, cukup memakai satu tangan saja yaitu tangan kanan untuk mengaduk. Ternyata setiap diaduk, pan bergeser. Selidik punya selidik, ini karena pantat pan yang datar yang diletakkan di atas tungku yang berbahan besi bentuk silinder. Hampir saja rendang itu tumpah ketika aku ceroboh di awalnya. Akhirnya setiap mengaduk, gagang pan harus kupegang dengan tangan yang satunya.
Demikianlah kisah tentang alat penggorengan yang sering kupakai. Aku termasuk sering memasak karena itu salah satu hobiku.
Bandung, 19 11 2016
Lisa Tinaria
Tuesday, March 21, 2017
KARTU NAMA
"Bu Lisa, ada salam dari Bu Antin".
Message memalui WA itu segera diikuti dengan foto seorang teman lamaku. Dia duduk di depan, seperti di panggung. Mungkin dia sedang memimpin rapat atau menjadi sentral di sebuah rapat, bersama dua orang lainnya.
Beberapa detik kemudian dikirimkan foto kartu nama oleh kolegaku. Di kartu itu tertulis nama Antin lengkap dengan jabatan : Direktur (Bla Bla).
Aku tersenyum, dengan perasaan gado gado. Senang, karena temanku sudah sedemikian tinggi jabatannya di sebuah anak perusahaan BUMN. Namun aku juga merasa 'aneh'. Kartu nama itu. Aku tak pernah punya. Kalau aku harus memilikinya, jabatan apa yang pantas dituliskan di sana?
Sudah dua puluh tahun lebih aku bekerja, tak sekali pun aku punya kartu nama yang menunjukkan identitasku sebagai bagian dari PT Pos Indonesia. Tetapi aku pernah memiliki kartu nama yang menunjukkan diriku sebagai seorang Lisa yang lain.
-----
Aku memilih desain kartu nama di antara koleksi yang dimiliki toko pencetakan kartu, undangan dan segala bentuk banner itu. Koleksinya berupa sebuah album khusus kartu nama seukuran buku tulis. Cukup tebal. Aku membolak balik halaman album itu. Design kartu nama menunjukkan karakter dari orang yang namanya tertulis di situ, sepanjang kartu nama itu pilihan orang itu, bukan didesain oleh perusahaan tempatnya bekerja.
Karakterku tetaplah tak bisa yang ramai, dengan warna warna mencolok, dengan font tulisan yang jarang dipakai atau aneh. Tak juga sekedar kertas putih dengan lambang atau gambar di salah satu sudut atas. Akhirnya pilihanku jatuh pada warna hijau alpokat yang lembut. Kumintakan ada gambar kartun berbentuk cake yang sebagian sudah diiris. Apa yang ingin kutuliskan di sana?
CHIFFON CAKES
Rasa coklat, tape, pandan, pisang.
Hubungi : Lisa, 08193271***
"Dibuat berapa kotak, Uni?" tanya petugas desain kartu, seorang anak muda yang bersemangat bergabung dengan bisnis yang tampak masih baru itu.
"Satu kotak isinya berapa?" tanyaku.
"Seratus", jawabnya.
Aku bertanya dalam hati, akankah seratus itu habis dalam enam bulan ke depan selama aku di Padang.
"Satu kotak saja" jawabku, sambil meragukan kemampuanku sehubungan dengan kartu nama itu.
Kartu nama itu selesai esok harinya. Aku puas dengan hasilnya. Elegan.
-----
Sudah seminggu aku mempraktikkan membuat kue chiffon, kue bolu dengan tekstur halus karena dibuat dengan menggunakan minyak kelapa. Semua anggota keluarga sudah memberikan nilai bagus untuk kueku itu. Saatnya sekarang untuk uji pasar.
Aku membuat beberapa loyang dengan beberapa rasa. Dua potongan dengan rasa berbeda kumasukkan ke kantong plastik transparan, lalu kantong plastik itu kustapler dengan menempelkan kartu namaku. Aku tersenyum puas.
Saatnya untuk beraksi. Aku bawa sekitar dua puluh plastik lalu datangi dua puluh rumah di RT tempatku tinggal.
"Pak, ini saya kasih contoh kue lembut buatan saya. Kalau mau pesan ini nomornya". Aku mengulurkan kueku kepada seorang bapak yang bengong setelah membuka pintu untukku.
"Ibu lagi nggak di rumah. Saya nggak beli", katanya cepat.
"O, ini gratis", jawabku meluruskan sambil tersenyum. "Terima kasih ya Pak", kataku segera balik kanan. Takut kalau si bapak semakin banyak salah sangkanya.
"Oh, saya sakit diabetes. Gak makan kue", komentar seorang ibu.
"Untuk anak ibu", kataku maju tak gentar.
"Ini Lisa to...anak Pak Pos?" Papaku biasa dipanggil Pak Pos di lingkungan rumah kami.
"Hehe...saya sedang belajar berjualan kue", kataku dengan senyum mengembang. Ibu ini menyambutku ramah di teras rumahnya.
