PAKAIAN PENDEKAR HOLLYWOOD
Entah mana yang lebih sakti mandraguna, pendekar buatan lokal atau yang made in Hollywood. Dari segi nama, kupikir, Gundala Putra Petir jauh lebih pretisius ketimbang the Hulk manusia batu. Sementara nama Gatut Kaca, bagiku, tak menyiratkan kekuatan, kemegahan, atau sejenis itu.
Tetapi begitulah, kekuatan mereka lebih ditentukan oleh besarnya modal pembuatnya. Sang Putra Petir, jelas tak dikenal, dan konsekwensinya tak dilihat kesaktiannya oleh orang di Karibia sana. Sebaliknya Batman dan Superman, saking hebatnya, terkenal sampai ke pelosok, termasuk ke kampungku. Terlepas dari ketenaran akan kekuatan mereka, aku lebih tertarik untuk membahas pakaian mereka.
Adalah Superman, yang di sebuah majalah, pakaiannya sempat dibahas. Aku terpingkal pingkal membaca ulasan tentang pakaian sang jagoan ini. Kejadiannya sepuluh tahun yang lalu. Sang hero dikatakan sebagai orang yang tak tahu dress code. Pasalnya celana dalamnya dipakai di luar. Begitu argumen penulis artikel tentang pakaian itu.
Pakaian Batman pada dasarnya mirip dengan pakaian Superman. Baju menutup seluruh tubuh. Lantas untuk gagah gagahan, kedua superhero ini diberi jubah. Celana dalam Batman, entahlah, mungkin dipakai di luar juga. Tetapi berhubung warna pakaiannya hitam dari kepala hingga kaki maka tak tampak kalau Batman memakai celana dalamnya di luar.
Lantas the Hulk, sang manusia batu. Aku pernah menonton filmnya sekilas di sebuah restoran. Ketika sang hero, yang asal muasalnya adalah manusia dengan ukuran normal, berubah menjadi the Hulk, yang berukuran besar, maka ukuran celana menjadi masalah. Coba bayangkan jika celana itu sobek dalam proses membesarnya badan the Hulk. Celana pasti langsung terlepas, tercabik-cabik berantakan. Tentu saja ini akan mengganggu tugas the Hulk.
Nah untuk mengantisipasi membesarnya badan, sang hero, lantas mempersiapkan diri dengan memakai celana selutut super besar. Kasihannya, untuk sementara dia terpaksa mengikat pinggang celana itu dengan tali agar tak melorot. Begitu tubuhnya membesar, maka taa...raam..., celana itu sekarang jadi pas di badan the Hulk. Dia jadi percaya diri memainkan peran garangnya.
Demikianlah sekilas tentang pakaian pendekar atau superhero dari Hollywood.
Bandung, 19 04 2016
Lisa Tinaria
Monday, October 2, 2017
Sunday, October 1, 2017
KA BANDUNG JAKARTA 8 JAM
Aku menjejakkan kaki ke lantai yang basah. Aku dekati sebuah atm. Atm di sebelahnya sedang dibuka petugasnya.
"Mana lampunya?" aku merunduk mendekatkan kepala ke slot kartu.
"Maaf Bu, Lampu sengaja dimatikan. Tadi atm ini terendam air sebetis", kata petugas di sebelahku menerangkan. "Dipastikan dulu tidak ada konslet".
Ha? Separah itukah? Selesai mengambil uang aku check in melalui komputer d loby. Lantai loby yang aslinya cling berwarna gading, sekarang dipenuhi sisa lumpur mirip dedak kopi di dasar gelas. Seorang petugas cleaning service sedang mengoperasikan mesin bersuara keras. Mesin penyedot air itu sekaligus berfungsi sebagai pengepel lantai. Seorang supervisor mengawasinya.
Aku melewati gerbang boarding dan memasuki ruang tunggu. Tidak ada lagi tempat duduk. Untuk berdiri saja harus beradu sikut dengan penumpang lain. Semua outlet makanan, penuh. Entah orang orang itu memang perlu makan, atau sekedar duduk duduk.
Hampir pukul empat sekarang. Keretaku, menurut jadwal, lima belas menit lagi. Terdengar pengumuman berkali kali, "Penumpang KA Argo Parahiyangan untuk jadwal keberangkatan pukul 14.30, dipersilahkan menaiki kereta". Beberapa orang bergegas melewatiku. "Kami mohon maaf atas keterlambatan ini".
Aku mencoba membunuh waktu sambil berdiri. Yang paling bisa diberdayakan adalah Androidku. Group ini itu memuat gambar pohon tumbang, kanopi terbang, aliran mirip sungai di sebuah perumahan dan Stasiun Bandung yang sedang digenangi air. Oooo??? Hujan yang sekitar satu jam setelah adzan dzuhur tadi benar benar telah menimbulkan sebuah pertanyaan dari temanku "Ada apa dengan Bandung?"
Aku mencoba mencari tempat duduk dengan, apa lagi kalau bukan dengan membeli makanan di sebuah franchise. Ada satu kursi tersisa, yang kulirik ketika masuk tadi. Pilihan menu terpampang pada billboard di atas kepala pramusaji. Niatku hanya ingin duduk. Akhirnya, karena niat itu juga, menu yang terpilih, tak termakan. Aneh sekali - lebih tepat agak ngeri - aku merasakan sensasi "gizi" sajian di bawah hidungku. Rupanya duduk pun tak nyaman di situ. Piring bekas makan tidak diangkat dari meja tempat aku makan.
Berdiri dan berdiri, lalu aku coba berjalan, sekedar menggerakkan kaki. Pintu Selatan, pintu Utara sama sesaknya. Banyak orang duduk di tangga atau di atas barang bawaan mereka.
"Kami mohon maaf atas keterlambatan ini".
"Kami informasikan bahwa kereta api Argo Parahiyangan masih tertahan di Stasiun Cimahi".
" Kami informasikan bahwa kereta api Lodaya, baru akan memasuki stasiun".
"Kami sampaikan bahwa kereta lokal Bandung Raya, segera tiba dan berada di jalur 2".
Akhirnya "Para penumpang dipersilakan menaiki kereta api Argo Parahiyangan di jalur 6".
Aku memasuki gerbong yang lantainya basah seperti lantai kamar mandi plus jejak jejak bekas kaki.
"Ini air banjir masuk tadi, Bu". Seorang petugas menggerakkan alat pel-nya di bawah kakiku yang kuangkat. Dia mengerjakannya di sela sela sliweran penumpang yang naik. Kami semua ingin duduk segera setelah berdiri tak jelas di luar sana.
Kupikir kereta api akan segera bergerak, tetapi ternyata tidak. Penumpang sudah duduk manis dan sebagian mereka membuka perbekalan makanan. Tidak ada lagi penumpang yang masuk. Maghrib tiba dan aku pun sudah menunaikan sholat jamakku. Kereta tetap diam.
"Atas nama PT Kereta Api Indonesia, kamj mohon maaf karena terdapat gangguan sinyal, sehingga kereta api belum bisa diberangkatkan".
Sekitar pukul setelah tujuh, akhirnya kereta bergerak. "Perjalanan dari Stasiun Bandung ke pemberhentian terakhir, stasiun Gambir, memakai waktu tiga jam dan enam belas menit".
Sepuluh menit menjelang pergantian hari, kereta saat ini masih di Stasiun Kosambi. Beberapa kali kereta berjalan kemudian berhenti. Namun berhenti yang paling lama adalah di dekat Stasiun Cikampek.
"Ini bukan stasiun ternyata".
"Kalau berhentinya di stasiun, kita bisa merokok dan nyari makanan".
