I AM PERSISTENT
"Would you please explain yourself using three adjective words" adalah salah satu pertanyaan dalam latihan interview pekerjaan, yang pernah aku ikuti. Dan aku menjawab " I am a kind person, I am analitical and persistent". Dalam dunia barat, karyawan yang memakai kata persisten, termasuk orang yang dicari.
Alhamdulillah aku tidak perlu mencari arti kata persistent ( adjective) atau persistence (noun) di kamus karena persisten merupakan karakterku. Sederhananya, persisten artinya teguh berusaha, tidak mudah give up dalam melakukan sesuatu. Patut diingat bahwa di samping mempunyai konotasi positif ( istilah kamusnya "approved") persisten juga mempunyai konotasi negatif ("disapproved"), contohnya persistent back pain.
Sejujurnya perlu ekstra upaya bagiku yang persisten untuk bergaul dalam budaya Indonesia yang "take everyhing easy" (tetapi belum tentu menyelesaikan masalah). Di kantor aku hobi menulis nota teguran, menikmati membuat laporan resmi, suka menulis MoM, serta rajin membaca dan mengomentari email dinas. Soal tulis menulis itu, bukanlah kebiasaan orang Indonesia umumnya, akibat dari tidak adanya budaya membaca. Dalam kehidupan pribadi aku persisten untuk menjadikan sayur dan buah sebagai makanan pokokku, pengganti nasi. Lagi_lagi aku berbeda dari khalayak ramai. Teman kos ku bilang "Kalau gak makan nasi berarti belum makan". Teman lain yang tahu tentang my persistence dalam makan sayur dan buah bisa tercengang sambil bertanya "Koq bisa sudah lima tahun jarang sekali makan nasi?"
Karena sifatku yang persisten itu, beberapa teman kantor mengomentari "Sudahlah Lisa, jangan terlalu serius". Aku kadang bingung apakah serius melakukan sesuatu dalam arti berulang ulang mengupayakan solusi merupakan suatu dosa? Seakan akan orang yang serius adalah manusia dengan penyakit jiwa tertentu sementara orang yang nyantai adalah orang yang cerdas yang bisa menyelesaikan masalah dengan style cueknya. Seorang temanku pernah juga berkomentar "Orang yang serius belum tentu koq bisa menyelesaikan masalah".
Terus terang aku merasa "kalah" dalam soal serius dan persisten. Merasa bodoh karena tidak bisa bersikap santai. Ada upayaku untuk "menurunkan standar" yang aku sendiri tidak paham bagaimana teknisnya. Apakah aku tidak perlu lagi banyak menulis nota teguran? Kalau ada SOP, lebih baik aku tidak membacanya agar aku tidak mengkritisinya? Kalau ada report anak PKL aku tidak perlu membacanya? Langsung saja menandatanganinya kalau perlu sambil tutup mata. Lama lama memikirkan perubahan itu, aku pening sendiri. Sampai akhirnya aku menemukan jawabannya di pengajian.
Persisten, bahasa al Quran_nya adalah istiqomah. Tetap berbuat baik dalam segala "cuaca", termasuk ketika diri ini merasa berat atau malas melakukannya. Termasuk ketika ada orang menilai baik atau menilai buruk. Kalau sudah diterpa setan malas maka di sinilah doa anti malas berperan. Termasuk dalam kelompok arti persisten adalah kata sabar, artinya menahan diri untuk tetap melakukan kebaikan atau tetap menghindar dari perbuatan buruk. Konsekwensi dari persisten adalah serius dalam bertindak untuk kebaikan. Nah, untuk padanan serius aku menemukan kata jahadu artinya bersungguh sungguh. Dari sinilah kata jihad berasal. Lantas bagaimana dengan cap tidak pernah santai? Aku pun menemukan jawabannya, yaitu tawakal. Setelah menyempurnakan ikhtiar maka serahkan hasilnya kepada Allah. Hasilnya bisa jadi bikin gedubrak. Tetapi kan sudah diupayakan? Hasilnya mungkin bikin orang lain berkomentar bla bla bla. Terapi bukankah upaya itu bukan dipersembahkan kepada mereka. So mengapa harus repot dengan komentar mereka?
Setelah menemukan jawaban itu semua, aku menjadi pribadi yang justru lebih santai. Aku lebih siap menghadapi skenario terburuk dalam keseharian maupun dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan. Ada hal aneh lagi. Aku jadi lebih banyak tersenyum! Semoga ini pertanda baik ya. Akhirnya aku menyimpulkan, biarlah aku persisten dengan persistensiku.
Bandung, 13 Okt 2015
Lisa Tinaria
Saturday, November 11, 2017
TULISAN TEMAN
Sudah beberapa hari ini aku tidak bisa menyimak grup-ku tercinta, Menulis Untuk Ibadah, secara penuh. Satu minggu ini rasanya aku susah "bernafas" di kantor. Membaca postingan teman-teman hanya bisa kulakukan menjelang tidur. Menulis pun begitu. Itu adalah kegiatan terakhir sebelum zzzz......zzzzz.....zzzzz.
Nah tulisan ini kubuat setelah aku selesai makan malam, mencuci. mandi dan sholat. Lagi - lagi aku membaca tulisan unik. Dari Ira, tentang wanita cantik yg "berusaha selalu tertawa" di pesta dan tertawanya dengan para lelaki. Ternyata tak semua lelaki yang mengelilinginya merasa nyaman dengan attitude seperti itu. Aku merasa ada pesan moral di sana. Aku salut pada Ira yang berbicara moral dengan tersirat demikian.
Lantas ada tulisan Atty tentang hujan yang menimbulkan kesyahduan. Mr Yahya dan Tidi mengangkat tema yang sama, batu akik. Hei....! Adakah tulisan teman yang belum kubaca? Haruskah kubaca semua? Aku memgharuskan diriku untuk itu. Bukankah ada cerita lucu di sana (Valentino yang ternyata jeruk makan jeruk, Denok alias siapa itu? Cerita debt collector Fifi, yg berusaha membuat wajahnya sangar). Lalu ada informasi soal mafia parkir, mani gajah. Ha, ha... Cak Mo yang "sadis" tetapi efektif dalam membiasakan bangun dan mandi pagi. Lalu ada pelajaran kesabaran bahwa aku pun perlu disiplin membaca tulisan teman. Pelajaran lainnya: membaca cepat. Pernahkah teman teman memdengar tentang itu? Gerakkan cursor, dengan kecepatan stabil tanpa berhenti. Biarkan otak yang memutuskan makna, bukan mata.
Demikian banyak bukan yang kuserap dari grup ini? Namun, maaf temanku, tak selalu aku sempat mengapresiasi, dengan jempol, bintang tujuh (bukan brand obat sakit kepala), atau "heart". By the way, itu pun sesuatu yang harus kupelajari, kuupayakan untuk jadi kebiasaan. Bukankah aku harus belajar legowo dengan hasil kerja anggota tim ku di kantor? Terima kasih kepada guru menulis kami Kang Benny, yang tak luput mengapresiasi.
Bandung, 9 Oktober 2015, sebelum tidur.
Lisa Tinaria
Sudah beberapa hari ini aku tidak bisa menyimak grup-ku tercinta, Menulis Untuk Ibadah, secara penuh. Satu minggu ini rasanya aku susah "bernafas" di kantor. Membaca postingan teman-teman hanya bisa kulakukan menjelang tidur. Menulis pun begitu. Itu adalah kegiatan terakhir sebelum zzzz......zzzzz.....zzzzz.
Nah tulisan ini kubuat setelah aku selesai makan malam, mencuci. mandi dan sholat. Lagi - lagi aku membaca tulisan unik. Dari Ira, tentang wanita cantik yg "berusaha selalu tertawa" di pesta dan tertawanya dengan para lelaki. Ternyata tak semua lelaki yang mengelilinginya merasa nyaman dengan attitude seperti itu. Aku merasa ada pesan moral di sana. Aku salut pada Ira yang berbicara moral dengan tersirat demikian.
Lantas ada tulisan Atty tentang hujan yang menimbulkan kesyahduan. Mr Yahya dan Tidi mengangkat tema yang sama, batu akik. Hei....! Adakah tulisan teman yang belum kubaca? Haruskah kubaca semua? Aku memgharuskan diriku untuk itu. Bukankah ada cerita lucu di sana (Valentino yang ternyata jeruk makan jeruk, Denok alias siapa itu? Cerita debt collector Fifi, yg berusaha membuat wajahnya sangar). Lalu ada informasi soal mafia parkir, mani gajah. Ha, ha... Cak Mo yang "sadis" tetapi efektif dalam membiasakan bangun dan mandi pagi. Lalu ada pelajaran kesabaran bahwa aku pun perlu disiplin membaca tulisan teman. Pelajaran lainnya: membaca cepat. Pernahkah teman teman memdengar tentang itu? Gerakkan cursor, dengan kecepatan stabil tanpa berhenti. Biarkan otak yang memutuskan makna, bukan mata.