Kue itu habis kubagikan. Kutunggu beberapa hari, kue yang kubagikan tak memberikan efek. Atau kartu namaku salah desain? Ah, aku tak peduli.
Ada kebangaan tersendiri kurasakan sehubungan dengan kartu nama itu. Pepatah Cina mengatakan "Sukses itu separuhnya adalah memulai". Belajar memasarkan, itulah poin utama yang kudapat. Chiffon cake itu memang tak ada yang memesan. Tetapi aku kemudian punya keberanian menitipkan cake jenis lain di dua warung dekat rumah.
Kegiatan berjualan kue kulakukan sebagai pengisi cuti panjang-ku setelah selesai merawat almarhum adik. Setelah aku kembali bekerja ke Bandung, seorang ibu sempat menanyakan kue buatanku. Untuk sementara hobiku yang satu ini kusimpan dulu. Mungkin sampai aku bisa punya rumah di Bandung sebagai tempat produksi.
Tentang kartu namaku, masih tersimpan banyak. Letaknya berdekatan dengan kotak karton untuk tempat cake, di rumah di Padang, sebagai saksi bahwa aku bangga terhadap kartu nama itu.
Bandung, 26 Oktober 2015
Lisa Tinaria
"Bu Lisa, ada salam dari Bu Antin".
Message memalui WA itu segera diikuti dengan foto seorang teman lamaku. Dia duduk di depan, seperti di panggung. Mungkin dia sedang memimpin rapat atau menjadi sentral di sebuah rapat, bersama dua orang lainnya.
Beberapa detik kemudian dikirimkan foto kartu nama oleh kolegaku. Di kartu itu tertulis nama Antin lengkap dengan jabatan : Direktur (Bla Bla).
Aku tersenyum, dengan perasaan gado gado. Senang, karena temanku sudah sedemikian tinggi jabatannya di sebuah anak perusahaan BUMN. Namun aku juga merasa 'aneh'. Kartu nama itu. Aku tak pernah punya. Kalau aku harus memilikinya, jabatan apa yang pantas dituliskan di sana?
Sudah dua puluh tahun lebih aku bekerja, tak sekali pun aku punya kartu nama yang menunjukkan identitasku sebagai bagian dari PT Pos Indonesia. Tetapi aku pernah memiliki kartu nama yang menunjukkan diriku sebagai seorang Lisa yang lain.
-----
Aku memilih desain kartu nama di antara koleksi yang dimiliki toko pencetakan kartu, undangan dan segala bentuk banner itu. Koleksinya berupa sebuah album khusus kartu nama seukuran buku tulis. Cukup tebal. Aku membolak balik halaman album itu. Design kartu nama menunjukkan karakter dari orang yang namanya tertulis di situ, sepanjang kartu nama itu pilihan orang itu, bukan didesain oleh perusahaan tempatnya bekerja.
Karakterku tetaplah tak bisa yang ramai, dengan warna warna mencolok, dengan font tulisan yang jarang dipakai atau aneh. Tak juga sekedar kertas putih dengan lambang atau gambar di salah satu sudut atas. Akhirnya pilihanku jatuh pada warna hijau alpokat yang lembut. Kumintakan ada gambar kartun berbentuk cake yang sebagian sudah diiris. Apa yang ingin kutuliskan di sana?
CHIFFON CAKES
Rasa coklat, tape, pandan, pisang.
Hubungi : Lisa, 08193271***
"Dibuat berapa kotak, Uni?" tanya petugas desain kartu, seorang anak muda yang bersemangat bergabung dengan bisnis yang tampak masih baru itu.
"Satu kotak isinya berapa?" tanyaku.
"Seratus", jawabnya.
Aku bertanya dalam hati, akankah seratus itu habis dalam enam bulan ke depan selama aku di Padang.
"Satu kotak saja" jawabku, sambil meragukan kemampuanku sehubungan dengan kartu nama itu.
Kartu nama itu selesai esok harinya. Aku puas dengan hasilnya. Elegan.
-----
Sudah seminggu aku mempraktikkan membuat kue chiffon, kue bolu dengan tekstur halus karena dibuat dengan menggunakan minyak kelapa. Semua anggota keluarga sudah memberikan nilai bagus untuk kueku itu. Saatnya sekarang untuk uji pasar.
Aku membuat beberapa loyang dengan beberapa rasa. Dua potongan dengan rasa berbeda kumasukkan ke kantong plastik transparan, lalu kantong plastik itu kustapler dengan menempelkan kartu namaku. Aku tersenyum puas.
Saatnya untuk beraksi. Aku bawa sekitar dua puluh plastik lalu datangi dua puluh rumah di RT tempatku tinggal.
"Pak, ini saya kasih contoh kue lembut buatan saya. Kalau mau pesan ini nomornya". Aku mengulurkan kueku kepada seorang bapak yang bengong setelah membuka pintu untukku.
"Ibu lagi nggak di rumah. Saya nggak beli", katanya cepat.