"Silakan ambil Bu" seorang petugas membagikan mie instan dalam kemasan cup. Ini adalah "harga" yang harus dibayar PT KAI atas keterlambatan karena cuaca ini. Berikutnya adalah petugas yang membagikan air minum dalam botol kemasan
"Saya boleh minta air hangat?"
"Sudah habis, Bu".
"Air panasnya ngantri di dapur" ungkap seorang penumpang yang berhasil membawa sebuah cup mengepul. Makanan atau minuman hangat setidaknya bisa menjadi pengobat kecewa dan pelawan dingin.
"Apa AC-nya nggak bisa disetel?" seorang ibu yang membawa anak mengomentari dinginnya udara di dalam gerbong. Celakanya dia memakai celana pendek selutut dan baju lengan pendek. Tampaknya Ibu inilah yang membalurkan minyak kayu putih, sehingga bau "parfum" itu berbaur dengan bau mie instan di dalam ruangan tak berventilasi itu.
Kereta bergerak lagi sekarang, setelah berhenti yang ke sekian kali. Senin sudah sekarang. Kulihat jam di pergelangan tanganku. Jam dua dini hari aku memasuki kamar hotel dengan badan melayang. Sebelum jam sembilan pagi aku sudah harus hadir di acara training di Kuningan.
Senin, 14 11 2016
Lisa Tinaria
Aku menjejakkan kaki ke lantai yang basah. Aku dekati sebuah atm. Atm di sebelahnya sedang dibuka petugasnya.
"Mana lampunya?" aku merunduk mendekatkan kepala ke slot kartu.
"Maaf Bu, Lampu sengaja dimatikan. Tadi atm ini terendam air sebetis", kata petugas di sebelahku menerangkan. "Dipastikan dulu tidak ada konslet".
Ha? Separah itukah? Selesai mengambil uang aku check in melalui komputer d loby. Lantai loby yang aslinya cling berwarna gading, sekarang dipenuhi sisa lumpur mirip dedak kopi di dasar gelas. Seorang petugas cleaning service sedang mengoperasikan mesin bersuara keras. Mesin penyedot air itu sekaligus berfungsi sebagai pengepel lantai. Seorang supervisor mengawasinya.
Aku melewati gerbang boarding dan memasuki ruang tunggu. Tidak ada lagi tempat duduk. Untuk berdiri saja harus beradu sikut dengan penumpang lain. Semua outlet makanan, penuh. Entah orang orang itu memang perlu makan, atau sekedar duduk duduk.
Hampir pukul empat sekarang. Keretaku, menurut jadwal, lima belas menit lagi. Terdengar pengumuman berkali kali, "Penumpang KA Argo Parahiyangan untuk jadwal keberangkatan pukul 14.30, dipersilahkan menaiki kereta". Beberapa orang bergegas melewatiku. "Kami mohon maaf atas keterlambatan ini".
Aku mencoba membunuh waktu sambil berdiri. Yang paling bisa diberdayakan adalah Androidku. Group ini itu memuat gambar pohon tumbang, kanopi terbang, aliran mirip sungai di sebuah perumahan dan Stasiun Bandung yang sedang digenangi air. Oooo??? Hujan yang sekitar satu jam setelah adzan dzuhur tadi benar benar telah menimbulkan sebuah pertanyaan dari temanku "Ada apa dengan Bandung?"
Aku mencoba mencari tempat duduk dengan, apa lagi kalau bukan dengan membeli makanan di sebuah franchise. Ada satu kursi tersisa, yang kulirik ketika masuk tadi. Pilihan menu terpampang pada billboard di atas kepala pramusaji. Niatku hanya ingin duduk. Akhirnya, karena niat itu juga, menu yang terpilih, tak termakan. Aneh sekali - lebih tepat agak ngeri - aku merasakan sensasi "gizi" sajian di bawah hidungku. Rupanya duduk pun tak nyaman di situ. Piring bekas makan tidak diangkat dari meja tempat aku makan.
Berdiri dan berdiri, lalu aku coba berjalan, sekedar menggerakkan kaki. Pintu Selatan, pintu Utara sama sesaknya. Banyak orang duduk di tangga atau di atas barang bawaan mereka.
"Kami mohon maaf atas keterlambatan ini".
"Kami informasikan bahwa kereta api Argo Parahiyangan masih tertahan di Stasiun Cimahi".
" Kami informasikan bahwa kereta api Lodaya, baru akan memasuki stasiun".
"Kami sampaikan bahwa kereta lokal Bandung Raya, segera tiba dan berada di jalur 2".
Akhirnya "Para penumpang dipersilakan menaiki kereta api Argo Parahiyangan di jalur 6".
Aku memasuki gerbong yang lantainya basah seperti lantai kamar mandi plus jejak jejak bekas kaki.
"Ini air banjir masuk tadi, Bu". Seorang petugas menggerakkan alat pel-nya di bawah kakiku yang kuangkat. Dia mengerjakannya di sela sela sliweran penumpang yang naik. Kami semua ingin duduk segera setelah berdiri tak jelas di luar sana.
Kupikir kereta api akan segera bergerak, tetapi ternyata tidak. Penumpang sudah duduk manis dan sebagian mereka membuka perbekalan makanan. Tidak ada lagi penumpang yang masuk. Maghrib tiba dan aku pun sudah menunaikan sholat jamakku. Kereta tetap diam.
"Atas nama PT Kereta Api Indonesia, kamj mohon maaf karena terdapat gangguan sinyal, sehingga kereta api belum bisa diberangkatkan".
Sekitar pukul setelah tujuh, akhirnya kereta bergerak. "Perjalanan dari Stasiun Bandung ke pemberhentian terakhir, stasiun Gambir, memakai waktu tiga jam dan enam belas menit".
Sepuluh menit menjelang pergantian hari, kereta saat ini masih di Stasiun Kosambi. Beberapa kali kereta berjalan kemudian berhenti. Namun berhenti yang paling lama adalah di dekat Stasiun Cikampek.
"Ini bukan stasiun ternyata".
"Kalau berhentinya di stasiun, kita bisa merokok dan nyari makanan".
"Silakan ambil Bu" seorang petugas membagikan mie instan dalam kemasan cup. Ini adalah "harga" yang harus dibayar PT KAI atas keterlambatan karena cuaca ini. Berikutnya adalah petugas yang membagikan air minum dalam botol kemasan
"Saya boleh minta air hangat?"
"Sudah habis, Bu".
"Air panasnya ngantri di dapur" ungkap seorang penumpang yang berhasil membawa sebuah cup mengepul. Makanan atau minuman hangat setidaknya bisa menjadi pengobat kecewa dan pelawan dingin.
"Apa AC-nya nggak bisa disetel?" seorang ibu yang membawa anak mengomentari dinginnya udara di dalam gerbong. Celakanya dia memakai celana pendek selutut dan baju lengan pendek. Tampaknya Ibu inilah yang membalurkan minyak kayu putih, sehingga bau "parfum" itu berbaur dengan bau mie instan di dalam ruangan tak berventilasi itu.
Kereta bergerak lagi sekarang, setelah berhenti yang ke sekian kali. Senin sudah sekarang. Kulihat jam di pergelangan tanganku. Jam dua dini hari aku memasuki kamar hotel dengan badan melayang. Sebelum jam sembilan pagi aku sudah harus hadir di acara training di Kuningan.
Senin, 14 11 2016
Lisa Tinaria
Saturday, September 30, 2017
SURYA
I take it so serious. "Jahadu" sebuah istilah yang aku suka, yang artinya jihad, berjuang.