Demikian banyak bukan yang kuserap dari grup ini? Namun, maaf temanku, tak selalu aku sempat mengapresiasi, dengan jempol, bintang tujuh (bukan brand obat sakit kepala), atau "heart". By the way, itu pun sesuatu yang harus kupelajari, kuupayakan untuk jadi kebiasaan. Bukankah aku harus belajar legowo dengan hasil kerja anggota tim ku di kantor? Terima kasih kepada guru menulis kami Kang Benny, yang tak luput mengapresiasi.
Bandung, 9 Oktober 2015, sebelum tidur.
Lisa Tinaria
KAKEK (lanjutan)
Datuk Sati yang membuka pintu depan pertama kali pagi itu. Di tangga rumah terdapat tetesan darah, yang sepertinya berlepotan karena diinjak sesuatu.Lalu pada daun pintu terdapat guratan seperti cakaran berukuran besar. Pastilah bukan manusia.
Bahasa yang dimengerti oleh penghuni rumah gadang itu sejak lama. Petaka! "Cari Pamanmu" Mande memgusap air matanya dengan ujung kebaya encimnya. Datuk Sati tanpa berkata, langsung menghambur ke halaman, berjalan bergegas.
Tak sampai mata hari setinggi penggalah, rumah gadang itu sudah ramai oleh para pelayat. Sesosok tubuh terbujur kaku di ruang utama rumah hadang itu. Bersimbah darah. Dialah Datuk Batuah yang kalah berlaga dengan Wak Talang tetapi menang mempertahankan kehormatan kaumnya.
Itulah sepenggal kisah tentang lelaki gagah, beberapa generasi di atasku. Dalam darahku mengalir darah Datuk Batuah dan Datuk Sati, melalui Mama.
Bandung, 7 Oktober 2015
Lisa Tinaria
Datuk Sati yang membuka pintu depan pertama kali pagi itu. Di tangga rumah terdapat tetesan darah, yang sepertinya berlepotan karena diinjak sesuatu.Lalu pada daun pintu terdapat guratan seperti cakaran berukuran besar. Pastilah bukan manusia.
Bahasa yang dimengerti oleh penghuni rumah gadang itu sejak lama. Petaka! "Cari Pamanmu" Mande memgusap air matanya dengan ujung kebaya encimnya. Datuk Sati tanpa berkata, langsung menghambur ke halaman, berjalan bergegas.
Tak sampai mata hari setinggi penggalah, rumah gadang itu sudah ramai oleh para pelayat. Sesosok tubuh terbujur kaku di ruang utama rumah hadang itu. Bersimbah darah. Dialah Datuk Batuah yang kalah berlaga dengan Wak Talang tetapi menang mempertahankan kehormatan kaumnya.
Itulah sepenggal kisah tentang lelaki gagah, beberapa generasi di atasku. Dalam darahku mengalir darah Datuk Batuah dan Datuk Sati, melalui Mama.
Bandung, 7 Oktober 2015
Lisa Tinaria
Friday, November 10, 2017
TO : DEAR GARUDA
Final call? No, not final call. Itu adalah message terakhir yang aku terima sehingga akhirnya aku memutuskan, "Dian, tolong carikan saya tiket". Empat jam dibutuhkan waktu untuk sampai kepada statement itu, di tengah kondisi sulitnya mendapatkan.tiket pesawat ke Banjarmasin.
Pesan pertama datang dari rekan satu bagianku, melalui Telegram, yang tak sempat kubaca karena aku sedang rapat. Itu tengah hari lewat sedikit. Penejalasan dari rekanku itu, setelah aku kembali ke kantor, membuat aku bertanya, mengapa harus mendadak. Pukul setengah tiga, sekarang.
Info kedua dari rekan kerja di Bagian HR, membuat aku bertanya "Siapa harus memberi komando pada siapa". Aku bukan bagian dari tim monitoring tersebut.
Hampir pukul tiga sore, sekarang. Aku tak tergerak memesan tiket. Tambah lagi rasanya hari itu waktu berjalan cepat. Jadwal pelatihan yang dirancang bersama rekan kerja satu divisi, masih belum fixed. Presentasi anggota timku, sebagai bahan ajar di pelatihan itu, belum seluruhnya kuperiksa. Banjarmasin? Aku belum pernah ke sana. Ada sedikit curiousity, tetapi malasku lebih banyak, gara gara "Namaku tak ada di SK Tim. Tambah lagi siapa yang sebenarnya memberikan instruksi?"
Info terakhir dari atasanku langsung, barulah membuatku tak bisa menawar. Sekarang hampir pukul lima sore.
"Bu, sudah sold out", Dian memberitahuku. Itu hasil pencariannya, pada beberapa situs pencarian tiket.
"Coba langsung ke masing-masing site", kataku menghibur diriku (dan kurasa dirinya juga, atas kekhawatirannya, aku belum juga dapat tiket).
"Nah ini ada Bu. Lewat Jakarta".
Aku tak bisa memilih sekarang, lewat Bandung atau Jakarta. Jakarta? Lima jam, atau enam, atau ...? Aku pasrah.
"Eh, sudah hilang Bu". Dian tiba-tiba mengingatkanku yang sedang mengacak-ngacak surat di mejaku. Ya, search engine tiket itu bisa saja datanya hilang dalam hitungan detik. Terlambat meng-klik sekian detik maka habislah tiket. Kesimpulan sampai dengan adzan.maghrib: baru satu tiket pulang yang didapat Dian. Batas waktu pembayaran adalah sampai pukul 19.30. Kalau tidak ada tiket pergi, tiket pulang itu tak ada gunanya.
Aku sholat maghrib dengan menghiba sepenuhnya kepada Allah. Masalah di Banjarmasin memanglah masalah sesuai fungsiku. Anggota timku sudah ditunjuk mengatasi itu. Namun, pengawas tim, tidak bisa berangkat. Akhirnya aku yang ditunjuk, dadakan. "Ya Allah, jika kepergian ini baik untukku, maka mudahkan aku mendapat tiket itu".
Mas Aan adalah salah satu pegawai di Divisi Keuangan yang sering jadi tumpuan kami jika mencari tiket. Dia pengusaha travel. Ke ruangannya lah aku menuju. Ini pilihan terakhir. Dengan "power" yang dia punya, akhirnya aku mendapatkan tiket Garuda. Apa boleh buat kelasnya kelas bisnis, kelas untuk Direktur perusahaanku. Aku hanya bisa terpana membaca rupiah di e-ticket.
---
Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Gedung itu kelihatan cling sejak pertama aku menginjakkan kaki di lantainya. Jelas lantai itu mengilat. Memasuki pintu utama, aku tidak berdesakan atau bahkan bersenggolan dengan calon penumpang lain. Pintu itu lebar. Aku melewati x-ray pertama dengan santai. Selanjutnya segala sesuatu terasa lapang.
Kutapaki lantai "wall to wall carpeted". Aku mengitarkan pandang. Langit-langit ruangan, tinggi, di atas kepalaku. Di sisi langit-langit ada dinding kaca yang membiarkan masuk cahaya. Ruangan itu seperti tak berdinding. Akhirnya aku menemukan kucari, papan penunjuk arah counter check in. Terletak di atasku. Aku menengadah memandangnya. Terasa aku semakin mungil di ruang luas itu.
Check in selesai tanpa banyak ba bi bu. Aku tidak membawa bagasi. Begitulah kebiasaanku dalam perjalanan dinas yang umumnya dua sampai tiga hari. Aku selalu membawa tas pakaian berbahan ringan, bukan koper kecil ukuran kabin. Menurutku itu masih sanggup kutenteng. Begitu mendarat, aku senang sekali bisa kabur menemui penjemputku di exit gate.
Masih dua jam lagi. Perutku sekarang mulai memberikan sinyal. Tampaknya tak banyak pilihan bagiku yang pencinta "hijau". Akhirnya aku memesan nasi goreng. Carbohydrate again !
Aku masih sempat membuka si lippy sebentar sampai akhirnya panggilan boarding terdengar. Cukup jauh aku berjalan ke boarding gate dari area foodcourt. Aku memanfaatkan.beberapa coveyor. Rasanya aku menjadi bionic woman, melesat cepat menyelisihi orang orang yang berjalan santai di kiriku. Lumayan berkeringat, aku akhirnya melewati boarding gate.
Di luar gedung sudah menunggu sebuah minibus. Hanya aku dan seorang penumpang lain ada di bis itu.
"Selamat siang Bapak dan Ibu", supir menyapa kami.