"O, ini gratis", jawabku meluruskan sambil tersenyum. "Terima kasih ya Pak", kataku segera balik kanan. Takut kalau si bapak semakin banyak salah sangkanya.
"Oh, saya sakit diabetes. Gak makan kue", komentar seorang ibu.
"Untuk anak ibu", kataku maju tak gentar.
"Ini Lisa to...anak Pak Pos?" Papaku biasa dipanggil Pak Pos di lingkungan rumah kami.
"Hehe...saya sedang belajar berjualan kue", kataku dengan senyum mengembang. Ibu ini menyambutku ramah di teras rumahnya.
Kue itu habis kubagikan. Kutunggu beberapa hari, kue yang kubagikan tak memberikan efek. Atau kartu namaku salah desain? Ah, aku tak peduli.
Ada kebangaan tersendiri kurasakan sehubungan dengan kartu nama itu. Pepatah Cina mengatakan "Sukses itu separuhnya adalah memulai". Belajar memasarkan, itulah poin utama yang kudapat. Chiffon cake itu memang tak ada yang memesan. Tetapi aku kemudian punya keberanian menitipkan cake jenis lain di dua warung dekat rumah.
Kegiatan berjualan kue kulakukan sebagai pengisi cuti panjang-ku setelah selesai merawat almarhum adik. Setelah aku kembali bekerja ke Bandung, seorang ibu sempat menanyakan kue buatanku. Untuk sementara hobiku yang satu ini kusimpan dulu. Mungkin sampai aku bisa punya rumah di Bandung sebagai tempat produksi.
Tentang kartu namaku, masih tersimpan banyak. Letaknya berdekatan dengan kotak karton untuk tempat cake, di rumah di Padang, sebagai saksi bahwa aku bangga terhadap kartu nama itu.
Bandung, 26 Oktober 2015
Lisa Tinaria
Sunday, February 12, 2017
DOA IBU
Masih ingatkah teman _ teman dengan cerita Malin Kundang? Ya, itu cerita dari Ranah Minang, tentang dahsyatnya doa seorang Ibu, walau doa itu jelek sekalipun. Singkatnya, seorang Ibu mendoakan anaknya agar mendapat azab, karena sang Ibu telah dihina di depan orang ramai, oleh Malin.
Cerita mirip Malin Kudang juga ada di dunia sekitarku dan itu masih dalam lingkup keluarga besarku. Sebutlah seseorang yang masih terhitung Oomku pernah menarik rambut Ibunya. Seseorang yang masuk dalam ketegori sepupuku, menyundut ibunya dengan rokok dan menarik rambut ibunya. Astaghfirullah.
Kedua orang yang mendurhakai ibu itu, tidaklah menjadi batu sebagaimana Malin Kundang. Namun, mereka menurutku, menjalani kehidupan sulit sepanjang hayat. Ekonomi kedua orang itu, berikut keluarga intinya, cukup sulit; bekerja serabutan plus memiliiki istri yang tak pandai mengatur keuangan. Mereka juga punya kebiasaan meminta "bantuan" ke sana kemari, dengan janji dibayar entah kapan. Anak anak mereka umumnya bersekolah "alakadarnya", bahkan ada yang tidak selesai SMU. Ada anak yang pernah menjadi pencadu narkoba. Ada juga yang "MBA" married by accident.
Secara emosional. kedua orang yang kuceritakan di atas adalah manusia yang temperamental. Pemarah dan sering berkata kasar. Automatically mereka hidup dalam lingkup sosial terbatas alias tak disukai tetangga maupun keluarga besar. Kehidupan spiritual? Dapat dikatakan mereka tak punya. Setauku, orang yang kupanggil Oom dan Uda itu, tak pernah kulihat sholat.
Aku tak pernah bertanya langsung kepada kedua ibu dari lelaki kasar itu, apakah mereka pernah mendoakan anak mereka menjadi seperti sekarang. Aku pun tak ingin bertanya kepada Oom dan sepupuku itu tentang mengapa kehidupan mereka bisa seperti itu.
Hanya aku bisa menyimpulkan, manusia bisa gagal karena tak mampu melihat kesalahan diri, akibatnya tak pula mampu untuk memperbaiki diri. Bagi mereka kesalahan hanya ada di luar diri mereka, dan mereka tumpukan terutama pada ibu mereka.
On train, 7 Oktober 2015
Lisa Tinaria
Masih ingatkah teman _ teman dengan cerita Malin Kundang? Ya, itu cerita dari Ranah Minang, tentang dahsyatnya doa seorang Ibu, walau doa itu jelek sekalipun. Singkatnya, seorang Ibu mendoakan anaknya agar mendapat azab, karena sang Ibu telah dihina di depan orang ramai, oleh Malin.
Cerita mirip Malin Kudang juga ada di dunia sekitarku dan itu masih dalam lingkup keluarga besarku. Sebutlah seseorang yang masih terhitung Oomku pernah menarik rambut Ibunya. Seseorang yang masuk dalam ketegori sepupuku, menyundut ibunya dengan rokok dan menarik rambut ibunya. Astaghfirullah.
