Saturday, October 7, 2017

FREE RIDER

Istilah itu aku dapat dalam sebuah rapat beberapa tahun lalu. Pengungkapnya adalah pemimpin tim tempat aku bekerja. Sampai saat ini aku masih ingat ungkapan itu. Mengapa? Karena aku memakai otak kanan ketika mendengar istilah itu. Aku bertanya-tanya, apakah aku yang sudah bekerja dengan kesungguhan, tetap masuk dalam definisi itu?

Pertanyaan itu sudah muncul beberapa hari sebelum rapat.

"Bu Lisa, besok pagi kita dipanggil untuk briefing", rekan kerjaku mengajakku bicara ketika kami sedang berberes untuk pulang.

"Briefing? Apa? Siapa?"

"Bos".

Keesokan harinya. Ada sekitar empat atau lima orang termasuk aku dalam ruangan kerja bos kami. Semuanya adalah rekan kerja yang satu tim denganku. Kesamaan kami, kami adalah "orang lama". Istilah itu ada ketika itu.

Organisasi tempat kami bekerja, sedang direstrukturisasi. Ada yang pergi dan ada yang datang. Ciri utama dari yang baru masuk adalah mereka "satu gerbong". Istilah itu juga muncul ketika itu. Nah, coba sandingkan istilah "orang lama" dan "satu gerbong". Apa yang tersirat, kira kira? Orang lama perlu dipahamkan bahwa akan terdapat pejabat baru, budaya baru, semangat baru, yang orang lama perlu "memperluas comfort zone-nya" agar dapat menerima kekinian itu. Akan terjadi lonjakan bisnis, bottom line yang spektakuler, dan sejenis itu dengan adanya manajemen baru itu.  So, "do not be free rider". Jangan sampai ente tidak berkontribusi! Titik.

Untuk itulah kami dikumpulkan di ruangan itu, untuk memahamkan kami bahwa kami jangan hanya enak-enakan menikmati keberhasilan organisasi tanpa ikut bekerja. Di depan kami ada sebuah TV flat ukuran besar. Kami duduk menghadap barang itu. Diputarlah sebuah film kartun pendek, seingatku begitu, yang bercerita tentang seorang tukang  kayu.  Alur ceritanya tak kuingat saat ini. Selama tayangan film kartun itu, sang bos memberikan sejenis wejangan. Pesan inti dari film kartun itu:  kalau mau maju harus berubah.

Pesan "harus berubah" itu tak begitulah kupedulikan. Yang bergelayut di kepalaku justru pertanyaan "beginilah caranya mengedukasi diriku dan rekan kerjaku, agar kami lebih giat bekerja". Kata kuncinya adalah "cara".

Di antara yang hadir tersebut, aku adalah yang paling senior. Walau aku tidak berada pada jabatan struktural, aku adalah pemimpin sebuah kelompok kerja di area keuangan dan akuntansi. Ketika itu terdapat rumor.

"Mengapa bukan Bu Lisa saja yang menjabat?" seorang temanku bersungut-sungut.

"Kan sudah ada, dari gerbong baru", timpal temanku lainnya, sambil berbisik. Keduanya bergosip di depanku. Aku hanya nyengir.

Tampaknya briefing itu ditujukan agar aku mendukung kebijakan pejabat baru di keuangan, agar aku tidak memprovokasi yang lain, agar aku tidak makar, agar aku, agar aku... Sebegitu burukkah manajemen menilai diriku?

Keluar dari ruang itu, gaya kerjaku, semangat kerjaku, solidnya aku dengan kelompok kerjaku, tampaknya sama saja. Dalam arti, tidak karena "si tukang kayu", lantas semangat kami menurun atau bertambah. Dari dulu, kalau boleh kusimpulkan, kami bekerja dengan gembira dan memenuhi target.

Sampailah pada sebuah rapat setelah briefing. Istilah free rider, muncul lagi di rapat itu. Dan aku angkat bicara.

"Sebaiknya job description kita, semua, dievaluasi, termasuk job description saya. Jangan sampai saya menjadi free rider".  Kalau kuingat kembali peristiwa itu, aku merasa, bahkan sampai saat ini, bahwa aku adalah pahlawan karena bisa menantang pejabat di rapat itu. Masih kurasakan pertanyaan itu sampai saat ini "Apakah aku ini free rider?". Namun, lebih jauh lagi begitukah cara "merengkuhku"?

Bulan-bulan berlalu, bottom line yang diharapkan akan meloncat itu tetap di "bottom".  Patut juga kusyukuri tampaknya, bahwa aku bukan dari "gerbong baru" tersebut dan tetap menjadi free rider dalam tanda kutip.