Ternyata si burung besi beraksen biru, berdiri di lain sisi gedung. Atau malah di lain gedung? Begitu sampai di kaki pesawat, kami belum diijinkan naik ke pesawat. Kami sempat menunggu sekitar sepuluh menit di mobil.
Aku akhirnya duduk di dalam si burung biru. Kelas bisnis, the firts time in my life. Aku perhatikan run way di sebelah kiriku. Tercenung. Inilah rejekiku hari ini.
Kursi yang kududuki sesungguhnya kebesaran untuk badanku. Namun tentu itu pas untuk wisatawan internasional. Untuk kenyamananku, ada bantal kursi tersedia. Tanganku bersandar di tangan kursi yang lebar. Itu adalah rumah dari beberapa fasilitas. Aku tak begitu memperhatikan apa saja. Yang paling kupaham adalah layar di depan wajahku, yang terpasang di punggung kursi di depanku.
Run way masih tampak di kiriku. Pesawat masih `taxing`.
"Ibu ingin minum apa?" seseorang membuyarkan lamunanku. Seorang laki laki berusia matang berdasi, berjas, membungkuk ke arahku. Wajah itu tanpa senyum namun aku tetap merasakan keramahannya.
"Boleh teh tawar panas?" Aku kembali melihat ke runway. Wellcome drink itu datang membuyarkan perhatianku. Cangkir keramik putih dengan tatakan juga berwarna putih, ringan; aku menangkap kesan mewah sekaligus elegan. Minuman favoritku di setiap awal pagi di kantor itu, kuhabiskan dalam satu menit.
Pesawat akhirnya mengudara. Aku selalu berusaha melewati detik detik melawan gravitasi bumi dengan penuh kesadaran bahwa "sesuatu risiko bisa terjadi, namun Sesuatu juga yang menetapkan itu tidak terjadi". Pesawat itu ada dalam genggaman Sang Khalik.
Momen "lampu merah" itu selesai sudah. Aku mulai melemaskan punggungku, menjulurkan kaki, dengan duduk agak melorot di kursi kebesaran (ukurannya) itu. Tanganku bersedekap di dada di balik hijabku yang menutup dada.
"Ibu ingin selimut?" sebuah muka mendekat ke arahku. Seorang pramugari menawarkan kehangatan.
"Tidak", kataku membalas senyumnya.
Aku tak membawa buku untuk dibaca. Musik? Aku tak tertarik pada layar di depan hidungku. Lelah yang sekarang kurasa setelah perjalanan hampir 8 jam sejak keluar rumah, membuat aku ingin menyendiri. Keluar dari hiruk pikuk entah apa.
"Ibu perlu bacaan?" suara ramah memecah kesunyian dalam diriku. Pemilik suara membawa beberapa koran dan majalah. Kurasa ini yang kuinginkan; kembali kepada "masa lalu" : kertas, bukan layar berpendar yang melelahkan mata. Aku mengambil satu koran nasional.
Tak banyak yang kuperhatikan pada kertas lebar yang kubentangkan itu. Tampaknya bukan tulisan, apa lagi berukuran kecil yang kubutuhkan sekarang. Kepalaku tak menerima. Aku letakkan koran itu di kantung yang melekat pada punggung kursi, di depanku.
"Bu silakan", pramugari sekarang mempersiapkan meja kemudian meletakkan baki berisi makanan di atasnya. Hhmm, mungkin ini bisa memberi warna pada perasaan lelahku. Aku tidak lapar namun sajian itu tampaknya, "sesuatu".
Ada menu utama berupa nasi berwarna hijau dengan lauk. Ada sayur juga. Lantas ada penutup.
"Ibu ingin minum apa?"
Kali ini aku meminta air putih hangat.
Aku buka kotak transparan di bawah hidungku. Harum tertentu membangkitkan keingintahuanku. Kusendok si hijau ke mulutku. Itu nasi goreng atau sejenis nasi yang diolah seperti nasi kuning atau nasi kebuli. Bedanya, kali ini, dia berwarna hijau. Kuangkat lauk berwarna orange tua ke mulutku. Rasanya mirip daging masak asam padeh di rumahku di Padang, namun bumbunya "going no where". Kata seorang temanku, kalau memasak, bumbunya harus "berani". Nah, dalam masakan ini, "keberanian" itu tak terjadi.
Aku memandangi nanar si orange tua. Tampaknya dia menjadi "catatan" tersendiri dalam perjalananku kali ini. Sejak masuk terminal hingga duduk di kursi ukuran besar ini, aku merasakan banyak sentuhan, mulai dari detail artistik di ruang tunggu yang luas, sapaan hangat di sana sini, tawaran ini dan itu di kelas khusus ini. Namun semuanya menjadi bernoktah karena masakan yang satu ini.
Aku berusaha menghabiskannya. Entah karena lapar, entah karena "kasihan" padanya. Setidaknya dia rejekiku saat ini. Tidak sepatutnya kucampakkan dia. Kuhibur diri bahwa dia "not bad".
Pikiranku berputar kepada sebuah berita bisnis tentang airline yang kupakai kali ini. Rugi yang spektakuler membuat aku bertanya tentang segala fasilitas yang kuterima. Apakah semua ini dibutuhkan penumpang? O ya, perjalananku kali ini hanya satu setengah jam.
Siapa yang ingin disainginya di dalam negeri dengan segala pernak pernik ini? Sementara budget airline merajai runway. Untuk penerbangan luar negeri? Terdapat Singapore Airlines,dengan ikon kualitas dan Air Asia dengan label "murah". Aku ingat sebuah istilah untuk situasi ini "stuck in the middle". Entahlah.
----
Tulisan ini akhirnya kuselesaikan setelah tiga bulan lebih terkatung katung. Dia menjadi sangat bermakna ketika Jumat minggu lalu aku rapat dengan Tim Garuda Indonesia, membahas kargo Pos dan Garuda, sebuah joint product. Betapa flag carrier ini berusaha keras mengisi space kargonya terutama untuk penerbangan ke Indonesia Timur. Target tim kargo Garuda tersebut, bagiku sama spektakulernya dengan kerugian saat ini. Salut untuk Pak Rene dan timnya yang mengemban amanah tersebut.
Bandung, 10 11 2017
Lisa Tinaria
Final call? No, not final call. Itu adalah message terakhir yang aku terima sehingga akhirnya aku memutuskan, "Dian, tolong carikan saya tiket". Empat jam dibutuhkan waktu untuk sampai kepada statement itu, di tengah kondisi sulitnya mendapatkan.tiket pesawat ke Banjarmasin.
Pesan pertama datang dari rekan satu bagianku, melalui Telegram, yang tak sempat kubaca karena aku sedang rapat. Itu tengah hari lewat sedikit. Penejalasan dari rekanku itu, setelah aku kembali ke kantor, membuat aku bertanya, mengapa harus mendadak. Pukul setengah tiga, sekarang.
Info kedua dari rekan kerja di Bagian HR, membuat aku bertanya "Siapa harus memberi komando pada siapa". Aku bukan bagian dari tim monitoring tersebut.
Hampir pukul tiga sore, sekarang. Aku tak tergerak memesan tiket. Tambah lagi rasanya hari itu waktu berjalan cepat. Jadwal pelatihan yang dirancang bersama rekan kerja satu divisi, masih belum fixed. Presentasi anggota timku, sebagai bahan ajar di pelatihan itu, belum seluruhnya kuperiksa. Banjarmasin? Aku belum pernah ke sana. Ada sedikit curiousity, tetapi malasku lebih banyak, gara gara "Namaku tak ada di SK Tim. Tambah lagi siapa yang sebenarnya memberikan instruksi?"
Info terakhir dari atasanku langsung, barulah membuatku tak bisa menawar. Sekarang hampir pukul lima sore.
"Bu, sudah sold out", Dian memberitahuku. Itu hasil pencariannya, pada beberapa situs pencarian tiket.
"Coba langsung ke masing-masing site", kataku menghibur diriku (dan kurasa dirinya juga, atas kekhawatirannya, aku belum juga dapat tiket).
"Nah ini ada Bu. Lewat Jakarta".
Aku tak bisa memilih sekarang, lewat Bandung atau Jakarta. Jakarta? Lima jam, atau enam, atau ...? Aku pasrah.
"Eh, sudah hilang Bu". Dian tiba-tiba mengingatkanku yang sedang mengacak-ngacak surat di mejaku. Ya, search engine tiket itu bisa saja datanya hilang dalam hitungan detik. Terlambat meng-klik sekian detik maka habislah tiket. Kesimpulan sampai dengan adzan.maghrib: baru satu tiket pulang yang didapat Dian. Batas waktu pembayaran adalah sampai pukul 19.30. Kalau tidak ada tiket pergi, tiket pulang itu tak ada gunanya.