Kedua orang yang mendurhakai ibu itu, tidaklah menjadi batu sebagaimana Malin Kundang. Namun, mereka menurutku, menjalani kehidupan sulit sepanjang hayat. Ekonomi kedua orang itu, berikut keluarga intinya, cukup sulit; bekerja serabutan plus memiliiki istri yang tak pandai mengatur keuangan. Mereka juga punya kebiasaan meminta "bantuan" ke sana kemari, dengan janji dibayar entah kapan. Anak anak mereka umumnya bersekolah "alakadarnya", bahkan ada yang tidak selesai SMU. Ada anak yang pernah menjadi pencadu narkoba. Ada juga yang "MBA" married by accident.
Secara emosional. kedua orang yang kuceritakan di atas adalah manusia yang temperamental. Pemarah dan sering berkata kasar. Automatically mereka hidup dalam lingkup sosial terbatas alias tak disukai tetangga maupun keluarga besar. Kehidupan spiritual? Dapat dikatakan mereka tak punya. Setauku, orang yang kupanggil Oom dan Uda itu, tak pernah kulihat sholat.
Aku tak pernah bertanya langsung kepada kedua ibu dari lelaki kasar itu, apakah mereka pernah mendoakan anak mereka menjadi seperti sekarang. Aku pun tak ingin bertanya kepada Oom dan sepupuku itu tentang mengapa kehidupan mereka bisa seperti itu.
Hanya aku bisa menyimpulkan, manusia bisa gagal karena tak mampu melihat kesalahan diri, akibatnya tak pula mampu untuk memperbaiki diri. Bagi mereka kesalahan hanya ada di luar diri mereka, dan mereka tumpukan terutama pada ibu mereka.
On train, 7 Oktober 2015
Lisa Tinaria
Saturday, February 11, 2017
ZAKAT
Aku berkenalan dengan praktik zakat, tidaklah segera setelah aku mendapat pembelajaran tentang itu dari ustadz atau buku. Entah apa yang menyebabkan aku masih ngeyel ketika itu. Nah, ketika aku diminta menjadi pengurus Lazis, cara pandangku berubah. Aku tidak saja harus membayar zakat tetapi juga mengajak orang lain membayar zakat.
"Bu Lisa, nanti ikut rapat Lazis ya", kuterima undangan rapat suatu sore, melalui telepon. Apa topik rapat aku tak tahu. Ternyata itu adalah rapat pembentukan pengurus baru. Dan aku ditunjuk sebagai salah satu pengurus. Tugasku? Menjadi penanggung jawab buletin Lazis yang terbit setiap dua bulan sekali.
Entah apa yang menjadi dasar kuorum ketika itu memilih aku sebagai "tukang tulis menulis". Uniknya aku menerima jabatan itu dengan senang hati, tanpa berargumen sama sekali.
"Gajiku" sebagai penulis, sekaligus editor, sekaligus mengurus pencetakan, tidaklah sesuai dengan hiruk pikuk pekerjaan setiap dua bulan. Biasanya aku riweh dot com menjelang deadline. Mencari tulisan untuk di-copy paste (sesuai kaidah referensi), mengedit tulisan yang masuk, bahkan membuat tulisan sendiri. Oya, juga mencari foto foto kegiatan kami, untuk dimuat di buletin itu. Lelah, karena semua itu kukerjakan setelah jam kerja kantor. Tidak jarang aku harus begadang. Dan reward yang kuterima Rp 50.000 satu tahun! Tetapi ternyata bukan itu yang kucari. Romantisme berorganisasi dengan saudara saudara seperjuangan, itulah yang membuat aku hidup - punya sisi lain di samping dunia kerja.
Kami rutin berkumpul setiap bulan untuk membahas segala persoalan. Yang mengharukan di setiap rapat ada saja di antara di kami yang menyumbang makanan. Meskipun dana penganan rapat juga tersedia.
Rapat, bahasannya segala rupa. Umumnya adalah membahas laporan penerimaan dan pengeluaran kas. Ada juga berbagi informasi tentang orang orang di sekitar kami, pengurus, yang membutuhkan bantuan. Permintaan bantuan ada juga yang datang secara resmi melalui surat, misalnya dari panti yatim. Di rapat itu diputuskan jumlah yang akan diberikan. Rapat juga membahas program kerja yang akan dilaksanakan.
Program kerja utama kami adalah kegiatan Ramadhan dan Idul Adha. Ada satu acara utama di malam Ramadhan yaitu buka puasa bersama anak yatim. Namun yang hadir pada acara itu juga pegawai di Gedung Pos Ibukota yang bekerja sampai malam ketika hari diselenggarakannya acara itu. Di samping itu beberapa pejabat di Regional Jakarta juga diundang.