Rasanya tak mungkin aku berangkat naik kereta jam 5 pagi dari Bandung. Sampai di Gambir, jam 8.30? Hhmm...Naik mobil travel, dengan kondisi jalanan yang unpredictable? Akhirnya kuputuskan menginap semalam di Jakarta, di sekitar tempat acara. The whole day, Jumat, aku excited bukan main. Hei, bahkan sejak Kamis malam aku sudah merasakan hormon endhorphinku meningkat. Makan banyak, bercerita banyak, tersenyum banyak. Ya Allah, inilah sebuah kekuatan dari kata "mimpi".
Pagi ini, oh, aku tidak bisa tidur lagi setelah sholat shubuh (ups, sebuah kebiasaan jelekku). Tempat acara tepat di seberang jalan dari tempat aku menginap. Aku mencari penginapan sedekat mungkin dengan "target". Alhasil aku tiba on time. Bahkan satpam belum mengijinkan aku masuk.
O, ternyata aku tidak sendiri. Mereka lebih duluan datang. Empat orang wanita muda mengerubungi sebuah meja bundar berdaun meja dari marmer putih. Aku mendekat ke mereka.
"Mba, peserta seminar juga?" sapaku.
"Iya" jawab mereka hampir serentak. Sama denganku tampaknya, semuanya berwajah sumringah. Kami berkenalan, bersalaman.
"Lia".
"Lisa".
Kekuranganku, selesai mereka menyebutkan nama, kata nama mereka langsung menguap dari kepalaku. Kecuali satu.
"Surya".
Seorang perempuan muda, usia mahasiswi, menyalamiku. Dia sedang berlutut di lantai di samping meja bundar. Dia menjulurkan tangannya dengan mantap, dari kerendahan, ke arahku yang berdiri. Aku tidak mempermasalahkan mengapa dia tidak berdiri menyambut tanganku, tangan perempuan "jelita" (jelang lima puluh tahun). Mungkin dia sedang membenahi isi tasnya.
Selesai chit chat singkat aku mengundurkan diri dari kelompok sumringah itu.
"Silakan, masuk ke ruang acara, di lantai tujuh", tiba-tiba satpam memgumumkan. Kami berjalan beriringan, berlima. Eh, berenam, ada satu gadis lagi. Aku berjalan agak duluan. Kumasuki lift yang dioperasikan seorang satpam (betapa mewahnya hidup di negeriku; naik lift saja ada petugas tukang pencet tombol lift). Empat orang rombongan sumringah, menyusul di belakangku.
Begitu aku membalikkan badan menunggu rombongan itu, aku merasa tercekat. Salah satu anggota dari kelompok empat itu berjalan mantap. Dengan posisi tetap berlutut? Bukan. Dia bisa berjalan normal, tidak menggunakan tangan sebagai penyangga tubuhnya. Dia memakai sepatu, terlihat mengintip dari balik baju "gamis"nya yang hanya sepanjang lututku. Dia tak punya tulang tungkai. Berdiri di sampingku, tingginya hanya sepinggangku.
Dia berjalan di depanku, sekarang. Kami menuju meja pendaftaran.
"Nama Mba, siapa?" tanya panitia.
"Surya".
Ibu panitia membantu mencari namanya di daftar hadir, kemudian menyodorkan lembar kertas ke hadapan mukanya. Kertas itu sekarang ada tepat di bawah dagunya, yang menyentuh tepi meja. Dia menandatanganinya dengan ceria.
Aku hanya bisa memandang terpana. Malu. Aku lirik dia yang berjalan gagah, ketika menuju meja minuman, sementara aku menandatangani daftar absen. Kupikir aku adalah manusia paling jaya pagi ini. Ternyata tidak. Dia lebih perkasa daripada aku. Mimpi kami mungkin sama besar, tetapi dia melakukannya dengan resource yang lebih hemat. Bukankah dia lebih "beruntung" daripada aku? Semoga Surya benar-benar menjadi pelita bagi orang-orang di sekitarnya.
Jakarta, Gedung Kompas Gramedia,
1 Oktober 2016
Lisa Tinaria
I take it so serious. "Jahadu" sebuah istilah yang aku suka, yang artinya jihad, berjuang.
Rasanya tak mungkin aku berangkat naik kereta jam 5 pagi dari Bandung. Sampai di Gambir, jam 8.30? Hhmm...Naik mobil travel, dengan kondisi jalanan yang unpredictable? Akhirnya kuputuskan menginap semalam di Jakarta, di sekitar tempat acara. The whole day, Jumat, aku excited bukan main. Hei, bahkan sejak Kamis malam aku sudah merasakan hormon endhorphinku meningkat. Makan banyak, bercerita banyak, tersenyum banyak. Ya Allah, inilah sebuah kekuatan dari kata "mimpi".
Pagi ini, oh, aku tidak bisa tidur lagi setelah sholat shubuh (ups, sebuah kebiasaan jelekku). Tempat acara tepat di seberang jalan dari tempat aku menginap. Aku mencari penginapan sedekat mungkin dengan "target". Alhasil aku tiba on time. Bahkan satpam belum mengijinkan aku masuk.
O, ternyata aku tidak sendiri. Mereka lebih duluan datang. Empat orang wanita muda mengerubungi sebuah meja bundar berdaun meja dari marmer putih. Aku mendekat ke mereka.
"Mba, peserta seminar juga?" sapaku.
"Iya" jawab mereka hampir serentak. Sama denganku tampaknya, semuanya berwajah sumringah. Kami berkenalan, bersalaman.
"Lia".
"Lisa".
Kekuranganku, selesai mereka menyebutkan nama, kata nama mereka langsung menguap dari kepalaku. Kecuali satu.
"Surya".
Seorang perempuan muda, usia mahasiswi, menyalamiku. Dia sedang berlutut di lantai di samping meja bundar. Dia menjulurkan tangannya dengan mantap, dari kerendahan, ke arahku yang berdiri. Aku tidak mempermasalahkan mengapa dia tidak berdiri menyambut tanganku, tangan perempuan "jelita" (jelang lima puluh tahun). Mungkin dia sedang membenahi isi tasnya.
Selesai chit chat singkat aku mengundurkan diri dari kelompok sumringah itu.
"Silakan, masuk ke ruang acara, di lantai tujuh", tiba-tiba satpam memgumumkan. Kami berjalan beriringan, berlima. Eh, berenam, ada satu gadis lagi. Aku berjalan agak duluan. Kumasuki lift yang dioperasikan seorang satpam (betapa mewahnya hidup di negeriku; naik lift saja ada petugas tukang pencet tombol lift). Empat orang rombongan sumringah, menyusul di belakangku.
Begitu aku membalikkan badan menunggu rombongan itu, aku merasa tercekat. Salah satu anggota dari kelompok empat itu berjalan mantap. Dengan posisi tetap berlutut? Bukan. Dia bisa berjalan normal, tidak menggunakan tangan sebagai penyangga tubuhnya. Dia memakai sepatu, terlihat mengintip dari balik baju "gamis"nya yang hanya sepanjang lututku. Dia tak punya tulang tungkai. Berdiri di sampingku, tingginya hanya sepinggangku.
Dia berjalan di depanku, sekarang. Kami menuju meja pendaftaran.
"Nama Mba, siapa?" tanya panitia.
"Surya".
Ibu panitia membantu mencari namanya di daftar hadir, kemudian menyodorkan lembar kertas ke hadapan mukanya. Kertas itu sekarang ada tepat di bawah dagunya, yang menyentuh tepi meja. Dia menandatanganinya dengan ceria.
Aku hanya bisa memandang terpana. Malu. Aku lirik dia yang berjalan gagah, ketika menuju meja minuman, sementara aku menandatangani daftar absen. Kupikir aku adalah manusia paling jaya pagi ini. Ternyata tidak. Dia lebih perkasa daripada aku. Mimpi kami mungkin sama besar, tetapi dia melakukannya dengan resource yang lebih hemat. Bukankah dia lebih "beruntung" daripada aku? Semoga Surya benar-benar menjadi pelita bagi orang-orang di sekitarnya.