Bandung, 05 11 2016
Lisa Tinaria
AKU MENGANGKAT MOBIL

Itu dalam arti sebenarnya, yang terjadi ketika aku pulang diantar oleh taksi, Ya, aku mengangkat taksi itu dengan tanganku, bersama beberapa orang lainnya, termasuk perempuan seperti halnya diriku.

"Neng, nanti kalau balik, lewat jalan ini lagi?" Aku memaklumi kekhawatiran pak supir taksi. Jalan menuju rumah kosku kecil, hanya satu jalur mobil.

"Ya. Nanti di sana ada pertigaan tempat berputar" Aku berusaha mengurangi rasa khawatirnya.

Dia terus menjalankan mobilnya dengan hati hati dengan agak memanjangkan lebernya. Sudah malam, gelap memang. Syukur Alhamdulillah ini mendekati jam sepuluh sehingga mobil taksi yang mengantarku tidak berpapasan dengan mobil lain.

Singkat kata aku turun di depan pagar. Transaksi selesai. Aku menunggui pak sopir memundurkan mobilnya. Ingin kupastikan bahwa "He is OK".

"Lurus, lurus!" teriakku tiba tiba sambil memberi kode dengan dua tanganku, ketika dia terlalu mengambil ke kirii. Namun sudah terlambat dan terjadilah. Roda kiri depan  masuk ke selokan tetangga di seberang rumah kosku.

Pak sopir keluar dari mobilnya. Aku yang semula berdiri di depan pagar, urung membuka pagar. Kudekati Pak sopir taksi.

"Nah, begini nih kalau masuk jalan kecil" nadanya kesal, sepertinya menyalahkan aku.  "Begini jadinya. Saya tuh nggak mau kalau jalannya kecil" katanya sambil berkacak pinggang memperhatikan roda depan mobil taksinya yang sudah terbenam ke dalam selokan rendah.

Aku heran. Aku putar balik memoriku segera. Setengah jam yang lalu.

"Neng, Neng, mari Neng". Dia membukakan pintu taksinya untukku yang sedang berjalan cepat menjauh dari lobby Stasiun Bandung. Sudah hampir  jam sepuluh malam. Alhamdulillah langsung ada taksi di depanku. Otomatis aku memasuki taksi itu. Bukankah Sang Maha Pengatur sudah menetapkan bahwa malam ini dia akan bertransaksi denganku? Rejekinya datang melalui diriku.

Sekarang?

"Ingat ya Pak. Sudah ada ketetapannya bahwa Bapak berjual beli dengan saya". Suaraku tegas, dan kurasa, ya kurasa, sedikit bernada ancaman. Bukankah tadi dia tidak menolak ketika kusebutkan alamatku?  Badanku yang menyandang ransel, tegap lurus menghadap wajahnya. " Saya akan cari bantuan agar mobil ini bisa keluar".

Dengan langkah gagah aku meninggalkannya. Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa  Allah tidak sedang main-main dengan kejadian ini.  Pikiranku pada orang orang yang sering berkumpul di warung di depan mulut gang. Sesampai di sana, warung sudah tutup, dan tidak seorang pun ada di sekitar sana.

Aku segera membalikkan badan. Kepalaku tak punya ide lain. Buntu.  "Ya Allah, mudahkan, ya Allah".

Aku kembali ke tempat mobil taksi tadi. Tetangga sudah ada yang keluar. Tampaknya suara keluhan sang sopir taksi cukup terdengar di malam yang mulai senyap. Di satu rumah menjelang ke tempat taksi aku juga menemukan beberapa orang masih bercakap cakap di teras rumah. Hei, tampaknya mereka kedatangan tamu dan sang tamu bersiap siap pulang. Mereka anak anak muda dengan dua motor, sedang mempersiapkan motor mereka.

"Maaf mas bisa minta tolong". Entah ide dari mana, tiba tiba kalimat itu keluar dari mulutku. "Itu ada taksi terperosok, masuk got". Aku menunjuk pada taksi yang tampak tegak miring ke kiri.

Para anak muda itu turun dari motor mereka, saling berkata sesama mereka. Aku tak begitu menyimak. Ada lima orang, termasuk tuan rumah. Seorang di antara mereka, seorang wanita muda. Mereka berjalan ke arah mobil,  bersamaku.

"Kenapa Bu?". Seorang bertanya kepadaku. Aku mengulangi keteranganku. Berlima sekarang, mereka sudah mengerubungi mobil warna kuning itu.

"Pak sopir coba hidupkan mesin".  Seorang memberikan instruksi.

"Coba kamu di sana", kata seorang yang lain.

Mobil dihidupkan, gas ditekan agak dalam, dengan tujuan mundur. Roda yang terperosok berputar cepat, tetapi badan mobil tak terangkat dari selokan walau sudah dibantu diangkat oleh dua orang di sudut itu.