Pengalaman yang selalu kuingat adalah bagaimana kami harus belanja sembako hingga tengah malam di Carefour Cempaka Mas Jakarta. Saking banyaknya, jumlahnya satu mobil pick up. Keesokan harinya sepulang kerja, kami mengemas sembako ke dalam tas plastik. Maksudnya itu sebagai bingkisan lebaran untuk anak yatim yang diundang pada acara buka puasa bersama. Acara bungkus membungkus itu juga berlangsung hingga tengah malam. Total bingkisan seingatku mencapai 500 paket dengan berat minimal sekitar 5 kg (ada gula, margarin, minyak goreng, tepung, kue kaleng, dan sirup). Dasar kami adalah pekerja sosial dalam lembaga Lazis, kegiatan melelahkan tersebut justru menjadi ajang bercanda ria.
Romantisme lain yang aku alami adalah mengikuti acara wisata rohani. Kami pergi ke daerah sekitar Bogor, yang berhawa sejuk dan menyewa villa murah (seingatku tanpa air panas untuk mandi). Untuk menghemat pengeluaran kami membawa tukang masak dan bahan makanan dari Jakarta. Walau berlibur dengan dana seadanya, kami tetap gelak tertawa. Dan yang utama, acara wisata itu diisi dengan beberapa session tausiyah, sholat malam bersama dan muhasabah.
Sekarang aku sudah pindah ke Kantor Pusat di Bandung. Akupun menjadi pengurus Lazis. Tetapi ruh dan semangat berorganisasi yang kurasa tidak sehangat ketika aku di Lazis Jakarta. Kemana saudara saudaraku yang dulu kami satu barisan? Aku kangen gelak tawa mereka. Terima kasih Allah. Dengan menjadi pengurus Lazis aku jadi mempraktikkan zakat.
Jakarta, 7 Oktober 2015, sambil menunggu rapat.
Lisa Tinaria
Aku berkenalan dengan praktik zakat, tidaklah segera setelah aku mendapat pembelajaran tentang itu dari ustadz atau buku. Entah apa yang menyebabkan aku masih ngeyel ketika itu. Nah, ketika aku diminta menjadi pengurus Lazis, cara pandangku berubah. Aku tidak saja harus membayar zakat tetapi juga mengajak orang lain membayar zakat.
"Bu Lisa, nanti ikut rapat Lazis ya", kuterima undangan rapat suatu sore, melalui telepon. Apa topik rapat aku tak tahu. Ternyata itu adalah rapat pembentukan pengurus baru. Dan aku ditunjuk sebagai salah satu pengurus. Tugasku? Menjadi penanggung jawab buletin Lazis yang terbit setiap dua bulan sekali.
Entah apa yang menjadi dasar kuorum ketika itu memilih aku sebagai "tukang tulis menulis". Uniknya aku menerima jabatan itu dengan senang hati, tanpa berargumen sama sekali.
"Gajiku" sebagai penulis, sekaligus editor, sekaligus mengurus pencetakan, tidaklah sesuai dengan hiruk pikuk pekerjaan setiap dua bulan. Biasanya aku riweh dot com menjelang deadline. Mencari tulisan untuk di-copy paste (sesuai kaidah referensi), mengedit tulisan yang masuk, bahkan membuat tulisan sendiri. Oya, juga mencari foto foto kegiatan kami, untuk dimuat di buletin itu. Lelah, karena semua itu kukerjakan setelah jam kerja kantor. Tidak jarang aku harus begadang. Dan reward yang kuterima Rp 50.000 satu tahun! Tetapi ternyata bukan itu yang kucari. Romantisme berorganisasi dengan saudara saudara seperjuangan, itulah yang membuat aku hidup - punya sisi lain di samping dunia kerja.
Kami rutin berkumpul setiap bulan untuk membahas segala persoalan. Yang mengharukan di setiap rapat ada saja di antara di kami yang menyumbang makanan. Meskipun dana penganan rapat juga tersedia.
Rapat, bahasannya segala rupa. Umumnya adalah membahas laporan penerimaan dan pengeluaran kas. Ada juga berbagi informasi tentang orang orang di sekitar kami, pengurus, yang membutuhkan bantuan. Permintaan bantuan ada juga yang datang secara resmi melalui surat, misalnya dari panti yatim. Di rapat itu diputuskan jumlah yang akan diberikan. Rapat juga membahas program kerja yang akan dilaksanakan.
Program kerja utama kami adalah kegiatan Ramadhan dan Idul Adha. Ada satu acara utama di malam Ramadhan yaitu buka puasa bersama anak yatim. Namun yang hadir pada acara itu juga pegawai di Gedung Pos Ibukota yang bekerja sampai malam ketika hari diselenggarakannya acara itu. Di samping itu beberapa pejabat di Regional Jakarta juga diundang.
Pengalaman yang selalu kuingat adalah bagaimana kami harus belanja sembako hingga tengah malam di Carefour Cempaka Mas Jakarta. Saking banyaknya, jumlahnya satu mobil pick up. Keesokan harinya sepulang kerja, kami mengemas sembako ke dalam tas plastik. Maksudnya itu sebagai bingkisan lebaran untuk anak yatim yang diundang pada acara buka puasa bersama. Acara bungkus membungkus itu juga berlangsung hingga tengah malam. Total bingkisan seingatku mencapai 500 paket dengan berat minimal sekitar 5 kg (ada gula, margarin, minyak goreng, tepung, kue kaleng, dan sirup). Dasar kami adalah pekerja sosial dalam lembaga Lazis, kegiatan melelahkan tersebut justru menjadi ajang bercanda ria.