Jakarta, Gedung Kompas Gramedia,
1 Oktober 2016
Lisa Tinaria
Sunday, August 20, 2017
BAHASA BANGSAKU
Bangsaku dengan umur 72 tahun adalah bangsa dengan kemampuan berbahasa level tertentu. Masih sulit membedakan mana bus pariwisata, mana pula pariwisata. Lalu apa pula beda rumah makan dan restoran? Pernah melihat kata `security` di punggung baju seseorang bukan? Apa artinya itu? Para pemasar properti, sering memakai kata `dikontrakan` ketimbang `dikontrakkan`. Keduanya ternyata jauh beda artinya. Beda antara yang tersirat dengan yang tersurat juga terdapat pada kata `marketing`.
Mari kita bergeser ke isi tulisan. Kadang bangsaku kerepotan dalam memilih koma atau titik, dalam menulis, sehingga bisa menimbulkan salah pengertian. Bisa juga mengakibatkan "kehabisan nafas". Nanti, akan diterangkan tentang hal ini. Lantas, lebih dalam lagi, yaitu tentang pokok pikiran. Apa pula itu? Paragraf?
"Aakhkhhh... Pening palak awak ditanya macam itu!" kata Abang yang dari Medan.
Marilah kita urai beberapa kecenderungan berbahasa di atas.
Pariwisata adalah sebuah kotak ukuran sangat besar, berjendela banyak, beroda minimal empat. Kotak tersebut bisa "menggelinding" cepat, karena memiliki mesin dan mesin tersebut dikendalikan oleh seseorang yang disebut sopir. Beberapa merek terkenal dari kotak beroda tersebut berasal dari Eropa.
Demikianlah pengertian pariwisata, jika diartikan secara membabi buta dikaitkan dengan keberadaan kata itu di bagian atas depan sebuah bis besar. Seharusnya kotak besar beroda tersebut diberi judul `Bis Pariwisata`.
Restoran diambil dari bahasa Inggris `restaurant`. Artinya rumah makan. Kalau ada di billboard sebuah bangunan, tulisan `restoran dan rumah makan` kemungkinan ada dua usaha di sana, atau satu usaha dimiliki dua orang. Atau...atau... Menurutku, satu kata saja cukup : rumah makan atau restoran (bukan pakai kata `dan`).
Security adalah seseorang dengan baju model safari berwarna biru tua atau hitam. Biasanya baju itu berlengan panjang. Tugas orang tersebut adalah menjaga keamanan di sebuah lingkungan biasanya kantor atau mall. Orang ini mudah dikenali dari tulisan `security` di bagian punggung bajunya.
Security juga berarti tempat mangkal atau tempat istirahat orang yang menjaga keamanan tersebut (bingung nggak sih, pembaca?).
Istilah yang tepat adalah `security personnel`. Security artinya sebuah kondisi di mana terdapat keamanan. Security bukan orang, bukan pula pos jaga satpam.
Marketing adalah kata yang sering disandingkan dengan kata `dicari`. Biasanya paduan dua kata itu ada di iklan lowongan kerja. Berarti `marketing` artinya orang? Bukan. Markerting adalah kegiatan untuk mempromosikan suatu barang atau jasa. Orangnya disebut `marketer`. Nah, sekarang kata ini berjodoh dengan kata `dicari`. Yang dibutuhkan adalah seorang marketer untuk melakujan kegiatan marketing.
Bagaimana pula dengan iklan "Dikontrakan sebuah rumah"?
Coba resapi arti kalimat berikut, "Pendapat A dikontrakan dengan pendapat si B pada acara debat yang dihadiri para petinggi partai itu".
Coba pula rasakan kalimat ini, "Di kontrakannya yang sempit dia memelihara ayam, burung merpati, kelinci dan kucing".
Pada akhirnya, "Rumahnya di Bekasi dikontrakkan, kemudian dia menyewa apartemen di daerah Pramuka".
Manakah yang di antara ketiga contoh di atas yang cocok artinya dengan `menyewakan rumah`? Perhatikan kata dasarnya. Secara berurut, pada ketiga kalimat di atas, kata dasar adalah : kontra, kontrakan dan kontrak. Tiga kata dengan arti yang berbeda.
Sekarang kita beralih ke konten tulisan. Pernahkah teman-teman menemukan meme seperti ini, "Menurut kabar burung, kamu sakit. Menurut kabar, burung kamu sakit". Sebuah tanda koma bisa mengubah segalanya, pengertian kalimat secara keseluruhan.
Di sebuah perusahaan, konon terjadi kericuhan gara-gara kalimat ini, "Kewajiban Pajak Penghasilan 25 1 milyar". Ini adalah message via WA dari Bagian Keuangan. Direksi sampai harus menanyakan ulang ke beberapa pihak kebenaran angka 251 milyar tersebut. Usut punya usut, ternyata kewajiban Pajak Penghasilan (pasal) 25, (adalah) 1 milyar. Hanya 1 milyar, bukan 251 milyar.
Masih tentang koma, penulis pernah menemukan satu paragraf yang berisi beberapa kalimat tunggal, tetapi kalimat tersebut dipisahkan dengan tanda koma. Mungkinkah penulisnya berpikir bahwa satu paragraf hanya boleh ada satu kalimat? Akibatnya kalimat tersebut menjadi sangat panjang. Pembacanya kehabisan nafas ketika membacanya dengan bersuara.
Satu paragraf, semestinya dibatasi oleh satu pokok pikiran, bukan oleh satu kalimat (yang kepanjangan). Satu pokok pikiran atau satu ide, dapat diuraikan dengan beberapa kalimat tunggal, atau beberapa kalimat majemuk. Contohnya, pada paragraf ini.
Ngomong-ngomong, apakah pokok pikiran pada paragraf di atas? Alamak, semakin ke sini, semakin susah tampaknya diskusi tentang menulis. Bisa-bisa orang yang awalnya bersemangat 45 untuk menulis, jadi mundur teratur ketika diberi pertanyaan itu.
Akhirnya, untuk menjawab semua "kegalauan" di atas itulah, salah satu sebab KMO hadir. Beberapa tugas tersebut di antaranya adalah membuat orang yang sudah berniat belajar menulis, mau mempraktikkan `menulis` itu setiap hari. Mungkin KMO juga punya tugas untuk menjadi mentor "one by one" agar benar-benar dapat memperbaiki kemampuan menulis anggotanya. Betapa beratnya tugas KMO.
Akhirnya, dengan segala keterbatasan berbahasa tulis, bangsaku tetaplah bangsa dengan segala keindahan yang disematkan pada negerinya. Keindahan yang membekas pada banyak foto dan tulisan. Kecantikan pada warna warna. Bahkan seorang Syahrir dalam bukunya "Out of Exile" menyatakan "I thought nothing, even felt nothing", ketika menyaksikan keindahan alam dari atas kapal, dalam perjalanan pengasingannya ke Banda Neira.
Kepada para anggota KMO, tetaplah menulis dengan manis, tentang banyak hal. Tentang anak bangsa, juga tentang negeri yang penuh warna.
Bandung, 20 08 2017
Lisa Tinaria
Bangsaku dengan umur 72 tahun adalah bangsa dengan kemampuan berbahasa level tertentu. Masih sulit membedakan mana bus pariwisata, mana pula pariwisata. Lalu apa pula beda rumah makan dan restoran? Pernah melihat kata `security` di punggung baju seseorang bukan? Apa artinya itu? Para pemasar properti, sering memakai kata `dikontrakan` ketimbang `dikontrakkan`. Keduanya ternyata jauh beda artinya. Beda antara yang tersirat dengan yang tersurat juga terdapat pada kata `marketing`.