Aku sholat maghrib dengan menghiba sepenuhnya kepada Allah. Masalah di Banjarmasin memanglah masalah sesuai fungsiku. Anggota timku sudah ditunjuk mengatasi itu. Namun, pengawas tim, tidak bisa berangkat. Akhirnya aku yang ditunjuk, dadakan. "Ya Allah, jika kepergian ini baik untukku, maka mudahkan aku mendapat tiket itu".
Mas Aan adalah salah satu pegawai di Divisi Keuangan yang sering jadi tumpuan kami jika mencari tiket. Dia pengusaha travel. Ke ruangannya lah aku menuju. Ini pilihan terakhir. Dengan "power" yang dia punya, akhirnya aku mendapatkan tiket Garuda. Apa boleh buat kelasnya kelas bisnis, kelas untuk Direktur perusahaanku. Aku hanya bisa terpana membaca rupiah di e-ticket.
---
Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Gedung itu kelihatan cling sejak pertama aku menginjakkan kaki di lantainya. Jelas lantai itu mengilat. Memasuki pintu utama, aku tidak berdesakan atau bahkan bersenggolan dengan calon penumpang lain. Pintu itu lebar. Aku melewati x-ray pertama dengan santai. Selanjutnya segala sesuatu terasa lapang.
Kutapaki lantai "wall to wall carpeted". Aku mengitarkan pandang. Langit-langit ruangan, tinggi, di atas kepalaku. Di sisi langit-langit ada dinding kaca yang membiarkan masuk cahaya. Ruangan itu seperti tak berdinding. Akhirnya aku menemukan kucari, papan penunjuk arah counter check in. Terletak di atasku. Aku menengadah memandangnya. Terasa aku semakin mungil di ruang luas itu.
Check in selesai tanpa banyak ba bi bu. Aku tidak membawa bagasi. Begitulah kebiasaanku dalam perjalanan dinas yang umumnya dua sampai tiga hari. Aku selalu membawa tas pakaian berbahan ringan, bukan koper kecil ukuran kabin. Menurutku itu masih sanggup kutenteng. Begitu mendarat, aku senang sekali bisa kabur menemui penjemputku di exit gate.
Masih dua jam lagi. Perutku sekarang mulai memberikan sinyal. Tampaknya tak banyak pilihan bagiku yang pencinta "hijau". Akhirnya aku memesan nasi goreng. Carbohydrate again !
Aku masih sempat membuka si lippy sebentar sampai akhirnya panggilan boarding terdengar. Cukup jauh aku berjalan ke boarding gate dari area foodcourt. Aku memanfaatkan.beberapa coveyor. Rasanya aku menjadi bionic woman, melesat cepat menyelisihi orang orang yang berjalan santai di kiriku. Lumayan berkeringat, aku akhirnya melewati boarding gate.
Di luar gedung sudah menunggu sebuah minibus. Hanya aku dan seorang penumpang lain ada di bis itu.
"Selamat siang Bapak dan Ibu", supir menyapa kami.
Ternyata si burung besi beraksen biru, berdiri di lain sisi gedung. Atau malah di lain gedung? Begitu sampai di kaki pesawat, kami belum diijinkan naik ke pesawat. Kami sempat menunggu sekitar sepuluh menit di mobil.
Aku akhirnya duduk di dalam si burung biru. Kelas bisnis, the firts time in my life. Aku perhatikan run way di sebelah kiriku. Tercenung. Inilah rejekiku hari ini.
Kursi yang kududuki sesungguhnya kebesaran untuk badanku. Namun tentu itu pas untuk wisatawan internasional. Untuk kenyamananku, ada bantal kursi tersedia. Tanganku bersandar di tangan kursi yang lebar. Itu adalah rumah dari beberapa fasilitas. Aku tak begitu memperhatikan apa saja. Yang paling kupaham adalah layar di depan wajahku, yang terpasang di punggung kursi di depanku.
Run way masih tampak di kiriku. Pesawat masih `taxing`.
"Ibu ingin minum apa?" seseorang membuyarkan lamunanku. Seorang laki laki berusia matang berdasi, berjas, membungkuk ke arahku. Wajah itu tanpa senyum namun aku tetap merasakan keramahannya.
"Boleh teh tawar panas?" Aku kembali melihat ke runway. Wellcome drink itu datang membuyarkan perhatianku. Cangkir keramik putih dengan tatakan juga berwarna putih, ringan; aku menangkap kesan mewah sekaligus elegan. Minuman favoritku di setiap awal pagi di kantor itu, kuhabiskan dalam satu menit.
Pesawat akhirnya mengudara. Aku selalu berusaha melewati detik detik melawan gravitasi bumi dengan penuh kesadaran bahwa "sesuatu risiko bisa terjadi, namun Sesuatu juga yang menetapkan itu tidak terjadi". Pesawat itu ada dalam genggaman Sang Khalik.
Momen "lampu merah" itu selesai sudah. Aku mulai melemaskan punggungku, menjulurkan kaki, dengan duduk agak melorot di kursi kebesaran (ukurannya) itu. Tanganku bersedekap di dada di balik hijabku yang menutup dada.
"Ibu ingin selimut?" sebuah muka mendekat ke arahku. Seorang pramugari menawarkan kehangatan.
"Tidak", kataku membalas senyumnya.
Aku tak membawa buku untuk dibaca. Musik? Aku tak tertarik pada layar di depan hidungku. Lelah yang sekarang kurasa setelah perjalanan hampir 8 jam sejak keluar rumah, membuat aku ingin menyendiri. Keluar dari hiruk pikuk entah apa.
"Ibu perlu bacaan?" suara ramah memecah kesunyian dalam diriku. Pemilik suara membawa beberapa koran dan majalah. Kurasa ini yang kuinginkan; kembali kepada "masa lalu" : kertas, bukan layar berpendar yang melelahkan mata. Aku mengambil satu koran nasional.
Tak banyak yang kuperhatikan pada kertas lebar yang kubentangkan itu. Tampaknya bukan tulisan, apa lagi berukuran kecil yang kubutuhkan sekarang. Kepalaku tak menerima. Aku letakkan koran itu di kantung yang melekat pada punggung kursi, di depanku.
"Bu silakan", pramugari sekarang mempersiapkan meja kemudian meletakkan baki berisi makanan di atasnya. Hhmm, mungkin ini bisa memberi warna pada perasaan lelahku. Aku tidak lapar namun sajian itu tampaknya, "sesuatu".
Ada menu utama berupa nasi berwarna hijau dengan lauk. Ada sayur juga. Lantas ada penutup.
"Ibu ingin minum apa?"
Kali ini aku meminta air putih hangat.
Aku buka kotak transparan di bawah hidungku. Harum tertentu membangkitkan keingintahuanku. Kusendok si hijau ke mulutku. Itu nasi goreng atau sejenis nasi yang diolah seperti nasi kuning atau nasi kebuli. Bedanya, kali ini, dia berwarna hijau. Kuangkat lauk berwarna orange tua ke mulutku. Rasanya mirip daging masak asam padeh di rumahku di Padang, namun bumbunya "going no where". Kata seorang temanku, kalau memasak, bumbunya harus "berani". Nah, dalam masakan ini, "keberanian" itu tak terjadi.
Aku memandangi nanar si orange tua. Tampaknya dia menjadi "catatan" tersendiri dalam perjalananku kali ini. Sejak masuk terminal hingga duduk di kursi ukuran besar ini, aku merasakan banyak sentuhan, mulai dari detail artistik di ruang tunggu yang luas, sapaan hangat di sana sini, tawaran ini dan itu di kelas khusus ini. Namun semuanya menjadi bernoktah karena masakan yang satu ini.
Aku berusaha menghabiskannya. Entah karena lapar, entah karena "kasihan" padanya. Setidaknya dia rejekiku saat ini. Tidak sepatutnya kucampakkan dia. Kuhibur diri bahwa dia "not bad".
Pikiranku berputar kepada sebuah berita bisnis tentang airline yang kupakai kali ini. Rugi yang spektakuler membuat aku bertanya tentang segala fasilitas yang kuterima. Apakah semua ini dibutuhkan penumpang? O ya, perjalananku kali ini hanya satu setengah jam.
Siapa yang ingin disainginya di dalam negeri dengan segala pernak pernik ini? Sementara budget airline merajai runway. Untuk penerbangan luar negeri? Terdapat Singapore Airlines,dengan ikon kualitas dan Air Asia dengan label "murah". Aku ingat sebuah istilah untuk situasi ini "stuck in the middle". Entahlah.
----
Tulisan ini akhirnya kuselesaikan setelah tiga bulan lebih terkatung katung. Dia menjadi sangat bermakna ketika Jumat minggu lalu aku rapat dengan Tim Garuda Indonesia, membahas kargo Pos dan Garuda, sebuah joint product. Betapa flag carrier ini berusaha keras mengisi space kargonya terutama untuk penerbangan ke Indonesia Timur. Target tim kargo Garuda tersebut, bagiku sama spektakulernya dengan kerugian saat ini. Salut untuk Pak Rene dan timnya yang mengemban amanah tersebut.