"Pak sopir, ikutan ngangkat aja. Kita keluarkan tanpa mesin. Rem-nya, free".

Akhirnya, diriku memegang bemper mobil sudut kanan depan.

" Ya, sama sama ya! Satu, dua, tiga!"

Sudut kiri depan yang terpuruk, perlahan terangkat dan sekarang rodanya sudah menjejak aspal gang. Pak sopir segera masuk ke mobilnya dan memasang rem tangan agar mobil tersebut tidak balik meluncur ke selokan.  Lantas dia keluar mobil.

"Nuhun ya Kang. Nuhun, nuhun. Teteh, nuhun" katanya kepada anak anak muda yang sudah membantunya. Anak anak muda tersebut mulai berjalan ke arah  motor mereka, bersiap berangkat.

"Terima kasih" kataku berkali-kali kepada mereka.

Pak sopir kembali masuk ke taksinya, menghidupkan mesin dan mulai memundurkan mobilnya mencari tempat putaran. Dia berhasil memutar mobilnya di pertigaan. Ketika akan pergi, dia melambaikan tangannya ke atas, keluar jendela mengarah kepadaku.

"Terima kasih ya Bu" teriaknya kepadaku. Aku mendengarkan dengan diam. Tak menjawab. Tak pula melambai kepadanya. Bukan aku tak menghargainya. Sesuatu berkelebat di kepalaku.

Berapa menitkah kejadian barusan berlangsung? Mungkin tak sampai dua puluh menit, sejak roda mobil itu terperosok hingga kembali ke atas jalan. Mengapa itu terjadi? Terperosok itu adalah atas ijin Allah. Keterlibatan si A si B, dalam peristiwa itu juga atas pengaturan Allah. Kembalinya seperti semula, sang roda, juga atas ijin Allah. Lantas, bagaiman respon masing-masing pemain? Di sanalah intinya.

Beberapa peristiwa beberapa hari terakhir memutar di ingatanku: tak jadi ke Jakarta, karena salah faham tentang pengaturan mobil dinas, terlambat hadir pada acara di Jakarta karena macet di Cipularang. Juga tentang pengaturan acara tax amnesty, yang mendadak diserahkan kepada tim-ku, sehari sebelum hari H. Intinya, sesuatu yang tak disangka - sangka dan menimbulkan ketidaknyamanan. Untuk apa mengumbar adrenalin kalau skenario itu sudah ada, awal dan akhirnya? Cukuplah manusia menjalaninya dengan upaya dan doa.

Bandung, 22 10 2016
Lisa Tinaria

Monday, October 2, 2017

PAKAIAN PENDEKAR HOLLYWOOD

Entah mana yang lebih sakti mandraguna, pendekar buatan lokal atau yang made in Hollywood. Dari segi nama, kupikir, Gundala Putra Petir jauh lebih pretisius ketimbang the Hulk manusia batu. Sementara nama Gatut Kaca, bagiku, tak menyiratkan kekuatan, kemegahan, atau sejenis itu.

Tetapi begitulah, kekuatan mereka lebih ditentukan oleh besarnya modal pembuatnya. Sang Putra Petir, jelas tak dikenal, dan konsekwensinya tak dilihat kesaktiannya oleh orang di Karibia sana. Sebaliknya Batman dan Superman, saking hebatnya, terkenal sampai ke pelosok, termasuk ke kampungku. Terlepas dari ketenaran akan kekuatan mereka, aku lebih tertarik untuk membahas pakaian mereka.

Adalah Superman, yang di sebuah majalah, pakaiannya sempat dibahas. Aku terpingkal pingkal membaca ulasan tentang pakaian sang jagoan ini. Kejadiannya sepuluh tahun yang lalu. Sang hero dikatakan   sebagai orang yang tak tahu dress code. Pasalnya celana dalamnya dipakai di luar. Begitu argumen penulis artikel tentang pakaian itu.

Pakaian Batman pada dasarnya mirip dengan pakaian Superman. Baju menutup seluruh tubuh. Lantas untuk gagah gagahan, kedua superhero ini diberi jubah. Celana dalam Batman, entahlah, mungkin dipakai di luar juga. Tetapi berhubung warna pakaiannya hitam dari kepala hingga kaki maka tak tampak kalau Batman memakai celana dalamnya di luar.

Lantas the Hulk, sang manusia batu. Aku pernah menonton filmnya sekilas di sebuah restoran. Ketika sang hero, yang asal muasalnya adalah manusia dengan ukuran normal, berubah menjadi the Hulk, yang berukuran besar, maka ukuran celana menjadi masalah. Coba bayangkan jika celana itu sobek dalam proses membesarnya badan the Hulk. Celana  pasti langsung terlepas, tercabik-cabik berantakan. Tentu saja ini akan mengganggu tugas the Hulk.