Romantisme lain yang aku alami adalah mengikuti acara wisata rohani. Kami pergi ke daerah sekitar Bogor, yang berhawa sejuk dan menyewa villa murah (seingatku tanpa air panas untuk mandi). Untuk menghemat pengeluaran kami membawa tukang masak dan bahan makanan dari Jakarta. Walau berlibur dengan dana seadanya, kami tetap gelak tertawa. Dan yang utama, acara wisata itu diisi dengan beberapa session tausiyah, sholat malam bersama dan muhasabah.
Sekarang aku sudah pindah ke Kantor Pusat di Bandung. Akupun menjadi pengurus Lazis. Tetapi ruh dan semangat berorganisasi yang kurasa tidak sehangat ketika aku di Lazis Jakarta. Kemana saudara saudaraku yang dulu kami satu barisan? Aku kangen gelak tawa mereka. Terima kasih Allah. Dengan menjadi pengurus Lazis aku jadi mempraktikkan zakat.
Jakarta, 7 Oktober 2015, sambil menunggu rapat.
Lisa Tinaria
MENCARI KERJA
"Ibu bekerja di mana" adalah pertanyaan baku yang aku terima selama mencari rumah, dua bulan terakhir. Tetapi seorang ibu pemilik rumah yang aku lihat rumahnya, mengajukan pertanyaan unik " Bekerja atau berwiraswasta?". Aku salut dengan pertanyaan itu.
Mencari kerja vs menciptakan lapangan kerja, itulah isi utama tulisanku kali ini. Mari kita lihat analisis sederhana tentang kedua mainstream kegiatan mencari nafkah ini.
Ada korelasi positif antara tingkat entrepreneur dengan kemajuan ekonomi sebuah negara. Indonesia, jumlah wirausahawannya baru 1,65 persen dari total penduduk. Sementara Malaysia, Thailand dan Singapura, sudah mencapai 4 persen. Faktanya perekonomian ketiga negara tersebut memang lebih baik daripada perekonomian Indonesia. Di peringkat teratas dunia, terdapat Amerika Serikat yang entrepreneurnya sebagian besar berasal dari bidang teknologi dari daerah Silikon Valley. Sebagian besar dari para wirausahawan itu berasal dari sekolah bisnis terkemuka di negeri Paman Sam itu. Jepang dan Korea Selatan juga termasuk dalam peringkat atas persentase wirausahawannya. Beberapa brand dunia berasal dari kedua negara tersebut.
Mengapa satu negara berbeda dengan negara lain soal persentase wirausahawan ini? Aku berusaha melakukan penelitian kecil-kecilan dan sampai pada satu kesimpulan bahwa budaya merupakan faktor utama. Di Indonesia, mungkin karena bekas jajahan, maka mencari kerja, jadi pegawai, merupakan perjuangan utama setiap orang yang lulus kuliah. Sangat jarang di antara mereka atau orang tua mereka yang menginginkan membuka usaha, menciptakan lapangan kerja. Menjadi pegawai, terutama pegawai pemerintah, dianggap lebih bergengsi karena adanya kehidupan yang nyaris nyaman sepanjang hayat.
Menjadi pegawai, jelas tingkat stressnya lebih rendah daripada menjadi pengusaha. Seorang pengusaha harus memikirkan desain produk, cara menjual, mencari dana, menghitung keuangan, bahkan memikirkan mafia ini itu. Sementara seorang pegawai relatif lebih fokus pada "diri sendiri" : menyelesaikan pekerjaan sesuai target. Beberapa malah tidak perlu repot dengan tenggat pekerjaan, namun dengan karir yang lancar.
Apabila digali lebih dalam, maka cara berpikir tersebut disebabkan oleh daya juang yang rendah. Ada argumen yang menyatakan bahwa struggling-nya orang Melayu berada di bawah daya juang etnik yang bermata sipit. Coba perhatikan bahwa di tiga negara Asia di atas, etnik Cina, memang lebih mendominasi, ketimbang jumlahnya di Indonesia.
Lantas bagaimanalah negara awak yang sudah banyak "terlanjur" ini? Aku lihat, mulainya harus dari generasi seusiaku. Generasi yang saat ini mempunyai anak usia sekolah. Tuntutan orang tua, itulah yang akan membentuk cara berpikir anak. Beranikah orang tua seusiaku untuk mengatakan kepada anaknya yang sedang kuliah " Gimana kalo kamu bikin usaha?" Sanggupkah para orang tua bersabar melihat anaknya jatuh bangun memulai usaha, beberapa bahkan menghabiskan dana orang tua? Bisakah para orang tua menjadi teman kala sang anak sedang sangat down?