Bandung, 10 11 2017
Lisa Tinaria
TO : DEAR GARUDA
Final call? No, not final call. Itu adalah message terakhir yang aku terima sehingga akhirnya aku memutuskan, "Dian, tolong carikan saya tiket". Empat jam dibutuhkan waktu untuk sampai kepada statement itu, di tengah kondisi sulitnya mendapatkan.tiket pesawat ke Banjarmasin.
Pesan pertama datang dari rekan satu bagianku, melalui Telegram, yang tak sempat kubaca karena aku sedang rapat. Itu tengah hari lewat sedikit. Penejalasan dari rekanku itu, setelah aku kembali ke kantor, membuat aku bertanya, mengapa harus mendadak. Pukul setengah tiga, sekarang.
Info kedua dari rekan kerja di Bagian HR, membuat aku bertanya "Siapa harus memberi komando pada siapa". Aku bukan bagian dari tim monitoring tersebut.
Hampir pukul tiga sore, sekarang. Aku tak tergerak memesan tiket. Tambah lagi rasanya hari itu waktu berjalan cepat. Jadwal pelatihan yang dirancang bersama rekan kerja satu divisi, masih belum fixed. Presentasi anggota timku, sebagai bahan ajar di pelatihan itu, belum seluruhnya kuperiksa. Banjarmasin? Aku belum pernah ke sana. Ada sedikit curiousity, tetapi malasku lebih banyak, gara gara "Namaku tak ada di SK Tim. Tambah lagi siapa yang sebenarnya memberikan instruksi?"
Info terakhir dari atasanku langsung, barulah membuatku tak bisa menawar. Sekarang hampir pukul lima sore.
"Bu, sudah sold out", Dian memberitahuku. Itu hasil pencariannya, pada beberapa situs pencarian tiket.
"Coba langsung ke masing-masing site", kataku menghibur diriku (dan kurasa dirinya juga, atas kekhawatirannya, aku belum juga dapat tiket).
"Nah ini ada Bu. Lewat Jakarta".
Aku tak bisa memilih sekarang, lewat Bandung atau Jakarta. Jakarta? Lima jam, atau enam, atau ...? Aku pasrah.
"Eh, sudah hilang Bu". Dian tiba-tiba mengingatkanku yang sedang mengacak-ngacak surat di mejaku. Ya, search engine tiket itu bisa saja datanya hilang dalam hitungan detik. Terlambat meng-klik sekian detik maka habislah tiket. Kesimpulan sampai dengan adzan.maghrib: baru satu tiket pulang yang didapat Dian. Batas waktu pembayaran adalah sampai pukul 19.30. Kalau tidak ada tiket pergi, tiket pulang itu tak ada gunanya.
Aku sholat maghrib dengan menghiba sepenuhnya kepada Allah. Masalah di Banjarmasin memanglah masalah sesuai fungsiku. Anggota timku sudah ditunjuk mengatasi itu. Namun, pengawas tim, tidak bisa berangkat. Akhirnya aku yang ditunjuk, dadakan. "Ya Allah, jika kepergian ini baik untukku, maka mudahkan aku mendapat tiket itu".
Mas Aan adalah salah satu pegawai di Divisi Keuangan yang sering jadi tumpuan kami jika mencari tiket. Dia pengusaha travel. Ke ruangannya lah aku menuju. Ini pilihan terakhir. Dengan "power" yang dia punya, akhirnya aku mendapatkan tiket Garuda. Apa boleh buat kelasnya kelas bisnis, kelas untuk Direktur perusahaanku. Aku hanya bisa terpana membaca rupiah di e-ticket.
---
Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Gedung itu kelihatan cling sejak pertama aku menginjakkan kaki di lantainya. Jelas lantai itu mengilat. Memasuki pintu utama, aku tidak berdesakan atau bahkan bersenggolan dengan calon penumpang lain. Pintu itu lebar. Aku melewati x-ray pertama dengan santai. Selanjutnya segala sesuatu terasa lapang.
Kutapaki lantai "wall to wall carpeted". Aku mengitarkan pandang. Langit-langit ruangan, tinggi, di atas kepalaku. Di sisi langit-langit ada dinding kaca yang membiarkan masuk cahaya. Ruangan itu seperti tak berdinding. Akhirnya aku menemukan kucari, papan penunjuk arah counter check in. Terletak di atasku. Aku menengadah memandangnya. Terasa aku semakin mungil di ruang luas itu.
Check in selesai tanpa banyak ba bi bu. Aku tidak membawa bagasi. Begitulah kebiasaanku dalam perjalanan dinas yang umumnya dua sampai tiga hari. Aku selalu membawa tas pakaian berbahan ringan, bukan koper kecil ukuran kabin. Menurutku itu masih sanggup kutenteng. Begitu mendarat, aku senang sekali bisa kabur menemui penjemputku di exit gate.
Masih dua jam lagi. Perutku sekarang mulai memberikan sinyal. Tampaknya tak banyak pilihan bagiku yang pencinta "hijau". Akhirnya aku memesan nasi goreng. Carbohydrate again !
Aku masih sempat membuka si lippy sebentar sampai akhirnya panggilan boarding terdengar. Cukup jauh aku berjalan ke boarding gate dari area foodcourt. Aku memanfaatkan.beberapa coveyor. Rasanya aku menjadi bionic woman, melesat cepat menyelisihi orang orang yang berjalan santai di kiriku. Lumayan berkeringat, aku akhirnya melewati boarding gate.
Di luar gedung sudah menunggu sebuah minibus. Hanya aku dan seorang penumpang lain ada di bis itu.
"Selamat siang Bapak dan Ibu", supir menyapa kami.
Ternyata si burung besi beraksen biru, berdiri di lain sisi gedung. Atau malah di lain gedung? Begitu sampai di kaki pesawat, kami belum diijinkan naik ke pesawat. Kami sempat menunggu sekitar sepuluh menit di mobil.
Aku akhirnya duduk di dalam si burung biru. Kelas bisnis, the firts time in my life. Aku perhatikan run way di sebelah kiriku. Tercenung. Inilah rejekiku hari ini.
Kursi yang kududuki sesungguhnya kebesaran untuk badanku. Namun tentu itu pas untuk wisatawan internasional. Untuk kenyamananku, ada bantal kursi tersedia. Tanganku bersandar di tangan kursi yang lebar. Itu adalah rumah dari beberapa fasilitas. Aku tak begitu memperhatikan apa saja. Yang paling kupaham adalah layar di depan wajahku, yang terpasang di punggung kursi di depanku.
Run way masih tampak di kiriku. Pesawat masih `taxing`.
"Ibu ingin minum apa?" seseorang membuyarkan lamunanku. Seorang laki laki berusia matang berdasi, berjas, membungkuk ke arahku. Wajah itu tanpa senyum namun aku tetap merasakan keramahannya.
"Boleh teh tawar panas?" Aku kembali melihat ke runway. Wellcome drink itu datang membuyarkan perhatianku. Cangkir keramik putih dengan tatakan juga berwarna putih, ringan; aku menangkap kesan mewah sekaligus elegan. Minuman favoritku di setiap awal pagi di kantor itu, kuhabiskan dalam satu menit.
Pesawat akhirnya mengudara. Aku selalu berusaha melewati detik detik melawan gravitasi bumi dengan penuh kesadaran bahwa "sesuatu risiko bisa terjadi, namun Sesuatu juga yang menetapkan itu tidak terjadi". Pesawat itu ada dalam genggaman Sang Khalik.
Momen "lampu merah" itu selesai sudah. Aku mulai melemaskan punggungku, menjulurkan kaki, dengan duduk agak melorot di kursi kebesaran (ukurannya) itu. Tanganku bersedekap di dada di balik hijabku yang menutup dada.
"Ibu ingin selimut?" sebuah muka mendekat ke arahku. Seorang pramugari menawarkan kehangatan.
"Tidak", kataku membalas senyumnya.
Aku tak membawa buku untuk dibaca. Musik? Aku tak tertarik pada layar di depan hidungku. Lelah yang sekarang kurasa setelah perjalanan hampir 8 jam sejak keluar rumah, membuat aku ingin menyendiri. Keluar dari hiruk pikuk entah apa.
"Ibu perlu bacaan?" suara ramah memecah kesunyian dalam diriku. Pemilik suara membawa beberapa koran dan majalah. Kurasa ini yang kuinginkan; kembali kepada "masa lalu" : kertas, bukan layar berpendar yang melelahkan mata. Aku mengambil satu koran nasional.