Nah untuk mengantisipasi membesarnya badan, sang hero, lantas mempersiapkan diri dengan memakai celana selutut super besar. Kasihannya, untuk sementara dia terpaksa mengikat pinggang celana itu dengan tali agar tak melorot. Begitu tubuhnya membesar, maka taa...raam..., celana itu sekarang jadi pas di badan the Hulk. Dia jadi percaya diri memainkan peran garangnya.

Demikianlah sekilas tentang pakaian pendekar atau superhero dari Hollywood.

Bandung, 19 04 2016
Lisa Tinaria

Sunday, October 1, 2017

KA BANDUNG JAKARTA 8 JAM

Aku menjejakkan kaki ke lantai yang basah. Aku dekati sebuah atm. Atm di sebelahnya sedang dibuka petugasnya.

"Mana lampunya?" aku merunduk mendekatkan kepala ke slot kartu.

"Maaf Bu, Lampu sengaja dimatikan. Tadi atm ini terendam air sebetis", kata petugas di sebelahku menerangkan. "Dipastikan dulu tidak ada konslet".

Ha? Separah itukah? Selesai mengambil uang aku check in melalui komputer d loby. Lantai loby yang aslinya cling berwarna gading, sekarang dipenuhi sisa lumpur mirip dedak kopi di dasar gelas. Seorang petugas cleaning service sedang mengoperasikan mesin bersuara keras. Mesin penyedot air itu sekaligus berfungsi sebagai pengepel lantai. Seorang supervisor mengawasinya.

Aku melewati gerbang boarding dan memasuki ruang tunggu. Tidak ada lagi tempat duduk. Untuk berdiri saja harus beradu sikut dengan penumpang lain. Semua outlet makanan, penuh. Entah orang orang itu memang perlu makan, atau sekedar duduk duduk.

Hampir pukul empat sekarang. Keretaku, menurut jadwal, lima belas menit lagi. Terdengar pengumuman berkali kali,  "Penumpang KA Argo Parahiyangan untuk jadwal keberangkatan pukul 14.30, dipersilahkan menaiki kereta".  Beberapa orang bergegas melewatiku. "Kami mohon maaf atas keterlambatan ini".

Aku mencoba membunuh waktu sambil berdiri. Yang paling bisa diberdayakan adalah Androidku. Group ini itu memuat gambar pohon tumbang, kanopi terbang, aliran mirip sungai di sebuah perumahan dan  Stasiun Bandung yang sedang digenangi air. Oooo???  Hujan yang sekitar satu jam setelah adzan dzuhur tadi benar benar telah menimbulkan sebuah pertanyaan dari temanku "Ada apa dengan Bandung?"

Aku mencoba mencari tempat duduk dengan, apa lagi kalau bukan dengan membeli makanan di sebuah franchise. Ada satu kursi tersisa, yang kulirik ketika masuk tadi. Pilihan menu terpampang pada billboard di atas kepala pramusaji. Niatku hanya ingin duduk. Akhirnya, karena niat itu juga, menu yang terpilih, tak termakan. Aneh sekali - lebih tepat agak ngeri - aku merasakan sensasi "gizi" sajian di bawah hidungku. Rupanya duduk pun tak nyaman di situ. Piring bekas makan tidak diangkat dari meja tempat aku makan.

Berdiri dan berdiri, lalu aku coba berjalan, sekedar menggerakkan kaki.  Pintu Selatan, pintu Utara sama sesaknya. Banyak orang duduk di tangga atau di atas barang bawaan mereka.

"Kami mohon maaf atas keterlambatan ini".

"Kami informasikan bahwa kereta api Argo Parahiyangan masih tertahan di Stasiun Cimahi".

" Kami informasikan bahwa kereta api Lodaya, baru akan memasuki stasiun".

"Kami sampaikan bahwa kereta lokal Bandung Raya, segera tiba dan berada di jalur 2".

Akhirnya "Para penumpang dipersilakan menaiki kereta api Argo Parahiyangan di jalur 6".

Aku memasuki gerbong yang lantainya basah seperti lantai kamar mandi plus jejak jejak bekas kaki.

"Ini air banjir masuk tadi, Bu".  Seorang petugas menggerakkan alat pel-nya di bawah kakiku yang kuangkat. Dia mengerjakannya di sela sela sliweran penumpang yang naik. Kami semua ingin duduk segera setelah berdiri tak jelas di luar sana.

Kupikir kereta api akan segera bergerak, tetapi ternyata tidak. Penumpang sudah duduk manis dan sebagian mereka  membuka perbekalan makanan. Tidak ada lagi penumpang yang masuk. Maghrib tiba dan aku pun sudah menunaikan sholat jamakku. Kereta tetap diam.