Para orang tua dapat memotivasi diri sendiri dan anak dengan teori motivasi yang diajarkan Rasulullah. Dalam Islam, pekerjaan menjadi pedagang, ternyata mendapat nilai lebih di mata Allah. Hal ini disampaikan Rasulullah bahwa "Sembilan dari sepuluh pintu rejeki ada dalam perdagangan". Lantas berdasarkan sejarah, sebagian besar Nabi adalah pedagang. Mungkinkah karena tingkat stress yang tinggi itu lantas Allah memberi nilai khusus pada entrepreneur?
Bandung, 3 Oktober 2015
Lisa Tinaria
"Ibu bekerja di mana" adalah pertanyaan baku yang aku terima selama mencari rumah, dua bulan terakhir. Tetapi seorang ibu pemilik rumah yang aku lihat rumahnya, mengajukan pertanyaan unik " Bekerja atau berwiraswasta?". Aku salut dengan pertanyaan itu.
Mencari kerja vs menciptakan lapangan kerja, itulah isi utama tulisanku kali ini. Mari kita lihat analisis sederhana tentang kedua mainstream kegiatan mencari nafkah ini.
Ada korelasi positif antara tingkat entrepreneur dengan kemajuan ekonomi sebuah negara. Indonesia, jumlah wirausahawannya baru 1,65 persen dari total penduduk. Sementara Malaysia, Thailand dan Singapura, sudah mencapai 4 persen. Faktanya perekonomian ketiga negara tersebut memang lebih baik daripada perekonomian Indonesia. Di peringkat teratas dunia, terdapat Amerika Serikat yang entrepreneurnya sebagian besar berasal dari bidang teknologi dari daerah Silikon Valley. Sebagian besar dari para wirausahawan itu berasal dari sekolah bisnis terkemuka di negeri Paman Sam itu. Jepang dan Korea Selatan juga termasuk dalam peringkat atas persentase wirausahawannya. Beberapa brand dunia berasal dari kedua negara tersebut.
Mengapa satu negara berbeda dengan negara lain soal persentase wirausahawan ini? Aku berusaha melakukan penelitian kecil-kecilan dan sampai pada satu kesimpulan bahwa budaya merupakan faktor utama. Di Indonesia, mungkin karena bekas jajahan, maka mencari kerja, jadi pegawai, merupakan perjuangan utama setiap orang yang lulus kuliah. Sangat jarang di antara mereka atau orang tua mereka yang menginginkan membuka usaha, menciptakan lapangan kerja. Menjadi pegawai, terutama pegawai pemerintah, dianggap lebih bergengsi karena adanya kehidupan yang nyaris nyaman sepanjang hayat.
Menjadi pegawai, jelas tingkat stressnya lebih rendah daripada menjadi pengusaha. Seorang pengusaha harus memikirkan desain produk, cara menjual, mencari dana, menghitung keuangan, bahkan memikirkan mafia ini itu. Sementara seorang pegawai relatif lebih fokus pada "diri sendiri" : menyelesaikan pekerjaan sesuai target. Beberapa malah tidak perlu repot dengan tenggat pekerjaan, namun dengan karir yang lancar.
Apabila digali lebih dalam, maka cara berpikir tersebut disebabkan oleh daya juang yang rendah. Ada argumen yang menyatakan bahwa struggling-nya orang Melayu berada di bawah daya juang etnik yang bermata sipit. Coba perhatikan bahwa di tiga negara Asia di atas, etnik Cina, memang lebih mendominasi, ketimbang jumlahnya di Indonesia.
Lantas bagaimanalah negara awak yang sudah banyak "terlanjur" ini? Aku lihat, mulainya harus dari generasi seusiaku. Generasi yang saat ini mempunyai anak usia sekolah. Tuntutan orang tua, itulah yang akan membentuk cara berpikir anak. Beranikah orang tua seusiaku untuk mengatakan kepada anaknya yang sedang kuliah " Gimana kalo kamu bikin usaha?" Sanggupkah para orang tua bersabar melihat anaknya jatuh bangun memulai usaha, beberapa bahkan menghabiskan dana orang tua? Bisakah para orang tua menjadi teman kala sang anak sedang sangat down?
Para orang tua dapat memotivasi diri sendiri dan anak dengan teori motivasi yang diajarkan Rasulullah. Dalam Islam, pekerjaan menjadi pedagang, ternyata mendapat nilai lebih di mata Allah. Hal ini disampaikan Rasulullah bahwa "Sembilan dari sepuluh pintu rejeki ada dalam perdagangan". Lantas berdasarkan sejarah, sebagian besar Nabi adalah pedagang. Mungkinkah karena tingkat stress yang tinggi itu lantas Allah memberi nilai khusus pada entrepreneur?
Bandung, 3 Oktober 2015
Lisa Tinaria
PENGAJIAN
Fifi temanku menawarkan kepadaku apakah aku mau ikut pengajian online. Nama komunitasnya BiAS. Aku langsung mengiyakan dan memdaftar via online. Lalu ada info lagi dari Fifi tentang kajian pra nikah, juga online. Tanpa banyak berpikir, aku juga langsung mendaftarkan diri.