Tak banyak yang kuperhatikan pada kertas lebar yang kubentangkan itu. Tampaknya bukan tulisan, apa lagi berukuran kecil yang kubutuhkan sekarang. Kepalaku tak menerima. Aku letakkan koran itu di kantung yang melekat pada punggung kursi, di depanku.
"Bu silakan", pramugari sekarang mempersiapkan meja kemudian meletakkan baki berisi makanan di atasnya. Hhmm, mungkin ini bisa memberi warna pada perasaan lelahku. Aku tidak lapar namun sajian itu tampaknya, "sesuatu".
Ada menu utama berupa nasi berwarna hijau dengan lauk. Ada sayur juga. Lantas ada penutup.
"Ibu ingin minum apa?"
Kali ini aku meminta air putih hangat.
Aku buka kotak transparan di bawah hidungku. Harum tertentu membangkitkan keingintahuanku. Kusendok si hijau ke mulutku. Itu nasi goreng atau sejenis nasi yang diolah seperti nasi kuning atau nasi kebuli. Bedanya, kali ini, dia berwarna hijau. Kuangkat lauk berwarna orange tua ke mulutku. Rasanya mirip daging masak asam padeh di rumahku di Padang, namun bumbunya "going no where". Kata seorang temanku, kalau memasak, bumbunya harus "berani". Nah, dalam masakan ini, "keberanian" itu tak terjadi.
Aku memandangi nanar si orange tua. Tampaknya dia menjadi "catatan" tersendiri dalam perjalananku kali ini. Sejak masuk terminal hingga duduk di kursi ukuran besar ini, aku merasakan banyak sentuhan, mulai dari detail artistik di ruang tunggu yang luas, sapaan hangat di sana sini, tawaran ini dan itu di kelas khusus ini. Namun semuanya menjadi bernoktah karena masakan yang satu ini.
Aku berusaha menghabiskannya. Entah karena lapar, entah karena "kasihan" padanya. Setidaknya dia rejekiku saat ini. Tidak sepatutnya kucampakkan dia. Kuhibur diri bahwa dia "not bad".
Pikiranku berputar kepada sebuah berita bisnis tentang airline yang kupakai kali ini. Rugi yang spektakuler membuat aku bertanya tentang segala fasilitas yang kuterima. Apakah semua ini dibutuhkan penumpang? O ya, perjalananku kali ini hanya satu setengah jam.
Siapa yang ingin disainginya di dalam negeri dengan segala pernak pernik ini? Sementara budget airline merajai runway. Untuk penerbangan luar negeri? Terdapat Singapore Airline dengan ikon kualitas dan Air Asia dengan label "murah". Aku ingat sebuah istilah untuk situasi ini "stuck in the middle". Entahlah.
----
Tulisan ini akhirnya kuselesaikan setelah tiga bulan lebih terkatung katung. Dia menjadi sangat bermakna ketika Jumat minggu lalu aku rapat dengan Tim Garuda Indonesia, membahas kargo Pos dan Garuda, sebuah joint product. Betapa flag carrier ini berusaha keras mengisi space kargonya terutama untuk penerbangan ke Indonesia Timur. Target tim kargo Garuda tersebut, bagiku sama spektakulernya dengan kerugian saat ini. Salut untuk Pak Rene dan timnya yang mengemban amanah tersebut.
Bandung, 10 11 2017
Lisa Tinaria
Final call? No, not final call. Itu adalah message terakhir yang aku terima sehingga akhirnya aku memutuskan, "Dian, tolong carikan saya tiket". Empat jam dibutuhkan waktu untuk sampai kepada statement itu, di tengah kondisi sulitnya mendapatkan.tiket pesawat ke Banjarmasin.
Pesan pertama datang dari rekan satu bagianku, melalui Telegram, yang tak sempat kubaca karena aku sedang rapat. Itu tengah hari lewat sedikit. Penejalasan dari rekanku itu, setelah aku kembali ke kantor, membuat aku bertanya, mengapa harus mendadak. Pukul setengah tiga, sekarang.
Info kedua dari rekan kerja di Bagian HR, membuat aku bertanya "Siapa harus memberi komando pada siapa". Aku bukan bagian dari tim monitoring tersebut.
Hampir pukul tiga sore, sekarang. Aku tak tergerak memesan tiket. Tambah lagi rasanya hari itu waktu berjalan cepat. Jadwal pelatihan yang dirancang bersama rekan kerja satu divisi, masih belum fixed. Presentasi anggota timku, sebagai bahan ajar di pelatihan itu, belum seluruhnya kuperiksa. Banjarmasin? Aku belum pernah ke sana. Ada sedikit curiousity, tetapi malasku lebih banyak, gara gara "Namaku tak ada di SK Tim. Tambah lagi siapa yang sebenarnya memberikan instruksi?"
Info terakhir dari atasanku langsung, barulah membuatku tak bisa menawar. Sekarang hampir pukul lima sore.
"Bu, sudah sold out", Dian memberitahuku. Itu hasil pencariannya, pada beberapa situs pencarian tiket.
"Coba langsung ke masing-masing site", kataku menghibur diriku (dan kurasa dirinya juga, atas kekhawatirannya, aku belum juga dapat tiket).
"Nah ini ada Bu. Lewat Jakarta".
Aku tak bisa memilih sekarang, lewat Bandung atau Jakarta. Jakarta? Lima jam, atau enam, atau ...? Aku pasrah.
"Eh, sudah hilang Bu". Dian tiba-tiba mengingatkanku yang sedang mengacak-ngacak surat di mejaku. Ya, search engine tiket itu bisa saja datanya hilang dalam hitungan detik. Terlambat meng-klik sekian detik maka habislah tiket. Kesimpulan sampai dengan adzan.maghrib: baru satu tiket pulang yang didapat Dian. Batas waktu pembayaran adalah sampai pukul 19.30. Kalau tidak ada tiket pergi, tiket pulang itu tak ada gunanya.
Aku sholat maghrib dengan menghiba sepenuhnya kepada Allah. Masalah di Banjarmasin memanglah masalah sesuai fungsiku. Anggota timku sudah ditunjuk mengatasi itu. Namun, pengawas tim, tidak bisa berangkat. Akhirnya aku yang ditunjuk, dadakan. "Ya Allah, jika kepergian ini baik untukku, maka mudahkan aku mendapat tiket itu".
Mas Aan adalah salah satu pegawai di Divisi Keuangan yang sering jadi tumpuan kami jika mencari tiket. Dia pengusaha travel. Ke ruangannya lah aku menuju. Ini pilihan terakhir. Dengan "power" yang dia punya, akhirnya aku mendapatkan tiket Garuda. Apa boleh buat kelasnya kelas bisnis, kelas untuk Direktur perusahaanku. Aku hanya bisa terpana membaca rupiah di e-ticket.
---
Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Gedung itu kelihatan cling sejak pertama aku menginjakkan kaki di lantainya. Jelas lantai itu mengilat. Memasuki pintu utama, aku tidak berdesakan atau bahkan bersenggolan dengan calon penumpang lain. Pintu itu lebar. Aku melewati x-ray pertama dengan santai. Selanjutnya segala sesuatu terasa lapang.
Kutapaki lantai "wall to wall carpeted". Aku mengitarkan pandang. Langit-langit ruangan, tinggi, di atas kepalaku. Di sisi langit-langit ada dinding kaca yang membiarkan masuk cahaya. Ruangan itu seperti tak berdinding. Akhirnya aku menemukan kucari, papan penunjuk arah counter check in. Terletak di atasku. Aku menengadah memandangnya. Terasa aku semakin mungil di ruang luas itu.
Check in selesai tanpa banyak ba bi bu. Aku tidak membawa bagasi. Begitulah kebiasaanku dalam perjalanan dinas yang umumnya dua sampai tiga hari. Aku selalu membawa tas pakaian berbahan ringan, bukan koper kecil ukuran kabin. Menurutku itu masih sanggup kutenteng. Begitu mendarat, aku senang sekali bisa kabur menemui penjemputku di exit gate.
Masih dua jam lagi. Perutku sekarang mulai memberikan sinyal. Tampaknya tak banyak pilihan bagiku yang pencinta "hijau". Akhirnya aku memesan nasi goreng. Carbohydrate again !
Aku masih sempat membuka si lippy sebentar sampai akhirnya panggilan boarding terdengar. Cukup jauh aku berjalan ke boarding gate dari area foodcourt. Aku memanfaatkan.beberapa coveyor. Rasanya aku menjadi bionic woman, melesat cepat menyelisihi orang orang yang berjalan santai di kiriku. Lumayan berkeringat, aku akhirnya melewati boarding gate.
Di luar gedung sudah menunggu sebuah minibus. Hanya aku dan seorang penumpang lain ada di bis itu.
"Selamat siang Bapak dan Ibu", supir menyapa kami.