"Atas nama PT Kereta Api Indonesia, kamj mohon maaf karena terdapat gangguan sinyal, sehingga kereta api belum bisa diberangkatkan".

Sekitar pukul setelah tujuh, akhirnya kereta bergerak. "Perjalanan dari Stasiun Bandung ke pemberhentian terakhir, stasiun Gambir, memakai waktu tiga jam dan enam belas menit".

Sepuluh menit menjelang pergantian hari, kereta saat ini masih di Stasiun Kosambi. Beberapa kali kereta berjalan kemudian berhenti. Namun berhenti yang paling lama adalah di dekat Stasiun Cikampek.

"Ini bukan stasiun ternyata".

"Kalau berhentinya di stasiun, kita bisa merokok dan nyari makanan".

"Silakan ambil Bu" seorang petugas membagikan mie instan dalam kemasan cup. Ini adalah "harga" yang harus dibayar PT KAI atas keterlambatan karena cuaca ini. Berikutnya adalah petugas yang membagikan air minum dalam botol kemasan

"Saya boleh minta air hangat?"

"Sudah habis, Bu".

"Air panasnya ngantri di dapur" ungkap seorang penumpang yang berhasil membawa sebuah cup mengepul. Makanan atau minuman hangat setidaknya bisa menjadi pengobat kecewa dan pelawan dingin.

"Apa AC-nya nggak bisa disetel?" seorang ibu yang membawa anak mengomentari dinginnya udara di dalam gerbong. Celakanya dia memakai celana pendek selutut dan baju lengan pendek. Tampaknya Ibu inilah yang membalurkan minyak kayu putih, sehingga bau "parfum" itu berbaur dengan bau mie instan di dalam ruangan tak berventilasi itu.

Kereta bergerak lagi sekarang, setelah berhenti yang ke sekian kali. Senin sudah sekarang. Kulihat jam di pergelangan tanganku. Jam dua dini hari aku memasuki kamar hotel dengan badan melayang.  Sebelum jam sembilan pagi aku sudah harus hadir di acara training di Kuningan.

Senin, 14 11 2016
Lisa Tinaria

Saturday, September 30, 2017

SURYA

I take it so serious. "Jahadu" sebuah istilah yang aku suka, yang artinya jihad, berjuang.

Rasanya tak mungkin aku berangkat naik kereta jam 5 pagi dari Bandung.  Sampai di Gambir, jam 8.30? Hhmm...Naik mobil travel, dengan kondisi jalanan yang unpredictable? Akhirnya kuputuskan menginap semalam di Jakarta, di sekitar tempat acara. The whole day, Jumat, aku excited bukan main. Hei, bahkan sejak Kamis malam aku sudah merasakan hormon endhorphinku meningkat. Makan banyak, bercerita banyak, tersenyum banyak. Ya Allah, inilah sebuah kekuatan dari kata "mimpi".

Pagi ini, oh, aku tidak bisa tidur lagi setelah sholat shubuh (ups, sebuah kebiasaan jelekku). Tempat acara tepat di seberang jalan dari tempat aku menginap. Aku mencari penginapan sedekat mungkin dengan "target". Alhasil aku tiba on time. Bahkan satpam belum mengijinkan aku masuk.

O, ternyata aku tidak sendiri. Mereka lebih duluan datang. Empat orang wanita muda mengerubungi sebuah meja bundar berdaun meja dari marmer putih. Aku mendekat ke mereka.

"Mba, peserta seminar juga?" sapaku.

"Iya" jawab mereka hampir serentak. Sama denganku tampaknya, semuanya berwajah sumringah. Kami berkenalan, bersalaman.

"Lia".

"Lisa".

Kekuranganku, selesai mereka menyebutkan nama, kata nama mereka langsung menguap dari kepalaku. Kecuali satu.

"Surya".

Seorang perempuan muda, usia mahasiswi, menyalamiku. Dia sedang berlutut di lantai di samping meja bundar. Dia menjulurkan tangannya dengan mantap, dari kerendahan, ke arahku yang berdiri. Aku tidak mempermasalahkan mengapa dia tidak berdiri menyambut tanganku, tangan perempuan "jelita" (jelang lima puluh tahun). Mungkin dia sedang membenahi isi tasnya.

Selesai chit chat singkat aku mengundurkan diri dari kelompok sumringah itu.

"Silakan, masuk ke ruang acara, di lantai tujuh", tiba-tiba satpam memgumumkan. Kami berjalan beriringan, berlima. Eh, berenam, ada satu gadis lagi. Aku berjalan agak duluan. Kumasuki lift yang dioperasikan seorang satpam (betapa mewahnya hidup di negeriku; naik lift saja ada petugas tukang pencet tombol lift). Empat orang rombongan sumringah, menyusul di belakangku.