Mari kita bergeser ke isi tulisan. Kadang bangsaku kerepotan dalam memilih koma atau titik, dalam menulis, sehingga bisa menimbulkan salah pengertian. Bisa juga mengakibatkan "kehabisan nafas". Nanti, akan diterangkan tentang hal ini. Lantas, lebih dalam lagi, yaitu tentang pokok pikiran. Apa pula itu? Paragraf?
"Aakhkhhh... Pening palak awak ditanya macam itu!" kata Abang yang dari Medan.
Marilah kita urai beberapa kecenderungan berbahasa di atas.
Pariwisata adalah sebuah kotak ukuran sangat besar, berjendela banyak, beroda minimal empat. Kotak tersebut bisa "menggelinding" cepat, karena memiliki mesin dan mesin tersebut dikendalikan oleh seseorang yang disebut sopir. Beberapa merek terkenal dari kotak beroda tersebut berasal dari Eropa.
Demikianlah pengertian pariwisata, jika diartikan secara membabi buta dikaitkan dengan keberadaan kata itu di bagian atas depan sebuah bis besar. Seharusnya kotak besar beroda tersebut diberi judul `Bis Pariwisata`.
Restoran diambil dari bahasa Inggris `restaurant`. Artinya rumah makan. Kalau ada di billboard sebuah bangunan, tulisan `restoran dan rumah makan` kemungkinan ada dua usaha di sana, atau satu usaha dimiliki dua orang. Atau...atau... Menurutku, satu kata saja cukup : rumah makan atau restoran (bukan pakai kata `dan`).
Security adalah seseorang dengan baju model safari berwarna biru tua atau hitam. Biasanya baju itu berlengan panjang. Tugas orang tersebut adalah menjaga keamanan di sebuah lingkungan biasanya kantor atau mall. Orang ini mudah dikenali dari tulisan `security` di bagian punggung bajunya.
Security juga berarti tempat mangkal atau tempat istirahat orang yang menjaga keamanan tersebut (bingung nggak sih, pembaca?).
Istilah yang tepat adalah `security personnel`. Security artinya sebuah kondisi di mana terdapat keamanan. Security bukan orang, bukan pula pos jaga satpam.
Marketing adalah kata yang sering disandingkan dengan kata `dicari`. Biasanya paduan dua kata itu ada di iklan lowongan kerja. Berarti `marketing` artinya orang? Bukan. Markerting adalah kegiatan untuk mempromosikan suatu barang atau jasa. Orangnya disebut `marketer`. Nah, sekarang kata ini berjodoh dengan kata `dicari`. Yang dibutuhkan adalah seorang marketer untuk melakujan kegiatan marketing.
Bagaimana pula dengan iklan "Dikontrakan sebuah rumah"?
Coba resapi arti kalimat berikut, "Pendapat A dikontrakan dengan pendapat si B pada acara debat yang dihadiri para petinggi partai itu".
Coba pula rasakan kalimat ini, "Di kontrakannya yang sempit dia memelihara ayam, burung merpati, kelinci dan kucing".
Pada akhirnya, "Rumahnya di Bekasi dikontrakkan, kemudian dia menyewa apartemen di daerah Pramuka".
Manakah yang di antara ketiga contoh di atas yang cocok artinya dengan `menyewakan rumah`? Perhatikan kata dasarnya. Secara berurut, pada ketiga kalimat di atas, kata dasar adalah : kontra, kontrakan dan kontrak. Tiga kata dengan arti yang berbeda.
Sekarang kita beralih ke konten tulisan. Pernahkah teman-teman menemukan meme seperti ini, "Menurut kabar burung, kamu sakit. Menurut kabar, burung kamu sakit". Sebuah tanda koma bisa mengubah segalanya, pengertian kalimat secara keseluruhan.
Di sebuah perusahaan, konon terjadi kericuhan gara-gara kalimat ini, "Kewajiban Pajak Penghasilan 25 1 milyar". Ini adalah message via WA dari Bagian Keuangan. Direksi sampai harus menanyakan ulang ke beberapa pihak kebenaran angka 251 milyar tersebut. Usut punya usut, ternyata kewajiban Pajak Penghasilan (pasal) 25, (adalah) 1 milyar. Hanya 1 milyar, bukan 251 milyar.
Masih tentang koma, penulis pernah menemukan satu paragraf yang berisi beberapa kalimat tunggal, tetapi kalimat tersebut dipisahkan dengan tanda koma. Mungkinkah penulisnya berpikir bahwa satu paragraf hanya boleh ada satu kalimat? Akibatnya kalimat tersebut menjadi sangat panjang. Pembacanya kehabisan nafas ketika membacanya dengan bersuara.
Satu paragraf, semestinya dibatasi oleh satu pokok pikiran, bukan oleh satu kalimat (yang kepanjangan). Satu pokok pikiran atau satu ide, dapat diuraikan dengan beberapa kalimat tunggal, atau beberapa kalimat majemuk. Contohnya, pada paragraf ini.
Ngomong-ngomong, apakah pokok pikiran pada paragraf di atas? Alamak, semakin ke sini, semakin susah tampaknya diskusi tentang menulis. Bisa-bisa orang yang awalnya bersemangat 45 untuk menulis, jadi mundur teratur ketika diberi pertanyaan itu.
Akhirnya, untuk menjawab semua "kegalauan" di atas itulah, salah satu sebab KMO hadir. Beberapa tugas tersebut di antaranya adalah membuat orang yang sudah berniat belajar menulis, mau mempraktikkan `menulis` itu setiap hari. Mungkin KMO juga punya tugas untuk menjadi mentor "one by one" agar benar-benar dapat memperbaiki kemampuan menulis anggotanya. Betapa beratnya tugas KMO.
Akhirnya, dengan segala keterbatasan berbahasa tulis, bangsaku tetaplah bangsa dengan segala keindahan yang disematkan pada negerinya. Keindahan yang membekas pada banyak foto dan tulisan. Kecantikan pada warna warna. Bahkan seorang Syahrir dalam bukunya "Out of Exile" menyatakan "I thought nothing, even felt nothing", ketika menyaksikan keindahan alam dari atas kapal, dalam perjalanan pengasingannya ke Banda Neira.
Kepada para anggota KMO, tetaplah menulis dengan manis, tentang banyak hal. Tentang anak bangsa, juga tentang negeri yang penuh warna.
Bandung, 20 08 2017
Lisa Tinaria
Wednesday, August 16, 2017
DELMAN PULANG KANTOR
DELMAN PULANG KANTOR
"Make a wish", batinku. Aku memandangi dengan masygul benda bising yang bergerak cepat menjauhi tempatku berdiri. Derik roda kereta yang bergulir, berpadu dengan ketukan ladam di jalanan beton, bunyi pecut dan yang paling dominan, bunyi klenengan, kalung sang kuda. Bunyi itu mengalahkan suara motor dan mobil yang lalu lalang di sekitarku. Suara indah itu mengingatkanku pada masa kecilku : naik delman di Padang.
Aku mendengar bunyi neng nong neng nong itu menjauh. "Insyaallah lain kali", kataku pada diri sendiri sambil melambaikan tangan kepada tukang ojek di seberang tempatku berdiri.
"Jam berapa biasanya delman itu lewat", kataku agak berteriak kepada si bapak tukang ojek yang mulai menginjak gas motornya.
"Sekitar jam lima lewat".
Ah, jam segitu aku baru keluar kantor. Tetapi, just make a wish.
----
Aku mengeluarkan gulungan uang kecil dari kantung depan tasku.
"Berapa, Pak?", tanyaku sambil memandang puas pada dua gelas kosong bekas tempat air kelapa muda, di meja di hadapanku.