Ternyata si burung besi beraksen biru, berdiri di lain sisi gedung. Atau malah di lain gedung? Begitu sampai di kaki pesawat, kami belum diijinkan naik ke pesawat. Kami sempat menunggu sekitar sepuluh menit di mobil.
Aku akhirnya duduk di dalam si burung biru. Kelas bisnis, the firts time in my life. Aku perhatikan run way di sebelah kiriku. Tercenung. Inilah rejekiku hari ini.
Kursi yang kududuki sesungguhnya kebesaran untuk badanku. Namun tentu itu pas untuk wisatawan internasional. Untuk kenyamananku, ada bantal kursi tersedia. Tanganku bersandar di tangan kursi yang lebar. Itu adalah rumah dari beberapa fasilitas. Aku tak begitu memperhatikan apa saja. Yang paling kupaham adalah layar di depan wajahku, yang terpasang di punggung kursi di depanku.
Run way masih tampak di kiriku. Pesawat masih `taxing`.
"Ibu ingin minum apa?" seseorang membuyarkan lamunanku. Seorang laki laki berusia matang berdasi, berjas, membungkuk ke arahku. Wajah itu tanpa senyum namun aku tetap merasakan keramahannya.
"Boleh teh tawar panas?" Aku kembali melihat ke runway. Wellcome drink itu datang membuyarkan perhatianku. Cangkir keramik putih dengan tatakan juga berwarna putih, ringan; aku menangkap kesan mewah sekaligus elegan. Minuman favoritku di setiap awal pagi di kantor itu, kuhabiskan dalam satu menit.
Pesawat akhirnya mengudara. Aku selalu berusaha melewati detik detik melawan gravitasi bumi dengan penuh kesadaran bahwa "sesuatu risiko bisa terjadi, namun Sesuatu juga yang menetapkan itu tidak terjadi". Pesawat itu ada dalam genggaman Sang Khalik.
Momen "lampu merah" itu selesai sudah. Aku mulai melemaskan punggungku, menjulurkan kaki, dengan duduk agak melorot di kursi kebesaran (ukurannya) itu. Tanganku bersedekap di dada di balik hijabku yang menutup dada.
"Ibu ingin selimut?" sebuah muka mendekat ke arahku. Seorang pramugari menawarkan kehangatan.
"Tidak", kataku membalas senyumnya.
Aku tak membawa buku untuk dibaca. Musik? Aku tak tertarik pada layar di depan hidungku. Lelah yang sekarang kurasa setelah perjalanan hampir 8 jam sejak keluar rumah, membuat aku ingin menyendiri. Keluar dari hiruk pikuk entah apa.
"Ibu perlu bacaan?" suara ramah memecah kesunyian dalam diriku. Pemilik suara membawa beberapa koran dan majalah. Kurasa ini yang kuinginkan; kembali kepada "masa lalu" : kertas, bukan layar berpendar yang melelahkan mata. Aku mengambil satu koran nasional.
Tak banyak yang kuperhatikan pada kertas lebar yang kubentangkan itu. Tampaknya bukan tulisan, apa lagi berukuran kecil yang kubutuhkan sekarang. Kepalaku tak menerima. Aku letakkan koran itu di kantung yang melekat pada punggung kursi, di depanku.
"Bu silakan", pramugari sekarang mempersiapkan meja kemudian meletakkan baki berisi makanan di atasnya. Hhmm, mungkin ini bisa memberi warna pada perasaan lelahku. Aku tidak lapar namun sajian itu tampaknya, "sesuatu".
Ada menu utama berupa nasi berwarna hijau dengan lauk. Ada sayur juga. Lantas ada penutup.
"Ibu ingin minum apa?"
Kali ini aku meminta air putih hangat.
Aku buka kotak transparan di bawah hidungku. Harum tertentu membangkitkan keingintahuanku. Kusendok si hijau ke mulutku. Itu nasi goreng atau sejenis nasi yang diolah seperti nasi kuning atau nasi kebuli. Bedanya, kali ini, dia berwarna hijau. Kuangkat lauk berwarna orange tua ke mulutku. Rasanya mirip daging masak asam padeh di rumahku di Padang, namun bumbunya "going no where". Kata seorang temanku, kalau memasak, bumbunya harus "berani". Nah, dalam masakan ini, "keberanian" itu tak terjadi.
Aku memandangi nanar si orange tua. Tampaknya dia menjadi "catatan" tersendiri dalam perjalananku kali ini. Sejak masuk terminal hingga duduk di kursi ukuran besar ini, aku merasakan banyak sentuhan, mulai dari detail artistik di ruang tunggu yang luas, sapaan hangat di sana sini, tawaran ini dan itu di kelas khusus ini. Namun semuanya menjadi bernoktah karena masakan yang satu ini.
Aku berusaha menghabiskannya. Entah karena lapar, entah karena "kasihan" padanya. Setidaknya dia rejekiku saat ini. Tidak sepatutnya kucampakkan dia. Kuhibur diri bahwa dia "not bad".
Pikiranku berputar kepada sebuah berita bisnis tentang airline yang kupakai kali ini. Rugi yang spektakuler membuat aku bertanya tentang segala fasilitas yang kuterima. Apakah semua ini dibutuhkan penumpang? O ya, perjalananku kali ini hanya satu setengah jam.
Siapa yang ingin disainginya di dalam negeri dengan segala pernak pernik ini? Sementara budget airline merajai runway. Untuk penerbangan luar negeri? Terdapat Singapore Airline dengan ikon kualitas dan Air Asia dengan label "murah". Aku ingat sebuah istilah untuk situasi ini "stuck in the middle". Entahlah.
----
Tulisan ini akhirnya kuselesaikan setelah tiga bulan lebih terkatung katung. Dia menjadi sangat bermakna ketika Jumat minggu lalu aku rapat dengan Tim Garuda Indonesia, membahas kargo Pos dan Garuda, sebuah joint product. Betapa flag carrier ini berusaha keras mengisi space kargonya terutama untuk penerbangan ke Indonesia Timur. Target tim kargo Garuda tersebut, bagiku sama spektakulernya dengan kerugian saat ini. Salut untuk Pak Rene dan timnya yang mengemban amanah tersebut.
Bandung, 10 11 2017
Lisa Tinaria
SENDIRI
Tulisan di the Jakarta Post itu benar-benar menginginpirasiku. Banyak kemiripan antara penulisnya dan diriku. Mengapa tidak mengambil sisi positif.
Terima kasih Atty dan Fifi, temanku pada grup Menulis Untuk Ibadah, yang telah menyadarkanku tentang aspek lain dari "sendiri". Bahwa sendiri itu tidak berarti negatif, yaitu kesepian karena belum menikah, atau diputus si doi, ketakutan karena ditinggal suami ke luar kota, sedikit punya teman atau disebut introvert. Hal utama yang disampaikan Atty adalah bahwa kondisi sendiri di sepertiga malam, bertaqarrub kepada Allah adalah bentuk kesendirian yang disukai Allah. Fifi, melihat lebih jauh lagi, yaitu bahwa di alam sana kita akan sendiri, tak punya teman selain amal ibadah kita.
Aku berusaha melihat sisi psikologis yang tentu saja positif dari "being alone". Kondisiku saat ini menuntutku lebih mandiri. Mengurus pemindahan barang kalau aku pindah dinas ke kota lain, ya sendiri. Ketika mengurus rumah kos milik adikku di Jakarta, beberapa tahun lalu, aku biasa mencari bahan bangunan, mengontak tukang sekaligus memandorinya, sendiri. Sekarang, mencari rumah untuk kutinggali pun aku ngider sendiri. Karena sudah biasa menghadapi persoalan hidup sendiri, aku juga relatif tenang ketika Papa menyampaikan masalah keluarga di Padang, atau ketikan Oom dan Etek curhat tentang masalah keluarga besar di kampung.
Secara spiritual, aku melihat bahwa inilah "kekinianku". Ketika banyak wanita karir yang berumah tangga, pakepuk dengan dua urusan besar - domestik dan pekerjaan - aku cukup fokus pada pekerjaan (bukan karir) dan punya banyak "me time", terutama untuk mengembangkan diri dan melaksanakan hobi. Manakah yang lebih baik dari dua kelompok wanita itu? Tak ada, kecuali tingkat keikhlasan dalam memanfaatkan detik demi detik kehidupan.
Tentang kesendirian yang orang umumnya menganggap sebagai ketidakampuan membina pertemanan alias introvert, ternyata tidak benar. Introvert artinya "gaining energy by being alone". Artinya mampu berkiprah penuh justru ketika sedang sendiri. Profesi orang orang dengan karakter ini adalah penulis (nah lo...), peneliti, designer apa pun (interior, arsitektur, mode, dan banyak lagi). Seorang CEO terkenal, Steve Jobs yang notabene adalah perancang komputer dan strategi, termasuk kelompok "sendiri" ini. Apakah orang karakter ini tidak punya teman dan tidak gaul? Tampaknya tidak.