Begitu aku membalikkan badan menunggu rombongan itu, aku merasa tercekat. Salah satu anggota dari kelompok empat itu berjalan mantap. Dengan posisi tetap berlutut? Bukan. Dia bisa berjalan normal, tidak menggunakan tangan sebagai penyangga tubuhnya. Dia memakai sepatu, terlihat mengintip dari balik baju "gamis"nya yang hanya sepanjang lututku. Dia tak punya tulang tungkai. Berdiri di sampingku, tingginya hanya sepinggangku.

Dia berjalan di depanku, sekarang. Kami menuju meja pendaftaran.

"Nama Mba, siapa?" tanya panitia.

"Surya".

Ibu panitia membantu mencari namanya di daftar hadir, kemudian menyodorkan lembar kertas ke hadapan mukanya. Kertas itu sekarang ada tepat di bawah dagunya, yang menyentuh tepi meja. Dia menandatanganinya dengan ceria.

Aku hanya bisa memandang terpana. Malu.  Aku lirik dia yang berjalan gagah, ketika menuju meja minuman, sementara aku menandatangani daftar absen. Kupikir aku adalah manusia paling jaya pagi ini. Ternyata tidak. Dia lebih perkasa daripada aku. Mimpi kami mungkin sama besar, tetapi dia melakukannya dengan resource yang lebih hemat. Bukankah dia lebih "beruntung" daripada aku? Semoga Surya benar-benar menjadi pelita bagi orang-orang di sekitarnya.

Jakarta, Gedung Kompas Gramedia,
1 Oktober 2016
Lisa Tinaria

Sunday, August 20, 2017

BAHASA BANGSAKU

Bangsaku dengan umur 72 tahun adalah bangsa dengan kemampuan berbahasa level tertentu. Masih sulit membedakan mana bus pariwisata, mana pula pariwisata.  Lalu apa pula beda rumah makan dan restoran? Pernah melihat kata `security` di punggung baju seseorang bukan? Apa artinya itu? Para pemasar properti, sering memakai kata `dikontrakan` ketimbang `dikontrakkan`. Keduanya ternyata jauh beda artinya. Beda antara yang tersirat dengan yang tersurat juga terdapat pada kata `marketing`.

Mari kita bergeser ke isi tulisan. Kadang bangsaku kerepotan dalam memilih koma atau titik, dalam menulis, sehingga bisa menimbulkan salah pengertian. Bisa juga mengakibatkan "kehabisan nafas". Nanti, akan diterangkan tentang hal ini. Lantas, lebih dalam lagi, yaitu tentang pokok pikiran. Apa pula itu? Paragraf?

"Aakhkhhh... Pening palak awak ditanya macam itu!" kata Abang yang dari Medan.

Marilah kita urai beberapa kecenderungan berbahasa di atas.

Pariwisata adalah sebuah  kotak ukuran sangat besar, berjendela banyak, beroda minimal empat. Kotak tersebut bisa "menggelinding" cepat, karena memiliki mesin dan mesin tersebut dikendalikan oleh seseorang yang disebut sopir. Beberapa merek terkenal dari kotak beroda tersebut berasal dari Eropa.

Demikianlah pengertian pariwisata, jika diartikan secara membabi buta dikaitkan dengan keberadaan kata itu di bagian atas depan sebuah bis besar. Seharusnya kotak besar beroda tersebut diberi judul `Bis Pariwisata`.

Restoran diambil dari bahasa Inggris `restaurant`. Artinya rumah makan. Kalau ada di billboard sebuah bangunan, tulisan `restoran dan rumah makan` kemungkinan ada dua usaha di sana, atau satu usaha dimiliki dua orang. Atau...atau... Menurutku, satu kata saja cukup : rumah makan atau restoran (bukan pakai kata `dan`).

Security adalah seseorang dengan baju model safari berwarna biru tua atau hitam. Biasanya baju itu berlengan panjang. Tugas orang tersebut adalah menjaga keamanan di sebuah lingkungan biasanya kantor atau mall. Orang ini mudah dikenali dari tulisan `security` di bagian punggung bajunya.

Security juga berarti tempat mangkal atau tempat istirahat orang yang menjaga keamanan tersebut (bingung nggak sih, pembaca?).

Istilah yang tepat adalah `security personnel`. Security artinya sebuah kondisi di mana terdapat keamanan. Security bukan orang, bukan pula pos jaga satpam.