Tiba-tiba "neng nong neng nong", berisik yang indah, menjelang dari jalan di bagian arah kananku. Dia menuju ke bagian arah kiriku. Refleks, aku balik kanan dan menyambut si delman dengan lambaian tangan, menghentikan.
"Saya ikut", teriakku girang bukan alang kepalang. Dalam hitungan detik aku kembali ke si penjual air kelapa muda, menyerahkan uang, kemudian meloncat ke atas delman diiringi tuter dari mobil yang terhenti sejenak di belakang sang delman. Cahaya lampu suasana maghrib, menyinari wajahku yang sumringah. Hendaknya pak sopir mengerti itu sehingga tak membunyikan klakson mobilnya. Aahh...
Sore tadi adalah sekitar sebulan sejak aku berkata "insyaallah" tentang delman itu.
Aku tersenyum puas pada sang kusir, seorang pemuda awal dua puluhan. Dia berani menghentikan kudanya untuk penumpang tak biasa seperti aku, yang menghentikannya di pertigaan yang sibuk.
Entah dari soal apa percakapan dimulai hingga sampailah pada soal jual beli kuda. Perjalananku singkat saja, tetapi sesuatu yang baru kutemukan.
"Ada kuda poni", katanya. "Beberapa hari yang lalu baru datang dua ekor dari Jawa Tengah. Harganya sekitar 17 juta dua ekor".
"Ha?!" aku ternganga.
"Semuanya, saya punya enam ekor sekarang".
"Untuk apa kuda itu?" tanyaku lugu.
"Untuk disewa di tempat wisata".
O, aku ingat di dekat kantorku ada kuda sewaan yang ditunggangi anak-anak. Si pawang kuda mengiringi kudanya dengan berjalan terbirit birit, di samping sang kuda yang berjalan santai.
"Ini saya juga sering mangkal di Gazibu. Besok juga ada karnaval. Ini delman, dihias". Ya, besok adalah tanggal 17 Agustus 2017.
Aku mendengarkan dengan takzim ceritanya. Di belakangku sekarang ada sorot lampu. Baru aku sadar. Mobil itu mengiri kami dengan sabar. Jalan hanya pas untuk dua mobil sementara kendaraan cukup ramai. Aku - entahlah karena apa - tersenyum kepada sang sopir yang tak terlihat. Sekian menit berlalu, sampai akhirnya mobil itu menyalip kami.
Beberapa ruko, rumah penduduk, warung, gang, tempat cucian mobil, tempat pembuangan runtuhan bangunan, kulewati dengan delman itu.
"Saya, punya dua kereta ini", tambah pemuda kusir, ketika aku melewati sepetak dua hamparan sawah.
Hamparan hijau dan delman yang kutumpangi, bagiku, adalah paduan yang sesunguhnya. Bukankah begini kira-kira suasana berkendara di kampungku seabad yang lalu? Aku meluaskan pandang pada latar belakang sawah tersebut. Kerlip lampu di lereng perbukitan Kabupaten Bandung, dan bayangan pegunungan nun jauh di sana - dalam remang maghrib - membuatku terdiam sejenak. Tak lama aku bisa bermenung seperti itu.
"Saya turun di sini", kataku segera sadar. Delman hampir melewati jembatan kecil tempat aku biasa menyeberang kanal menuju perumahan tempatku tinggal.
Perjalanan itu tak jauh, kurang dari satu kilometer dari simpang Jalan Kuningan - Jalan Cibodas, menuju arah Parakan Saat. Namun memori yang tersimpan, akan sama langgengnya dengan memori naik delman di masa kecilku.
Akankah tahun depan, aku masih bisa menikmati hamparan sawah berlatar pebukitan itu, dari atas delman? Entahlah. Mungkin sawah itu sudah berubah jadi perumahan. Mungkin kuda poni sudah semakin jarang. Mungkin juga kereta yang ditarik kuda, sudah tak ada orang yang membuatnya. Mungkin...
Bandung, 16 08 2017
Lisa Tinaria
"Make a wish", batinku. Aku memandangi dengan masygul benda bising yang bergerak cepat menjauhi tempatku berdiri. Derik roda kereta yang bergulir, berpadu dengan ketukan ladam di jalanan beton, bunyi pecut dan yang paling dominan, bunyi klenengan, kalung sang kuda. Bunyi itu mengalahkan suara motor dan mobil yang lalu lalang di sekitarku. Suara indah itu mengingatkanku pada masa kecilku : naik delman di Padang.
Aku mendengar bunyi neng nong neng nong itu menjauh. "Insyaallah lain kali", kataku pada diri sendiri sambil melambaikan tangan kepada tukang ojek di seberang tempatku berdiri.
"Jam berapa biasanya delman itu lewat", kataku agak berteriak kepada si bapak tukang ojek yang mulai menginjak gas motornya.
"Sekitar jam lima lewat".
Ah, jam segitu aku baru keluar kantor. Tetapi, just make a wish.
----
Aku mengeluarkan gulungan uang kecil dari kantung depan tasku.
"Berapa, Pak?", tanyaku sambil memandang puas pada dua gelas kosong bekas tempat air kelapa muda, di meja di hadapanku.
Tiba-tiba "neng nong neng nong", berisik yang indah, menjelang dari jalan di bagian arah kananku. Dia menuju ke bagian arah kiriku. Refleks, aku balik kanan dan menyambut si delman dengan lambaian tangan, menghentikan.
"Saya ikut", teriakku girang bukan alang kepalang. Dalam hitungan detik aku kembali ke si penjual air kelapa muda, menyerahkan uang, kemudian meloncat ke atas delman diiringi tuter dari mobil yang terhenti sejenak di belakang sang delman. Cahaya lampu suasana maghrib, menyinari wajahku yang sumringah. Hendaknya pak sopir mengerti itu sehingga tak membunyikan klakson mobilnya. Aahh...
Sore tadi adalah sekitar sebulan sejak aku berkata "insyaallah" tentang delman itu.
Aku tersenyum puas pada sang kusir, seorang pemuda awal dua puluhan. Dia berani menghentikan kudanya untuk penumpang tak biasa seperti aku, yang menghentikannya di pertigaan yang sibuk.
Entah dari soal apa percakapan dimulai hingga sampailah pada soal jual beli kuda. Perjalananku singkat saja, tetapi sesuatu yang baru kutemukan.
"Ada kuda poni", katanya. "Beberapa hari yang lalu baru datang dua ekor dari Jawa Tengah. Harganya sekitar 17 juta dua ekor".
"Ha?!" aku ternganga.
"Semuanya, saya punya enam ekor sekarang".
"Untuk apa kuda itu?" tanyaku lugu.
"Untuk disewa di tempat wisata".
O, aku ingat di dekat kantorku ada kuda sewaan yang ditunggangi anak-anak. Si pawang kuda mengiringi kudanya dengan berjalan terbirit birit, di samping sang kuda yang berjalan santai.
"Ini saya juga sering mangkal di Gazibu. Besok juga ada karnaval. Ini delman, dihias". Ya, besok adalah tanggal 17 Agustus 2017.
Aku mendengarkan dengan takzim ceritanya. Di belakangku sekarang ada sorot lampu. Baru aku sadar. Mobil itu mengiri kami dengan sabar. Jalan hanya pas untuk dua mobil sementara kendaraan cukup ramai. Aku - entahlah karena apa - tersenyum kepada sang sopir yang tak terlihat. Sekian menit berlalu, sampai akhirnya mobil itu menyalip kami.
Beberapa ruko, rumah penduduk, warung, gang, tempat cucian mobil, tempat pembuangan runtuhan bangunan, kulewati dengan delman itu.
"Saya, punya dua kereta ini", tambah pemuda kusir, ketika aku melewati sepetak dua hamparan sawah.