Kebalikan introvert yaitu ekstrovert adalah orang yang suka keramaian. Berprofesi yang berhubungan dengan bertemu dengan orang banyak. Itulah dia umumnya pemasar, politikus, pembawa acara termasuk news anchor.
Kesimpulannya tidak ada yang salah dengan "sendiri". So, untuk Nur, temanku, yang juga dari grup Menulis Untuk Ibadah, selamat menempuh "kesendirian". Kata itu memakai tanda kutip, yang artinya berbeda dengan makna harafiahnya. Mainkan peranmu!
Bandung, 27 Sept 2015
Lisa Tinaria
Tulisan di the Jakarta Post itu benar-benar menginginpirasiku. Banyak kemiripan antara penulisnya dan diriku. Mengapa tidak mengambil sisi positif.
Terima kasih Atty dan Fifi, temanku pada grup Menulis Untuk Ibadah, yang telah menyadarkanku tentang aspek lain dari "sendiri". Bahwa sendiri itu tidak berarti negatif, yaitu kesepian karena belum menikah, atau diputus si doi, ketakutan karena ditinggal suami ke luar kota, sedikit punya teman atau disebut introvert. Hal utama yang disampaikan Atty adalah bahwa kondisi sendiri di sepertiga malam, bertaqarrub kepada Allah adalah bentuk kesendirian yang disukai Allah. Fifi, melihat lebih jauh lagi, yaitu bahwa di alam sana kita akan sendiri, tak punya teman selain amal ibadah kita.
Aku berusaha melihat sisi psikologis yang tentu saja positif dari "being alone". Kondisiku saat ini menuntutku lebih mandiri. Mengurus pemindahan barang kalau aku pindah dinas ke kota lain, ya sendiri. Ketika mengurus rumah kos milik adikku di Jakarta, beberapa tahun lalu, aku biasa mencari bahan bangunan, mengontak tukang sekaligus memandorinya, sendiri. Sekarang, mencari rumah untuk kutinggali pun aku ngider sendiri. Karena sudah biasa menghadapi persoalan hidup sendiri, aku juga relatif tenang ketika Papa menyampaikan masalah keluarga di Padang, atau ketikan Oom dan Etek curhat tentang masalah keluarga besar di kampung.
Secara spiritual, aku melihat bahwa inilah "kekinianku". Ketika banyak wanita karir yang berumah tangga, pakepuk dengan dua urusan besar - domestik dan pekerjaan - aku cukup fokus pada pekerjaan (bukan karir) dan punya banyak "me time", terutama untuk mengembangkan diri dan melaksanakan hobi. Manakah yang lebih baik dari dua kelompok wanita itu? Tak ada, kecuali tingkat keikhlasan dalam memanfaatkan detik demi detik kehidupan.
Tentang kesendirian yang orang umumnya menganggap sebagai ketidakampuan membina pertemanan alias introvert, ternyata tidak benar. Introvert artinya "gaining energy by being alone". Artinya mampu berkiprah penuh justru ketika sedang sendiri. Profesi orang orang dengan karakter ini adalah penulis (nah lo...), peneliti, designer apa pun (interior, arsitektur, mode, dan banyak lagi). Seorang CEO terkenal, Steve Jobs yang notabene adalah perancang komputer dan strategi, termasuk kelompok "sendiri" ini. Apakah orang karakter ini tidak punya teman dan tidak gaul? Tampaknya tidak.
Kebalikan introvert yaitu ekstrovert adalah orang yang suka keramaian. Berprofesi yang berhubungan dengan bertemu dengan orang banyak. Itulah dia umumnya pemasar, politikus, pembawa acara termasuk news anchor.
Kesimpulannya tidak ada yang salah dengan "sendiri". So, untuk Nur, temanku, yang juga dari grup Menulis Untuk Ibadah, selamat menempuh "kesendirian". Kata itu memakai tanda kutip, yang artinya berbeda dengan makna harafiahnya. Mainkan peranmu!
Bandung, 27 Sept 2015
Lisa Tinaria
KUE DELAPAN - Mnemonik
Aku memasukkan penganan berbentuk angka delapan itu ke mulutku sambil mengingat sebuah rangkaian nomor yang di dalamnya "ada kue itu".
Aku pandangi kembali penganan yang banyak dijual di Bukittinggi itu. Aku menyebutnya kue delapan. Temanku yang orang Jawa menyebutnya lanting atau klanting. Bahannya dari singkong diparut, diberi garam dan bawang putih, kurasa, lalu ada bercak hijau daun bawang yg diiris halus. Lantas dibentuk angka delapan dan digoreng.
Pernahkah teman teman mendengar istilah mnemonik? Itu adalah cara mengingat dengan mengasosiasikan sesuatu yang harus diingat dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang harus diingat misalnya kata, kalimat, definisi, angka. Asosiasi yang dipakai misalnya gambar atau aspek visual, lokasi, bau, irama. Sebagai contoh, jika ingin mengingat belanjaan, maka bayangkanlah kalau sedang di dapur. Bukalah lemari gantung, di sana tersimpan banyak makanan kering. Absenlah makan itu satu per satu, maka akan teringat bahan mana yang kurang yang harus dibeli. Pindahlah ke kulkas. Langsung teringat kalau ikan di freezer sudah habis.
Bagiku, cara yang paling menantang adalah mengingat angka. Sudah sering kupraktikkan tetapi masih belum lancar. Aku mengasosiasikan angka satu dengan paku, angka dua dengan leher angsa, angka tiga dengan triangle, empat dengan kursi terbalik, lima dengan gedung pentagon, enam dengan taoge, tujuh dengan tugu pancoran, delapan dengan kue delapan, dan sembilan dengan ibu hamil.
Nah silakan teman teman praktikkan. Nomor telepon 420411 dapat diasosiasikan sebagai berikut: dibawah kursi terbalik terdapat angsa yang sedang duduk mengerami telurnya. Ada satu lagi kursi terbalik yang di bawahnya tertancap dua paku.
Kalau dalam pikiranku ada angsa yang sedang makan kue delapan, duduk di atas tugu pancoran, angka apakah yang terpikirkan oleh teman teman? Kalau ada temanku di MUI yang menjawab benar akan aku traktir naik pesawat baling baling bambu.
Bandarlampung, Sept 2015,
Lisa Tinaria
Aku memasukkan penganan berbentuk angka delapan itu ke mulutku sambil mengingat sebuah rangkaian nomor yang di dalamnya "ada kue itu".
Aku pandangi kembali penganan yang banyak dijual di Bukittinggi itu. Aku menyebutnya kue delapan. Temanku yang orang Jawa menyebutnya lanting atau klanting. Bahannya dari singkong diparut, diberi garam dan bawang putih, kurasa, lalu ada bercak hijau daun bawang yg diiris halus. Lantas dibentuk angka delapan dan digoreng.
Pernahkah teman teman mendengar istilah mnemonik? Itu adalah cara mengingat dengan mengasosiasikan sesuatu yang harus diingat dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang harus diingat misalnya kata, kalimat, definisi, angka. Asosiasi yang dipakai misalnya gambar atau aspek visual, lokasi, bau, irama. Sebagai contoh, jika ingin mengingat belanjaan, maka bayangkanlah kalau sedang di dapur. Bukalah lemari gantung, di sana tersimpan banyak makanan kering. Absenlah makan itu satu per satu, maka akan teringat bahan mana yang kurang yang harus dibeli. Pindahlah ke kulkas. Langsung teringat kalau ikan di freezer sudah habis.
Bagiku, cara yang paling menantang adalah mengingat angka. Sudah sering kupraktikkan tetapi masih belum lancar. Aku mengasosiasikan angka satu dengan paku, angka dua dengan leher angsa, angka tiga dengan triangle, empat dengan kursi terbalik, lima dengan gedung pentagon, enam dengan taoge, tujuh dengan tugu pancoran, delapan dengan kue delapan, dan sembilan dengan ibu hamil.
Nah silakan teman teman praktikkan. Nomor telepon 420411 dapat diasosiasikan sebagai berikut: dibawah kursi terbalik terdapat angsa yang sedang duduk mengerami telurnya. Ada satu lagi kursi terbalik yang di bawahnya tertancap dua paku.
Kalau dalam pikiranku ada angsa yang sedang makan kue delapan, duduk di atas tugu pancoran, angka apakah yang terpikirkan oleh teman teman? Kalau ada temanku di MUI yang menjawab benar akan aku traktir naik pesawat baling baling bambu.
Bandarlampung, Sept 2015,
Lisa Tinaria
Subscribe to:
Posts (Atom)