Marketing adalah kata yang sering disandingkan dengan kata `dicari`. Biasanya paduan dua kata itu ada di iklan lowongan kerja. Berarti `marketing` artinya orang? Bukan. Markerting adalah kegiatan untuk mempromosikan suatu barang atau jasa. Orangnya disebut `marketer`. Nah, sekarang kata ini berjodoh dengan kata `dicari`. Yang dibutuhkan adalah seorang marketer untuk melakujan kegiatan marketing.
Bagaimana pula dengan iklan "Dikontrakan sebuah rumah"?

Coba resapi arti kalimat berikut,  "Pendapat A dikontrakan dengan pendapat si B pada acara debat yang dihadiri para petinggi partai itu".

Coba pula rasakan kalimat ini,  "Di kontrakannya yang sempit dia memelihara ayam, burung merpati, kelinci dan kucing".

Pada akhirnya, "Rumahnya di Bekasi dikontrakkan, kemudian dia menyewa apartemen di daerah Pramuka".

Manakah yang di antara ketiga contoh di atas yang cocok artinya dengan `menyewakan rumah`?  Perhatikan kata dasarnya. Secara berurut,  pada ketiga kalimat di atas, kata dasar adalah : kontra, kontrakan dan kontrak. Tiga kata dengan arti yang berbeda.

Sekarang kita beralih ke konten tulisan. Pernahkah teman-teman menemukan meme seperti ini,  "Menurut kabar burung, kamu sakit. Menurut kabar, burung kamu sakit". Sebuah tanda koma bisa mengubah segalanya, pengertian kalimat secara keseluruhan.

Di sebuah perusahaan, konon terjadi kericuhan gara-gara kalimat  ini, "Kewajiban Pajak Penghasilan  25 1 milyar". Ini adalah message via WA dari Bagian Keuangan. Direksi sampai  harus menanyakan ulang ke beberapa pihak kebenaran angka 251 milyar tersebut. Usut punya usut, ternyata kewajiban Pajak Penghasilan (pasal) 25, (adalah) 1 milyar. Hanya 1 milyar, bukan 251 milyar.

 Masih tentang koma, penulis pernah menemukan satu paragraf yang berisi beberapa kalimat tunggal, tetapi kalimat tersebut dipisahkan dengan tanda koma. Mungkinkah penulisnya berpikir bahwa satu paragraf hanya boleh ada satu kalimat? Akibatnya kalimat tersebut menjadi sangat panjang. Pembacanya kehabisan nafas ketika membacanya dengan bersuara.

Satu paragraf, semestinya dibatasi oleh satu pokok pikiran, bukan oleh satu kalimat (yang kepanjangan). Satu pokok pikiran atau satu ide, dapat diuraikan dengan beberapa kalimat tunggal, atau beberapa kalimat majemuk. Contohnya,  pada paragraf ini.

Ngomong-ngomong, apakah pokok pikiran pada paragraf di atas? Alamak, semakin ke sini, semakin susah tampaknya diskusi tentang menulis. Bisa-bisa orang yang awalnya bersemangat 45 untuk menulis, jadi mundur teratur ketika diberi pertanyaan itu.

Akhirnya, untuk menjawab semua "kegalauan" di atas itulah, salah satu sebab KMO hadir. Beberapa tugas tersebut  di antaranya adalah membuat orang yang sudah berniat belajar menulis, mau mempraktikkan `menulis` itu setiap hari. Mungkin KMO juga punya tugas untuk menjadi mentor "one by one" agar benar-benar dapat memperbaiki kemampuan menulis anggotanya. Betapa beratnya tugas KMO.

Akhirnya, dengan segala keterbatasan berbahasa tulis, bangsaku tetaplah  bangsa dengan segala keindahan yang disematkan pada negerinya. Keindahan yang membekas  pada banyak foto dan tulisan. Kecantikan pada warna warna. Bahkan seorang Syahrir dalam bukunya "Out of Exile" menyatakan "I thought nothing, even felt nothing", ketika menyaksikan keindahan alam dari atas kapal, dalam perjalanan pengasingannya ke Banda Neira.

Kepada para anggota KMO, tetaplah menulis dengan manis, tentang banyak hal. Tentang anak bangsa,  juga tentang negeri yang penuh warna.

Bandung, 20 08 2017
Lisa Tinaria

Wednesday, August 16, 2017

DELMAN PULANG KANTOR

DELMAN PULANG KANTOR

"Make a wish", batinku. Aku memandangi dengan masygul benda bising yang bergerak cepat menjauhi tempatku berdiri. Derik roda kereta yang bergulir, berpadu dengan ketukan ladam di jalanan beton, bunyi pecut dan yang paling dominan, bunyi klenengan, kalung  sang kuda. Bunyi itu mengalahkan suara motor dan mobil yang lalu lalang di sekitarku. Suara indah itu mengingatkanku pada masa kecilku : naik delman di Padang.