Hamparan hijau dan delman yang kutumpangi, bagiku, adalah paduan yang sesunguhnya. Bukankah begini kira-kira suasana berkendara di kampungku seabad yang lalu? Aku meluaskan pandang pada latar belakang sawah tersebut. Kerlip lampu di lereng perbukitan Kabupaten Bandung, dan bayangan pegunungan nun jauh di sana - dalam remang maghrib - membuatku terdiam sejenak. Tak lama aku bisa bermenung seperti itu.
"Saya turun di sini", kataku segera sadar. Delman hampir melewati jembatan kecil tempat aku biasa menyeberang kanal menuju perumahan tempatku tinggal.
Perjalanan itu tak jauh, kurang dari satu kilometer dari simpang Jalan Kuningan - Jalan Cibodas, menuju arah Parakan Saat. Namun memori yang tersimpan, akan sama langgengnya dengan memori naik delman di masa kecilku.
Akankah tahun depan, aku masih bisa menikmati hamparan sawah berlatar pebukitan itu, dari atas delman? Entahlah. Mungkin sawah itu sudah berubah jadi perumahan. Mungkin kuda poni sudah semakin jarang. Mungkin juga kereta yang ditarik kuda, sudah tak ada orang yang membuatnya. Mungkin...
Bandung, 16 08 2017
Lisa Tinaria
Saturday, April 1, 2017
SUPERMAN
"Lisa, nanti kita akan bikin kemunitas menulis di Perusahaan kita. Nah, untuk Kantor Pusat, Lisa mau kan jadi mentornya?" Ini pesan dari Vita. Organisasinya yang mengurus segala sesuatu tentang lomba menulis untuk kalangan internal, sampai akhirnya muncul namaku sebagai salah satu pemenang. Salah satu konsekwensi aku jadi pemenang adalah pertanyaan di atas.
"Siaaaaap" langsung kujawab pertanyaan itu. Tampaknya inilah dunia yang kucari: menjadi penulis dan menjadi mentor di komunitas menulis.
Aku mulai membayangkan akan ada pertemuan online dan mungkin copy darat di mana aku akan mengajar, memotivasi, mengoreksi tulisan. Senangnya.
Waktunya kapan? Kupatut - patut diriku. Pertemuan tatap muka tiada lain tiada bukan, hanya bisa kulakukan di luar hari kerja alias weekend. Lantas pertemuan online-nya kapan? Tampaknya aku belum punya gambaran.
"Lisa, saya itu nyetir delapan jam sehari". Aku bertemu Kang Benny di acara workshop kepenulisan yang diselenggarakan Gramedia, minggu lalu. Pembagian waktu menjadi salah satu bahasan kami ketika membincangkan persistensi menulis. Kang Benny, menjelaskan sekilas kegiatan hariannya. Kesimpulannya beliau punya waktu menjalankan peran sebagai mentor di group menulis yang aku jadi anggotanya, setelah lewat tengah malam.
Aku langsung membayangkan tawaran Vita tentang "jabatan" sebagai pembina komunitas menulis di kantor. Aku mulai mengukur diri. Jam 8 tet aku sdh harus duduk di belakang mejaku. Aku tipikal pekerja yang fokus di kantor pada jam kerja untuk meminimalisir bekerja di hari Sabtu (walau kadang itu harus terjadi juga). Berarti selama jam kerja aku tidak bisa berfungsi sebagai mentor menulis. Biasanya aku bekerja hingga adzan magrib. Setelah sholat maghrib, baru aku pulang.
Sesampai di rumah aku mempersiapkan makan malam, makan, ngobrol sebentar, mandi, mencuci, sholat, tilawah, dan, dan akhirnya ? Oh, sudah lewat jam sembilan malam. Inilah saatnya aku bisa menulis atau membaca berita di sosmed. Nonton TV? Sudah lama aku tak punya TV. Tujuannya adalah agar aku efektif dalam mengatur waktu.
Melewati jam 10, mataku mulai lima watt. Kadang aku bisa bertahan sampai jam sebelas dengan konsekwensi aku ngantuk berat setelah shubuh. Pagi hari aku sudah bersiap ke kantor, termasuk mempersiapkan sarapan dan kadang bekal makan siang. Lalu, kapan aku bisa jadi mentor menulis?
Cita citaku sebagai penulis sudah kutulis di langit. Rasanya malu kalau aku menghapusnya. Konsekwensinya sudah pula kuhitung, termasuk alokasi waktu harian dan mingguanku. Namun, ketika membandingkan diriku dengan Kang Benny, aku agak sangsi dengan kemampuanku. Tampaknya Kang Benny mirip Superman dalam hal ini.
Bandung, 08 10 2016
Lisa Tinaria
"Lisa, nanti kita akan bikin kemunitas menulis di Perusahaan kita. Nah, untuk Kantor Pusat, Lisa mau kan jadi mentornya?" Ini pesan dari Vita. Organisasinya yang mengurus segala sesuatu tentang lomba menulis untuk kalangan internal, sampai akhirnya muncul namaku sebagai salah satu pemenang. Salah satu konsekwensi aku jadi pemenang adalah pertanyaan di atas.
"Siaaaaap" langsung kujawab pertanyaan itu. Tampaknya inilah dunia yang kucari: menjadi penulis dan menjadi mentor di komunitas menulis.
Aku mulai membayangkan akan ada pertemuan online dan mungkin copy darat di mana aku akan mengajar, memotivasi, mengoreksi tulisan. Senangnya.
Waktunya kapan? Kupatut - patut diriku. Pertemuan tatap muka tiada lain tiada bukan, hanya bisa kulakukan di luar hari kerja alias weekend. Lantas pertemuan online-nya kapan? Tampaknya aku belum punya gambaran.
"Lisa, saya itu nyetir delapan jam sehari". Aku bertemu Kang Benny di acara workshop kepenulisan yang diselenggarakan Gramedia, minggu lalu. Pembagian waktu menjadi salah satu bahasan kami ketika membincangkan persistensi menulis. Kang Benny, menjelaskan sekilas kegiatan hariannya. Kesimpulannya beliau punya waktu menjalankan peran sebagai mentor di group menulis yang aku jadi anggotanya, setelah lewat tengah malam.
Aku langsung membayangkan tawaran Vita tentang "jabatan" sebagai pembina komunitas menulis di kantor. Aku mulai mengukur diri. Jam 8 tet aku sdh harus duduk di belakang mejaku. Aku tipikal pekerja yang fokus di kantor pada jam kerja untuk meminimalisir bekerja di hari Sabtu (walau kadang itu harus terjadi juga). Berarti selama jam kerja aku tidak bisa berfungsi sebagai mentor menulis. Biasanya aku bekerja hingga adzan magrib. Setelah sholat maghrib, baru aku pulang.
Sesampai di rumah aku mempersiapkan makan malam, makan, ngobrol sebentar, mandi, mencuci, sholat, tilawah, dan, dan akhirnya ? Oh, sudah lewat jam sembilan malam. Inilah saatnya aku bisa menulis atau membaca berita di sosmed. Nonton TV? Sudah lama aku tak punya TV. Tujuannya adalah agar aku efektif dalam mengatur waktu.
Melewati jam 10, mataku mulai lima watt. Kadang aku bisa bertahan sampai jam sebelas dengan konsekwensi aku ngantuk berat setelah shubuh. Pagi hari aku sudah bersiap ke kantor, termasuk mempersiapkan sarapan dan kadang bekal makan siang. Lalu, kapan aku bisa jadi mentor menulis?
Cita citaku sebagai penulis sudah kutulis di langit. Rasanya malu kalau aku menghapusnya. Konsekwensinya sudah pula kuhitung, termasuk alokasi waktu harian dan mingguanku. Namun, ketika membandingkan diriku dengan Kang Benny, aku agak sangsi dengan kemampuanku. Tampaknya Kang Benny mirip Superman dalam hal ini.