Begitulah fenomena pengajian jaman sekarang. Setelah belanja online, berobat online (bertanya pada dokter via web), game online, biro jodoh online, maka sekarang ada pengajian online.
Bagiku pengajian online ini sangat bermanfaat. Aku bisa mengakses informasinya kapan saja dan di mana saja. Cocok sekali untukku yang suka "mencuri-curi" ketika rapat, terutama pada rapat yang aku tak mengerti mengapa aku harus di situ. Keuntungan lain, aku seakan akan "disuapi", sehingga tidak perlu repot mencari sumber hukum baik buku hard copy maupun buku Mbah Google. Hal lain, aku tidak perlu mencatat materi. Jikapun aku ingin share sebuah judul pengajian aku tidak perlu pergi ke tukang fotokopi. Cukup mem- forward materi yang akan ku-share. Pengajian online yang kuikuti juga menyediakan forum diskusi. So far, diskusi sedikit sekali kuikuti karena keterbatasan waktuku.
Kekurangan dari pengajian online adalah para anggota kecil kemungkinan kenal satu sama lain. Ada beberapa yang saling kenal sehingga diskusi banyak terjadi di antara yang kenal itu. Yang lain mungkin merasa cukup jadi pengamat. Karena kurangnya atau tidak adanya tatap muka secara langsung, maka para anggota tidak merasa perlu berkenalan lebih jauh. Taaruf dilakukan secara online dengan bertukar info umum tentang diri anggota, seperti nama, umur, pekerjaan dan kota tempat tinggal.
Berbeda sekali dengan pengajian di lingkungan RT atau RW. Biasanya para anggota terlibat secara emosional karena seringnya bertemu muka dan karena berada dalam lingkungan yang sama. Tidak jarang ajang pengajian juga jadi ajang arisan dan tempat berjualan. Kegiatan akhirnya tidak sebatas pengajian dalam arti berkumpul membahas suatu hukum, tetapi berkembang menjadi kegiatan membantu anggota yang kemalangan.
Demikianlah perbandingan pengajian konvensional dan pengajian online. Keduanya pada dasarnya saling melengkapi. Namun memilih salah satu pun tak masalah. Yang masalah adalah jika tak ikut pengajian sama sekali yang berarti tak ada proses belajar. Sayang sekali.
Bandung, 27 Sept 2015
Lisa Tinaria
Fifi temanku menawarkan kepadaku apakah aku mau ikut pengajian online. Nama komunitasnya BiAS. Aku langsung mengiyakan dan memdaftar via online. Lalu ada info lagi dari Fifi tentang kajian pra nikah, juga online. Tanpa banyak berpikir, aku juga langsung mendaftarkan diri.
Begitulah fenomena pengajian jaman sekarang. Setelah belanja online, berobat online (bertanya pada dokter via web), game online, biro jodoh online, maka sekarang ada pengajian online.
Bagiku pengajian online ini sangat bermanfaat. Aku bisa mengakses informasinya kapan saja dan di mana saja. Cocok sekali untukku yang suka "mencuri-curi" ketika rapat, terutama pada rapat yang aku tak mengerti mengapa aku harus di situ. Keuntungan lain, aku seakan akan "disuapi", sehingga tidak perlu repot mencari sumber hukum baik buku hard copy maupun buku Mbah Google. Hal lain, aku tidak perlu mencatat materi. Jikapun aku ingin share sebuah judul pengajian aku tidak perlu pergi ke tukang fotokopi. Cukup mem- forward materi yang akan ku-share. Pengajian online yang kuikuti juga menyediakan forum diskusi. So far, diskusi sedikit sekali kuikuti karena keterbatasan waktuku.
Kekurangan dari pengajian online adalah para anggota kecil kemungkinan kenal satu sama lain. Ada beberapa yang saling kenal sehingga diskusi banyak terjadi di antara yang kenal itu. Yang lain mungkin merasa cukup jadi pengamat. Karena kurangnya atau tidak adanya tatap muka secara langsung, maka para anggota tidak merasa perlu berkenalan lebih jauh. Taaruf dilakukan secara online dengan bertukar info umum tentang diri anggota, seperti nama, umur, pekerjaan dan kota tempat tinggal.
Berbeda sekali dengan pengajian di lingkungan RT atau RW. Biasanya para anggota terlibat secara emosional karena seringnya bertemu muka dan karena berada dalam lingkungan yang sama. Tidak jarang ajang pengajian juga jadi ajang arisan dan tempat berjualan. Kegiatan akhirnya tidak sebatas pengajian dalam arti berkumpul membahas suatu hukum, tetapi berkembang menjadi kegiatan membantu anggota yang kemalangan.
Demikianlah perbandingan pengajian konvensional dan pengajian online. Keduanya pada dasarnya saling melengkapi. Namun memilih salah satu pun tak masalah. Yang masalah adalah jika tak ikut pengajian sama sekali yang berarti tak ada proses belajar. Sayang sekali.
Bandung, 27 Sept 2015
Lisa Tinaria
Subscribe to:
Posts (Atom)