Aku mendengar bunyi neng nong neng nong itu menjauh. "Insyaallah lain kali", kataku pada diri sendiri sambil melambaikan tangan kepada tukang ojek di seberang tempatku berdiri.

"Jam berapa biasanya delman itu lewat", kataku agak berteriak kepada si bapak tukang ojek yang mulai menginjak gas motornya.

"Sekitar jam lima lewat".

Ah, jam segitu aku baru keluar kantor. Tetapi, just make a wish.

----

Aku mengeluarkan gulungan uang kecil dari kantung depan tasku.

"Berapa, Pak?", tanyaku sambil memandang puas pada dua gelas kosong bekas tempat air kelapa muda, di meja di hadapanku.

Tiba-tiba "neng nong neng nong", berisik yang indah, menjelang dari jalan di bagian arah kananku. Dia menuju ke bagian arah kiriku. Refleks, aku balik kanan dan menyambut si delman dengan lambaian tangan, menghentikan.

"Saya ikut", teriakku girang bukan alang kepalang. Dalam hitungan detik aku kembali ke si penjual air kelapa muda, menyerahkan uang, kemudian meloncat ke atas delman diiringi tuter dari mobil yang terhenti sejenak di belakang sang delman. Cahaya lampu suasana maghrib, menyinari wajahku yang sumringah. Hendaknya pak sopir mengerti itu sehingga tak membunyikan klakson mobilnya. Aahh...

Sore tadi adalah sekitar sebulan sejak aku berkata "insyaallah" tentang delman itu.

Aku tersenyum puas pada sang kusir, seorang pemuda awal dua puluhan. Dia berani menghentikan kudanya untuk penumpang tak biasa seperti aku, yang menghentikannya di pertigaan yang sibuk.

Entah dari soal apa percakapan dimulai hingga sampailah pada soal jual beli kuda. Perjalananku singkat saja, tetapi sesuatu yang baru kutemukan.

"Ada kuda poni", katanya. "Beberapa hari yang lalu baru datang dua ekor dari Jawa Tengah. Harganya sekitar 17 juta dua ekor".

"Ha?!" aku ternganga.

"Semuanya, saya punya enam ekor sekarang".

"Untuk apa kuda itu?" tanyaku lugu.

"Untuk disewa di tempat wisata".

O, aku ingat di dekat kantorku ada kuda sewaan yang ditunggangi anak-anak. Si pawang kuda mengiringi kudanya dengan berjalan terbirit birit, di samping sang kuda yang berjalan santai.

"Ini saya juga sering mangkal di Gazibu. Besok juga ada karnaval. Ini delman, dihias".  Ya, besok adalah tanggal 17 Agustus 2017.

Aku mendengarkan dengan takzim ceritanya. Di belakangku sekarang ada sorot lampu. Baru aku sadar. Mobil itu mengiri kami dengan sabar. Jalan hanya pas untuk dua mobil sementara kendaraan cukup ramai. Aku - entahlah karena apa - tersenyum kepada sang sopir yang tak terlihat. Sekian menit berlalu, sampai akhirnya mobil itu menyalip kami.

Beberapa ruko, rumah penduduk, warung, gang, tempat cucian mobil, tempat pembuangan runtuhan bangunan, kulewati dengan delman itu.

"Saya, punya dua kereta ini", tambah  pemuda kusir, ketika aku melewati sepetak dua hamparan sawah.

Hamparan hijau  dan delman yang kutumpangi, bagiku, adalah paduan yang sesunguhnya. Bukankah begini kira-kira suasana berkendara di kampungku seabad yang lalu? Aku meluaskan pandang pada latar belakang sawah tersebut. Kerlip lampu di lereng perbukitan Kabupaten Bandung, dan bayangan pegunungan nun jauh di sana - dalam remang maghrib - membuatku terdiam sejenak. Tak lama aku bisa bermenung seperti itu.

"Saya turun di sini", kataku segera sadar. Delman hampir melewati jembatan kecil tempat aku biasa menyeberang kanal menuju perumahan tempatku tinggal.

Perjalanan itu tak jauh, kurang dari satu kilometer dari simpang Jalan Kuningan - Jalan Cibodas, menuju arah Parakan Saat. Namun memori yang tersimpan, akan sama langgengnya dengan memori naik delman di masa kecilku.

Akankah  tahun depan, aku masih bisa menikmati hamparan sawah berlatar pebukitan itu, dari atas delman? Entahlah. Mungkin sawah itu sudah berubah jadi perumahan. Mungkin kuda poni sudah semakin jarang. Mungkin juga kereta yang ditarik kuda, sudah tak ada orang yang membuatnya. Mungkin...

Bandung, 16 08 2017
Lisa Tinaria