Bandung, 08 10 2016
Lisa Tinaria
BANGUN KESIANGAN
Bangun kesiangan, memang aku niatkan. Nah, gawat kan? Ya, tetapi khusus hari libur saja. Sejujurnya, apa pun alasannya, sengaja bangun siang tidaklah baik.
Jika weekend tiba, aku terbiasa bangun terlambat. Tubuhku sudah tahu, jam berapa bangun di hari kerja dan jam berapa ketika weekend. Pada dasarnya ini adalah kompensasi atas ketatnya jadwalku di hari kerja. Demi mengakali rutinitasku agar berlangsung seefektif mungkin, aku niatkan tidak menonton TV. Dan cara yang paling jitu untuk tidak terganggu TV adalah dengan tidak memilikinya!
Konsep bangun siang ini dipakai juga oleh adikku yang jadi wanita pekerja di Jakarta. Tentu jadwal hidupnya di kota yang lebih kejam dari ibu tiri itu, jauh lebih ketat. Konsekwensinya dia sangat kesal kalau dibangunkan pagi di hari weekend. Dia cenderung menghindari kegiatan di pagi hari weekend, seperti olahraga. Membeli sarapan pun tidak. Dia langsung "have brunch" (singkatan atau gabungan dari breakfast and luch). menjelang siang.
Kami selalu mudik ke Padang ketika Lebaran. Hhhmm...liburan yang nikmat di kota dengan "slow pace of life", plus makanan unik yang kami masak bersama.
Suatu pagi, bertahun tahun yang lalu, ketika kami sedang tidur di pagi hari, terdengar ketukan di pintu kamar. "Lisa, Imon, bangun, sudah jam enam lewat ini". Suara Papa memecah keheningan pagi itu. Kami memang berencana pulang ke kampung pada hari lebaran ke tiga. Tetapi kan...?
"Jam berapa ini? " adikku bergumam tak jelas, sambil turun tempat tidur. Mataku mulai terbuka. Dia membuka pintu kamar dan di pintu berdiri Papa sudah dengan pakaian rapi.
"Ayo siap siap" Papa dengan perintahnya. Papa selalu always on time.
"Tetapi kita kan rencananya berangkat jam setengah delapan?" komplain Imon pada Papa.
"Jangan terlambat" kalimat Papa memang biasa kayak kalimat panitia Opspek.
Imon kembali ke tempat tidur, duduk ditepinya. "Apa artinya uang, kalau waktu bangun kita sama aja ketika di Jakarta dengan ketika liburan di Padang" sungutnya. Aku mengiyakannya sambil malas mendudukkan badan.
"Iya, kita sudah keluar uang banyak untuk membeli tidur siang ini" kataku mengompori.
"Emangnya Papa ngejar apa sih" Imon masih kesal. "Rumah gadang gak akan lari" Imon mengerutu sesukanya.
"Hhmm...." aku mengiyakan sekenanya. Entah dari mana dia dapat argumen tentang rumah gadang itu. Ada ada saja.
"Nanti kubilang ke Papa" katanya bangkit, berdiri.
Benar, kami semua berdiri di teras rumah, akan berangkat, ketika Imon mulai angkat suara.
"Pa, besok kami jangan dibangunkan pagi pagi ya, walaupun besok kita juga mau jalan jalan". Imon langsung to the point. "Tidur larut malam, bangun siang. kan mahal bagi kami. Masak sama aja, jadwal bangun di Jakarta dengan jadwal di Padang. Alangkah nggak berharganya uang".
"Hayo kita berangkat"
"Ha!? Papa denger nggak siiiih....." gerutu Imon sambil tersandung batu di jalan setapak menuju pintu pagar. Untung dia tidak jatuh. Papa melenggang santai, duluan.
Begitulah, beda generasi. beda pandang tentang bangun siang.
Bandung, 16 Okt 2015
Lisa Tinaria
Bangun kesiangan, memang aku niatkan. Nah, gawat kan? Ya, tetapi khusus hari libur saja. Sejujurnya, apa pun alasannya, sengaja bangun siang tidaklah baik.
Jika weekend tiba, aku terbiasa bangun terlambat. Tubuhku sudah tahu, jam berapa bangun di hari kerja dan jam berapa ketika weekend. Pada dasarnya ini adalah kompensasi atas ketatnya jadwalku di hari kerja. Demi mengakali rutinitasku agar berlangsung seefektif mungkin, aku niatkan tidak menonton TV. Dan cara yang paling jitu untuk tidak terganggu TV adalah dengan tidak memilikinya!
Konsep bangun siang ini dipakai juga oleh adikku yang jadi wanita pekerja di Jakarta. Tentu jadwal hidupnya di kota yang lebih kejam dari ibu tiri itu, jauh lebih ketat. Konsekwensinya dia sangat kesal kalau dibangunkan pagi di hari weekend. Dia cenderung menghindari kegiatan di pagi hari weekend, seperti olahraga. Membeli sarapan pun tidak. Dia langsung "have brunch" (singkatan atau gabungan dari breakfast and luch). menjelang siang.
Kami selalu mudik ke Padang ketika Lebaran. Hhhmm...liburan yang nikmat di kota dengan "slow pace of life", plus makanan unik yang kami masak bersama.
Suatu pagi, bertahun tahun yang lalu, ketika kami sedang tidur di pagi hari, terdengar ketukan di pintu kamar. "Lisa, Imon, bangun, sudah jam enam lewat ini". Suara Papa memecah keheningan pagi itu. Kami memang berencana pulang ke kampung pada hari lebaran ke tiga. Tetapi kan...?
"Jam berapa ini? " adikku bergumam tak jelas, sambil turun tempat tidur. Mataku mulai terbuka. Dia membuka pintu kamar dan di pintu berdiri Papa sudah dengan pakaian rapi.
"Ayo siap siap" Papa dengan perintahnya. Papa selalu always on time.
"Tetapi kita kan rencananya berangkat jam setengah delapan?" komplain Imon pada Papa.
"Jangan terlambat" kalimat Papa memang biasa kayak kalimat panitia Opspek.
Imon kembali ke tempat tidur, duduk ditepinya. "Apa artinya uang, kalau waktu bangun kita sama aja ketika di Jakarta dengan ketika liburan di Padang" sungutnya. Aku mengiyakannya sambil malas mendudukkan badan.
"Iya, kita sudah keluar uang banyak untuk membeli tidur siang ini" kataku mengompori.
"Emangnya Papa ngejar apa sih" Imon masih kesal. "Rumah gadang gak akan lari" Imon mengerutu sesukanya.
"Hhmm...." aku mengiyakan sekenanya. Entah dari mana dia dapat argumen tentang rumah gadang itu. Ada ada saja.
"Nanti kubilang ke Papa" katanya bangkit, berdiri.
Benar, kami semua berdiri di teras rumah, akan berangkat, ketika Imon mulai angkat suara.
"Pa, besok kami jangan dibangunkan pagi pagi ya, walaupun besok kita juga mau jalan jalan". Imon langsung to the point. "Tidur larut malam, bangun siang. kan mahal bagi kami. Masak sama aja, jadwal bangun di Jakarta dengan jadwal di Padang. Alangkah nggak berharganya uang".
"Hayo kita berangkat"
"Ha!? Papa denger nggak siiiih....." gerutu Imon sambil tersandung batu di jalan setapak menuju pintu pagar. Untung dia tidak jatuh. Papa melenggang santai, duluan.
Begitulah, beda generasi. beda pandang tentang bangun siang.
Bandung, 16 Okt 2015
Lisa Tinaria
Subscribe to:
Posts (Atom)